
“Ma, Papa ke mana?”
“Papa ada rapat dan mungkin ponselnya tertinggal di kantor. Ada apa, Sayang?”
“Aku ingin tahu tentang Joseph? Apa dia punya anak selain Jonathan?”
“Dari mana kamu tahu?” Ibu Ariyanti panik.
“Mendengar reaksi Mama, aku yakin kalau Jonathan memiliki saudara kembar. Di mana saudara kembarnya itu dan apa ini ada hubungan dengan perselisihan kalian dengan Joseph?”
Ibu Ariyanti terdiam sejenak kemudian, “Sayang, berjanjilah kamu tidak akan melakukan sesuatu yang membahayakanmu!”
“Mama tenang saja! Aku akan menjaga diriku sebelum dendamku terbalaskan!” batin Sastri.
“Nak!” panggil Ibu Ariyanti kembali.
“Ceritakan, Ma! Aku ingin tahu semuanya.”
Ibu Ariyanti menceritakan semua masa lalu yang terjadi antara mereka dan keluarga Joseph terutama tentang saudara kembar Jonathan dan ibunya yang lari dari rumah Joseph.
Sementara di sebuah apartemen, Adit tersenyum penuh kemenangan saat orang suruhannya menyampaikan bahwa saat ini Ibu Ariyanti sedang menerima telepon dari nomer yang berasal dari Singapura.
“Ck, Singapura selalu menjadi tempat yang tepat untuk bersembunyi.”
“Lacak nomer tersebut!”
“Tidak bisa, Tuan! Saya hanya bisa mengetahui asal nomer tapi tidak dengan posisi nomer tersebut. Pemilik nomer memasang pengaman untuk mencegah peretasan.” Adit mengeram kesal lalu mematikan ponselnya kemudian menghubungi seseorang.
“Cari orang ini di seluruh Singapura!” sebuah pesan berisi foto telah Adit kirimkan ke orang suruhannya.
“Retas CCTV di apartemen dan cari sesuatu yang kira-kira bisa menjadi petunjuk seperti pemesanan makanan. Jika dia sedang bersembunyi pasti dia akan memesan makanan dari pada keluar.”
“Baik!”
“Singapura itu kecil, Sastri. Kita pasti akan segera bertemu.” Gumam Adit menatap keluar jendela.
Seminggu kemudian, suasana di sebuah ruang rapat sebuah hotel terkenal terlihat kasak-kusuk oleh para petinggi perusahaan yang memiliki saham di jaringan hotel milik Melik. Pagi ini, mereka harus berkumpul karena pemilik jaringan hotel yang berpusat di Dubai datang secara langsung untuk menemui mereka terutama ingin menyampaikan permintaan maaf karena kelalaian putranya telah membuat kecewa para pemegang saham. Mereka yang telah membeli dengan harga mahal merasa kecewa saat mengetahui jika Melik telah menjual saham dengan harga paling rendah kepada seseorang di luar negeri termasuk Joseph. Pria itu ikut hadir di sana karena ingin bertemu dengan Tuan Mustafa sekaligus ingin melihat siapa yang sudah membeli saham tersebut. Joseph juga membawa Jonathan di sampingnya.
Tuan Mustafa di dampingi Melik dan asistennya memasuki ruangan pertemuan yang langsung disambut oleh pemegang saham dengan cara berdiri.
__ADS_1
“Silakan duduk, Tuan-tuan!” Tuan Melik mempersilakan para pegang saham duduk kembali.
“Kedatangan saya belum terlambat, bukan?” suara seorang wanita menyita perhatian dari semua undangan yang hadir termasuk Tuan Moestafa selaku tuan rumah.
Wanita itu langsung berdiri di depan Tuan Moestafa lalu mengulurkan tangannya seraya tersenyum cantik, “Saya, Viona. Pemilik dua persen saham yang baru saya beli dari JN Corp.”
Semua mata terkejut melihat wanita cantik dan anggun itu berdiri di depan mereka termasuk Tuan Moestafa yang tidak bisa melihat wanita cantik seperti Viona. Sastri tahu kelemahan lawannya hingga Viona menjadi pancingan paling ampuh untuk membuat para penggila wanita itu hancur oleh keserakahan mereka sendiri.
Di tempatnya, Jonathan memperhatikan dengan saksama ekspresi wanita itu dalam diam. Sementara Melik, walaupun merasa kesal tapi penampilan Viona yang elegan serta berkelas telah membuat Melik terobsesi untuk memiliki wanita tersebut.
“Saya, Moestafa pemilik jaringan hotel ini. Selamat datang dan ini pertama kalinya kita bertemu. Semoga kerja sama kita semakin baik setelah ini. Silakan duduk!” ucap Tuan Moestafa ramah dan lembut.
Rapat pemegang saham itu dimulai dengan permintaan maaf dari Tuan Moestafa selaku pemilik jaringan hotel dan pengakuan bahwa semua yang terjadi akibat kecerobohan putranya yang saat itu sedang mabuk cinta hingga lalai saat membaca kontrak kerja sama hingga berakhir seperti ini. Setelah itu, mereka juga membahas tentang pendapatan yang didapatkan hotel selama setahun terakhir dan hasilnya memang membuat para pemegang saham kaya tampa bekerja. Sebagai permintaan maaf, Tuan Moestafa akan menambahkan satu persen dari penghasilan tahun ini ke rekening para pemegang saham dan tentu saja keputusan itu disambut baik oleh para pemegang saham.
Rapat berakhir tepat jam 12 siang kemudian, Tuan Moestafa mengundang para pemegang saham untuk menikmati jamuan yang sudah ia siapkan di ruang sebelah. Begitulah cara kerja Tuan Moestafa untuk mengakhiri kekecewaan dari para pemegang saham.
“Nona Viona, apakah setelah ini kita bisa bicara di kantor saya sebentar?”
“Oh tentu, Tuan. Bagaimana saya menolak permintaan seorang Tuan Moestafa.”
“Tolong jangan berlebihan, Nona. Saya hanya manusia biasa.”
“Tapi kemampuan Tuan sudah terdengar ke penjuru dunia.” Viona menatap mata Tuan Moestafa dengan tatapan penuh kekaguman dan senyum menggoda membuat Melik yang melihat tingkah laku ayahnya bertambah kesal.
“Tuan juga sama, bukan?” Joseph melirik kesal pada pemuda di depannya.
“Kenapa kamu begitu bodoh sampai menjual saham semurah itu.”
“Sudah kukatakan kalau aku dijebak. Kelaurga mereka itu mafia dan sangat pintar memanfaatkan situasi.”
“Kapan kita akan mengunjungi vila itu? Kita harus membalaskan dendam, bukan?”
“Tentu. Aku tidak sabar ingin mengambil emas di ruang bawah tanah itu.”
“Setelah ini, kita akan berangkat ke sana.”
“Oke!”
Mereka berdua memperhatikan wanita itu dari jauh. Sementara Viona dengan santainya berjalan untuk mengambil makanan lalu langkahnya membawa Vional bertemu dengan Jonathan.
__ADS_1
“Kita bertemu lagi.” Ucap Viona tiba-tiba.
Sementara Jonathan menanggapi santai seraya menyesap minumannya. “Apa kamu mengikutiku sampai ke sini?”
“Tidak! Ini murni kebetula.”
“Sayangnya aku tidak percaya! Apa pun yang kamu rencanakan, aku harap kamu tidak salah jalan.”
“Tentu. Aku memikirkan ini dengan baik.” Jonathan menatap Viona penuh selidik.
Joseph datang menghampiri mereka, “Nona Viona, salam kenal. Saya, Joseph. Pemilik dari Jo Group.”
“Oh, saya tahu itu! Anda sangat terkenal di dunia bisnis jadi tidak mungkin saya tidak mengenal anda, Tuan Joseph.”
“Saya anggap ini sebagai pujian. Bagaimana kalau kita bertemu setelah ini? Apakah anda berkenan?”
“Tentu! Saya ini pengangguran, Tuan Joseph. Jadi waktu saya tersisa banyak untuk memenuhi undangan seorang Tuan Joseph.” Jonathan pergi meninggalkan mereka.
Joseph dan Viona sama-sama melirik kepergian Jonathan. “Sepertinya hubungan kalian tidak terlalu baik.” Tebak Viona membuat Joseph terkekeh.
“Ya begitulah. Jadi bagaimana dengan undangan saya?”
“Tentukan saja tempat dan waktunya lalu kabari saya. Ini kartu nama saya!” Viona memberikan selembar kartu nama ke tangan Joseph.
Dreet….
“Sebentar, Tuan. Saya harus menjawab panggilan ini.”
“Silakan!”
“Bagaimana hasilnya?”
“…”
“Pasang harga lebih tinggi dari mereka! Aku tidak mau tahu. Patung naga emas itu harus menjadi milikku!”
Tutttt…
“Menarik!”
__ADS_1
***
LIKE...KOMENN...