
Sastri sedang serius membaca profil Nyonya Muda Winata yang baru saja diberikan oleh Bimo. Danu telah mengirimkan nama Diandra pada Sastri dan menceritakan apa yang sudah terjadi di Indonesia.
“Dia wanita yang licik, aku yakin ada tujuan lain dibalik kerja sama dia dengan ayahku.” Tukas Sastri tanpa menatap Bimo.
“Dan hanya satu nama yang aku curigai, Joseph!!!”
“Aku juga yakin karena server perusahaannya susah dibobol.” Sastri menatap Bimo bingung.
“Lalu info ini kamu dapat dari mana?”
“Putra tiri sang Nyonya Moda Winata.” Ucap Bimo menaik turunkan alisnya.
Sebelum menyelidiki tentang Diandra, Bimo lebih dulu menelusuri tentang keluarga Winata dan akhirnya menemukan kejanggalan tentang pembagian warisan yang jatuh ke tangan mereka lebih sedikit dari pada Nyonya Muda.
“Apa kita perlu bertemu mereka?” tanya Bimo.
Sastri terlihat berpikir beberapa saat, “Lacak mereka! Aku ingin bertemu langsung. Kita harus bergerak hati-hati. Aku takut jika si Nyonya Muda ini masih mengawasi dua putra tirinya untuk jaga-jaga.”
“Kak, kenapa otakmu sangat cerdas. Harusnya Kakak mempelajari IT, aku yakin Kakak pasti jadi peretas terkenal.”
“Aku takut kamu gagal bersaing, Bim.” Bimo mencebikkan bibirnya.
Bimo kembali berkutat dengan laptopnya sementara Sastri sudah mulai merancang berbagai rencana untuk menghancurkan semua antek-antek Joseph.
Ting...
Sebuah pemberitahuan masuk ke ponselnya yang berisi sebuah foto di mana Adit, Andrew dan Melik sedang bersama dan tak lama setelah itu datang Kamisha dan Delia.
“Mereka sedang membicarakan tentang Lady Jasmine.” Sebuah pesan kembali masuk ke ponsel Sastri.
“Waktunya melepas umpan!” gumam Sastri lalu langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
“Hallo, Lady Jasmin. Sudah waktunya pertunjukan.”
Sebulan kemudian...
Seorang wanita cantik terlihat cantik dengan pakaian pantainya sambil berjemur di pinggir kolam renang sebuah hotel.
“Hai, kita kembali bertemu.” Sapa Melik pada wanita yang masih terbaring seksi dengan kacamata hitamnya. Dari balik kacamata hitamnya, Melik memindai setiap jengkal tubuh Lady Jasmin yang menggunakan kardigan panjang transparan berwarna putih hingga menampakkan dua benda berwarna merah muda yang menutupi asetnya. Berkali-kali Melik menelan saliva ketika gerakan-gerakan sensual yang dilakukan Lady Jasmin membuatnya merasa sesak di dalam celananya seperti saat Lady Jasmin menaikkan sebelah pahanya hingga kardigan yang menutupi kain segitiga tersingkap dan menampilkan paha mulus dari wanita itu.
“Apa kamu mengikutiku?” Lady Jasmin membuka kacamatanya lalu menatap Melik lekat dan dingin.
“Aku sedang berbicara dengan siapa kali ini? Lady Jasmin atau Jasmine?” tanya Melik lalu mendudukkan dirinya di sisi wanita itu seraya menumpu sebelah tangannya di samping tubuh Lady Jasmine.
__ADS_1
“Kenapa kamu tidak menjawab telepon atau membalas pesanku? Apa kamu tidak mau bertemu denganku kalau bukan urusan bisnis?” Lady Jasmine tersenyum lalu sebelah tangannya menyentuh rahang kokoh milik Melik.
Darah Melik berdesir saat jari lentik Lady Jasmine bermain di wajahnya lalu secara perlahan turun ke leher hingga berakhir di dadanya.
“Saat ini aku adalah Lady Jasmine. Aku harus bertemu dengan seorang investor dan tidak bisa bertemu dengan pria lain saat ada jadwal kerja.”
“Bagaimana kalau investor itu, aku?” Lady Jasmin tampak berpikir lalu tiba-tiba dirinya menampakkan wajah terkejut. Wanita itu segera menghubungi asistennya dan belum selesai mereka berbicara, senyum Melik langsung mengembang saat melihat wajah menggemaskan wanita incarannya dalam sebulan terakhir.
Cup...
Tanpa aba-aba, Melik langsung mencium sekilas bibir wanita itu. “Sulit sekali menemuimu kalau bukan masalah bisnis.”
“Kamu curang!” Rajuk Lady Jasmin manja membuat Melik gemas hingga dengan cepat meraup kembali bibir ranum itu. Mereka berciuman sangat lama dan mengulang berkali-kali karena Melik yang sangat agresif untuk menyerang bibir wanita itu.
“Itu hukuman untukmu yang sudah mengabaikanku.” Ucap Melik melepas ciumannya.
“Apa kita akan membicarakan bisnis sekarang saja untuk menghemat waktu?” tanya Lady Jasmin membuat Melik langsung menggelengkan kepala kemudian bangkit dari duduknya membuat kening Lady Jasmin berkerut.
“Jadwal pertemuan bisnis nanti malam. Sekarang waktunya kamu menebus semua telepon dan pesanku yang kamu abaikan dulu.” Dua pengawal hendak menghadang Melik namun langkah mereka langsung tertahan setelah Melik bersuara.
“Lady,” panggil Melik menatap Lady Jasmin.
“Ini Tuan Melik yang akan kita temui nanti malam.” Ucap Lady Jasmin lalu berlalu pergi mengikuti Melik. Pria itu memeluk Lady Jasmine posesif seakan wanita itu adalah miliknya.
“Ke penginapanku!” ucap Melik lalu mencium bibir wanita itu kembali.
Melik melepas ciuman mereka lalu melihat ke belakang. “Apa mereka akan selalu mengikutimu?” tanya Melik menahan kesal.
“Itu tugas mereka!”
“Tapi kamu aman bersamaku, Baby.”
“Aku tidak yakin!” mobil melaju diikuti oleh mobil pengawal Lady Jasmin.
“Kenapa kamu tidak yakin? Apa aku terlihat menakutkan untukmu?” tanya Melik semakin erat memeluk pinggang wanita itu dan tiba-tiba Melik mengerang saat tanpa sengaja tangan Ledy Jasmin terjatuh di atas asetnya.
“Baby, aku ingin memakanmu!” Bisik Melik lalu menggigit daun telinga Lady Jasmin lembut.
“Sekarang aku merasa benar-benar tidak aman bersamamu.” Ucap Lady Jasmin seraya menjauh tapi tangan Melik sudah menarik lebih dulu pinggangnya.
Melik mengabaikan sopir di depannya. Ia memeluk Jasmin sangat erat. “Kamu sangat seksi, Baby!” lirih Melik kembali. Ia bahkan dengan berani mencium bibir wanita itu berkali-kali.
Mobil berhenti di sebuah vila pinggir pantai. Pemandangannya sangat indah dan romantis seperti yang Melik inginkan saat ini. Pria itu langsung membawa wanitanya ke kamar. Melik yang sudah terbakar gairah mulai menyerang Lady Jasmin dengan beringas hingga membuat wanita itu kesulitan.
__ADS_1
Tok...tok...
Melik mengerang kesal saat pintu kamarnya diketuk dari luar hingga membuat ia yang sudah telanjang dada itu terpaksa membuka pintu.
Melik menatap tak percaya pada apa yang dilihatnya saat ini. Dua pengawal Lady Jasmin sudah berdiri di depan pintu.
“Jasmin,”
“Lady, Tuan Besar ingin berbicara.” Lady Jasmin merapikan kardigan lalu menghampiri kedua pengawalnya.
“Sorry, Melik!” ucap Lady Jasmin lalu mengambil ponsel di tangan pengawalnya.
“Hallo, Daddy.” Ucap Lady Jasmin meninggalkan kamar Melik.
Setelah kepergian wanitanya, Melik berteriak menahan kesal saat hasratnya sudah di ubun-ubun kembali kandas. Lagi-lagi rencananya untuk meniduri seorang Lady Jasmin yang kaya raya dan misterius itu gagal untuk kedua kalinya.
“Aku harus menjauhkannya dari para pengawal itu.” Gumamnya.
Dari balkon vila, seorang wanita sedang menjawab panggilan dari seseorang di seberang sana.
“Baik, Daddy. Aku akan membereskan secepatnya.”
“Aku ingin vila megah itu hanya untukku.”
“Aku akan membelinya dengan harga berapa pun asalkan vila dan isinya itu jadi milikku termasuk apa yang tersembunyi di ruang bawah tanahnya. Tapi, Daddy. Rahasiakan ini dari siapa pun. Tidak banyak yang tahu tentang vila ini. Aku akan mengunjunginya besok setelah bertemu dengan Tuan Melik.”
“Ya, Daddy. Aku berencana investasi di salah satu hotel milik Tuan Melik di Bali. Aku bisa melihat jika hotel itu akan maju dan berkembang pesat. Aku akan menjadi investor yang akan untung besar jika itu terjadi.”
“Tidak, Daddy. Kami hanya berciuman tidak lebih. Tuan Melik tidak mungkin menyukaiku, dia pria sukses dan pasti sudah memiliki kekasih.”
“Tidak, Daddy. Aku tidak mau mengajaknya bertemu denganmu. Aku tahu Daddy pasti memintanya menikah denganku. Pokoknya, besok aku ke vila itu sendiri, kita bertemu di sana saja. Jangan lupa semua dokumen kepemilikan vila harus atas namaku. Aku sudah tidak sabar ingin memiliki vila emas itu.”
Tanpa Lady Jasmin duga, seseorang sedang mendengarkan pembicaraan mereka. Pria itu tersenyum penuh arti menatap wanita yang sedang berbicara membelakanginya.
“Tidak, Baby. Tidak semudah itu membuatku pergi darimu.”
***
__ADS_1
silakan ditebak....siapa tahu ada yang tepat tebakannya...