Dendam Si Petugas Pajak

Dendam Si Petugas Pajak
Penyamaran Adit...


__ADS_3

“Bos, Bapak Mahardikan dengan asistennya berangkat ke Bali tadi malam.”


“Hubungi orangmu dan ikuti mereka dan laporkan padaku sedetil mungkin.” Titah Adit pada orang suruhannya melalui saluran telepon.


“Pesankan aku tiket ke Bali!” titahnya pada sang asisten.


Adit segera keluar dari kantornya lalu pergi menuju bandara. Ia ingin sekali menemui Sastri dan memberi pelajaran pada wanita itu. Sementara di Bali, Bapak Mahardika dan Danu langsung pergi ke sebuah penginapan mewah yang sudah dipesan oleh Danu.


“Papa sudah sampai di Bali lalu apa selanjutnya?” tanya Bapak Mahardika pada sang putri melalui saluran telepon.


“Tunggu dulu, Pa. Istirahat saja dulu sambil menunggu aksi selanjutnya.”


“Kenapa Papa merasa kamu yang jadi bosnya di sini.” Sindir Bapak Mahardika.


Sastri terkekeh, “Papa selamanya akan menjadi bos untuk aku. Orang suruhan Adit sedang memantau Papa jadi Istirahatlah dulu. Adit juga pasti akan menyusul Papa ke Bali. Dia sangat ingin menemuiku untuk membalas dendamnya.”


“Baiklah kalau begitu. Papa mau tidur dulu. Kalau tahu begini lebih baik Papa mengajak Mamamu.”


“Tenang, Mama bakal menyusul kok. Tadi aku sudah mengatakan pada Mama dan aku membuat drama sedikit dengan mengatakan jika Papa akan bertemu dengan Nyonya Muda Winata dan sebentar lagi pesawat Mama akan lepas landas menuju Bali dan di sana juga ada Adit.”


“Mamamu pasti akan mengamuk begitu sampai di sini.”


“Justru itu yang aku mau untuk mengecoh lawan. Aku ingin perjalanan ini berubah menjadi perjalanan berupa kejutan dari Bapak Mahardika untuk istrinya. Jadi tolong sukseskan apa yang sudah aku dan Mas Danu persiapkan di sana.”


“Kalian ini memang anak durhaka-“

__ADS_1


“Bye, Pa! Thanks.”


Tuttt….


Sastri segera menutup teleponnya sedangkan Danu langsung menghilang dari ruangan tersebut. Sementara di pesawat, Adit yang sudah mengenal sosok ibu dari Sastri tersenyum penuh kemenangan tatkala mendapat kursi di samping Ibu Ariyanti.


“Nyonya Mahardika,” sapanya membuat Ibu Ariyanti menoleh dan tersenyum.


“I-iya. Maaf-“


“Oh, perkenalkan saya Angga, salah satu rekan bisnis Bapak Mahardika. Nyonya sendiri saja?”


“I-iya. Suami saya sedang di Bali dan beliau meminta saya untuk datang menemani.” Ucap Ibu Ariyanti tergagap karena ini baru pertama kalinya ia berbohong pada relasi suaminya.


Adit memang cerdas dalam menakluk hati ibu-ibu seperti Ibu Ariyanti. Selama perjalanan, tidak sedikitpun ia menyinggung tentang Sastri. Adit lebih banyak bertanya tentang masa muda Bapak Mahardika saat merintis sebuah bisnis.


“Mempertahankan lebih sulit dari pada membangun. Hanya orang-orang yang memiliki kematangan secara akal pikiran yang akan berhasil bertahan.” Ujar Ibu Ariyanti.


“Saya setuju dengan itu, Bu.” Ibu Ariyanti sama sekali tidak mengenal Adit karena penampilan Adit sangat berbeda dari sebelumnya. Dengan menggunakan wig, Adit terlalu sempurna untuk diketahu sebagai orang yang pernah mengenakan rompi oren petugas PPATK.


“Bapak Angga sendiri sudah mulai berbisnis dari umur berapa?” tanya Ibu Ariyanti.


“Setelah selesai kuliah, Nyonya. Tapi saya tidak terlibat langsung. Hanya berinvestasi di beberapa perusahaan saja.”


“Wah, itu artinya Bapak Angga ini termasuk salah satu milyader muda negeri ini ya. Salut saya sama anak muda yang sudah berpikiran maju.”

__ADS_1


“Nyonya terlalu berlebihan. Saya harus berusaha keras untuk sampai ke posisi itu apalagi saya tidak terlahir dari keluarga seperti Nyonya dan Bapak Mahardika. Saya harus memulai sendiri dari nol sementara anak Bapak dan Nyonya tidak perlu bersusah payah mendapatkan posisi itu. Sudah pasti warisan kalian akan jatuh ke tangannya. Sementara saya? Saya tidak memiliki kelebihan itu.”


“Anda salah, Pak Angga. Putri kami malah tidak sedikitpun mau berurusan dengan perusahaan. Dia memiliki dunianya sendiri dan dia bahagia dengan itu semua. Kami juga tidak memaksanya untuk mengikuti Bapak karena percuma saja kalau dia tidak punya keinginan. Yang ada bukan maju malah hancur itu perusahaan.”


Sudut bibir Adit tertarik, “Bapak Mahardikan selalu menyangjung kecerdasan putrinya di atas rata-rata jadi sangat tidak mungkin kalau dia akan membuat perusahaan hancur. Hanya saja mungkin dia sedang ingin bermain menikmati masa muda. Saya juga begitu tapi ketika umur sudah menginjak angka 30 baru sadar jika hidup tidak bisa dipakai untuk terus bermain.”


“Benar! Putri saya memang masih ingin bermain. Saya sudah menasehatinya berulang kali tapi tetap saja dia tidak mau membantu ayahnya di perusahaan.”


“Saya yakin dengan kecerdasannya, dia akan mendapatkan uang tanpa harus pusing memikirkan perusahaan.”


“Iya, dia memang mendapatkan uang tapi untuk apa? Yang kami butuhkan adalah penerus perusahaan bukannya pegawai dari perusahaan lain. Dia bekerja mati-matian di perusahaan orang bahkan di berbagai perusahaan besar tapi hanya sebatas karyawan. Sementara di perusahaan ayahnya, dia bisa menjadi CEO.” Ibu Ariyanti tetaplah seorang wanita yang mudah terpancing dengan apa pun tanpa sadar telah membuka riwayat pekerjaan Sastri pada Adit.


“Dengan kepintarannya saya yakin dia tidak hanya jadi pegawai biasa. Dia pasti mendapatkan posisi khusus di perusahaan tempatnya bekerja, bukan?”


Ibu Ariyanti menghela nafasnya, “Posisi khusus apa kalau cuma menghitung uang perusahaan orang. Dia itu selalu mendapatkan posisi yang sama di setiap perusahaan yaitu bagian keuangan. Apanya yang posisi khusus? Jujur saja, kami sudah lelah menasehatinya. Tiga tahun ia habiskan keluar masuk dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain di berbagai negara. Entah apa yang mau dia cari dengan bekerja seperti itu? Saya sampai kehabisan kata-kata melihat tingkahnya. Apalagi saat ini dia justru memilih menjadi freelancer di luar negeri. Bisa Bapak Angga bayangkan apa tujuannya? Freelancer itu kan tidak pasti. Kalau ada kerja ya ada uang lalu setelah itu apa? Tidak ada jenjang karir di dalamnya untuk mengukur kemampuan diri. Makanya saya keberatan tapi apalah daya, semua sudah pilihannya dan tidak bisa kami ganggu gugat.” Ibu Ariyanti terlihat sedih.


“Nyonya, percaya sama saya. Putri Nyonya sedang mengejar keinginannya saat ini. Setelah semua keinginannya berhasil ia dapatkan maka yakinlah kalau putri Nyonya pasti akan segera kembali dan mengambil alih perusahaan. Apalagi lambat laut Bapak Mahardika juga pasti membutuhkan pengganti dan kasih sayangnya pada putri kalian yang akan membuat dia kembali untuk menggantikan ayahnya.”


“Bapak benar! Kalau Ayahnya sudah lelah pasti dia akan kembali. Terima kasih sudah mau mendengar cerita saya, Pak.”


“Panggil saja Angga, Nyonya. Saya belum setua itu untuk mendapat kehormatan dipanggil Bapak oleh Nyonya.” Ibu Ariyanti terkekeh.


“Bagaimana kalau kita bertemu di Bali? Apa Nak Angga keberatan?”


“Tentu, Nyonya. Saya tidak mungkin keberatan menerima ajakan dari Nyonya.”

__ADS_1


***


LIKE DAN KOMEN SEBANYAKNYA...TERIMA KASIH


__ADS_2