
Sastri menatap tajam kedua orang tuanya yang masih betah membisu setelah ia menunjukkan foto tersebut. “Mama sampai pecahin piring, kenapa sekarang diam?”
“Nak, apa yang akan kamu dengar ini jangan sampai membuat kamu gegabah dalam bertindak apalagi menyangkut Joseph. Ma, sudah waktunya dia tahu.”
Rasa penasaran Sastri semakin memuncak melihat reaksi kedua orang tuanya. Lalu, Bapak Mahardika menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dengan Joseph serta hubungan mereka dengan foto wanita dengan seorang putra itu.
“Baiklah, aku pergi dulu.”
“Ingat, Nak. Jangan mencari masalah dengan Joseph.”
“Dia yang sudah memulai lebih dulu,” gumam Sastri sambil berjalan menuju mobilnya.
Sastri duduk di belakang kemudi, ia membenturkan pelan kepalanya mencoba menghubungkan satu persatu kisah tersebut lalu mencocokkan dengan semua yang sudah ia alami.
“Get it.”
Lelah berpikir, akhirnya Sastri mendapatkan apa yang dia mau. Dia segera menghubungi Danu untuk meminta bantuan.
“Mas Danu tidur?”
“Tidak, Non. Ada yang bisa saya bantu, Nona?”
“Tidak ada, Mas. Aku hanya mau bilang, kalau besok aku mau main ke tempat teman Mas Danu lagi.”
“Baik, Non.”
Sastri merasa lelah hingga ia memutuskan untuk kembali ke aparteman. Namun, jalan yang dia pilih malah sebaliknya. Ia melajukan mobil menuju sebuah penginapan kecil di pinggir pantai untuk menghilangkan lelahnya.
“Mbak, saya pesan kamar seperti biasa dong.”
Penginapan itu memang menjadi langganan Sastri saat ia lelah dengan pekerjaan hingga para pekerja di sana sudah sangat mengenalnya.
“Maaf, Mbak. Kamar itu baru saja di pesan sama Mas ini.”
Sastri menatap pria di sampingnya dan –
“Wow, ini sebuah keajaiban. Kita bertemu di sini dan bagaimana kalau kita berbagi kamar seperti dulu. Jujur saja, aku sudah letih menyetir.”
“Maaf, silakan berikan kamar ini untuknya.”
Pria tersebut menyerahkan kembali kuncinya, “Come on Jo. Bukannya kamu menyukai Sastri yang seperti ini?”
Jonathan meninggalkan tempat tersebut tanpa peduli pada Sastri.
“Dasar pengecut! Sama seperti ayahmu.”
Dum…
Suara pintu mobil ditutup begitu keras, Jonathan berbalik tajam lalu menatap Sastri dengan sorot mata penuh amarah. Ada desiran halus menyergap hati Sastri saat kedua matanya menatap sorot mata itu. Sorot mata yang belum pernah ia lihat sebelumnya di diri Jonathan.
“Jangan pernah-“
__ADS_1
Jonathan tidak melanjutkan lagi perkataannya. Dia memasuki mobil lalu melaju kencang meninggalkan Sastri dengan sejuta pertanyaan di kepalanya.
Sastri membatalkan niatnya untuk menginap di sana. Setelah mengembalikan kuncil, ia segera melaju menuju aparterment dan yang lebih mengagetkannya adalah karangan bunga mawar tanpa nama yang terletak di depan pintu apartemennya.
“I Miss You!” hanya kata itu yang tertulis di sebuah kartu.
Lelah seharian bertarung dengan banyaknya kegiatan, Sastri mencoba memejamkan mata namun tetap saja susah hingga kilasan pertemuan dengan Jonathan tadi kembali terngiang di kepalanya.
“Dia sangat berbeda”
Sastri teringat dengan data yang diperoleh dari teman Danu lalu mulai menyelidiki kembali satu per satu data tersebut. Ia memulai dari data keuangan milik yayasan Talent di bawah naungan PH Entertaiment.
Transaksi keuangan mereka cukup banyak hingga malam itu Sastri tidak tidur sampai keesokan harinya ia masih harus ke kantor dan dari sana ia kembali mendapat petunjuk bahwa Yayasan tersebut sedang dalam pengawasan pihak berwenang.
“Kenapa mereka selalu mendahului kita, Pak?” keluh Sastri.
“Baguskan? Kita tidak harus bersusah payah mendatangi mereka apalagi kamu tahu betapa sombongnya pemilik PH Entertaiment itu.” Seorang kolega Sastri memberikan pendapatnya.
“Kita masih bisa mendapatkan mereka tapi bukan yayasannya melainkan pemiliknya.”
Sastri tergugah mendengar jawaban Pak Wisnu.
“Bagaimana, Pak?”
“Telusuri semua aset Kamisha. Tidak mungkin panghasilan seorang pemilik PH Entertaiment setiap tahun tidak pernah naik.”
Di saat yang sama, Sastri harus menerima berita buruk jika para investor yang kemarin bergabung di perusahaan papanya tiba-tiba pergi tanpa alasan jelas. Sastri mendapat kabar langsung dari Danu.
“Beliau ada di ruangannya, Nona. Tadi Ibu juga sudah kemari.”
“Em, Nona –“
“Apa, Mas? Jangan buat aku penasaran.”
“Jo Group menawarkan investasi dalam bentuk obligasi ke kita.”
“Apa? Terus respon Papa bagaimana?”
“Belum, Non. Babak masih kaget dengan kejadian ini.”
“Tolong lihat Papa ya, Mas. Aku coba cari cara.”
Sementara itu, di sebuah ruangan besar terlihat seorang pria tua sedang tertawa lepas di depan para investor yang berhasil pengaruhi. Joseph sangat bahagia karena ia mampu membuat Mahardika kalang kabut karena ditinggal investor.
“Saya pastikan uang saudara semua aman di Jo Group dan tentunya bersama keuntungan yang menggiurkan. Mari bersulang!”
Perusahan keluarga Sastri memang tidak sebesar milik Jo Group yang menguasai pasar Eropa dan Amerika. Putra Mandiri Tbk hanya bermain di sekitar Asia.
“Halo, Mas. Kita main cara kotor.”
Sastri mengirimkan beberapa foto yang masih ia simpan ke pada Danu. Danu langsung mengirimkan foto-foto tersebut ke temannya.
__ADS_1
Hanya setengah jam waktu yang dibutuhkan Sastri untuk menunggu berita terbaru muncul di layar televisi. Di saat Joseph sedang mejamu para investor, asistennya masuk lalu berbisik sesuatu yang membuat wajah Joseph memerah. Setelah berpamitan dengan wajah yang dibuat seramah mungkin, Joseph langsung menuju ruang kerjanya. Sementara para investor juga mendapat pesan dari para asisten mereka.
“Hallo, Pa. Ada apa? Aku lagi sibuk.”
“Nak, apa ini kerjaan kamu? kamu tidak tahu seperti apa Joseph itu. Segera hapus foto-foto itu!”
“Papa tenang saja! biar aku yang tangani.”
Di ruang kerjanya, Joseph murka. Ia meminta asistennya untuk memanggil Jonathan dan Bang Bonar. Lalu, ia melakukan panggilan ke sebuah nomer yang ia yakini sebagai pelakunya.
“Hallo Dika. Apa kabar? Apa hanya ini yang bisa kau lakukan?”
“Apa maksudmu, Jo?”
“Jangan pura-pura bodah, Dika. Aku tahu, foto-foto yang beredar saat ini hasil pekerjaan kamu atau ulah putrimu?”
“Jangan membawa-bawa putriku, Joseph.”
“Sayangnya, putrimu sendiri yang memintanya.”
Tutttt…
“Selidiki putri Mahardika!”
Di sisi lain, seorang pria menatap sendu pada foto-foto yang sudah beredar luas di berbagai jaringan berita bertajuk ‘Kisah Pilu seorang anak dan Istri mantan CEO Kejam berinisial J.”
Suara dering ponsel menadarkan lamunan pria tersebut yang tidak lain adalah Jonathan, “Bereskan semua ini atau kamu tahu akibatnya.”
Jonathan memikirkan cara untuk menghentikan Sastri hingga sebuah ide muncul saat melihat foto dirinya yang terpajang di atas meja kerja.
Ting…
“Post ini!” sebuah foto balasan yang akan menyerang lawannya dalam sekali pukulan.
Sastri tengah tertawa puas menikmati kesuksesannya sebagai wanita muda yang mempu melakukan semuanya dengan lancar.
Ting…
Sebuah tautan berita dikirim oleh Danu berisi sebuah video dan foto dua anak muda sedang bersama di pinggir pantai pada malam hari serta seorang wanita sedang tertidur dalam foto yang bertajuk ‘Kelakuan nakal putri seorang Presdir lulusan kampus terkenal”
“Aku?”
***
__ADS_1