Dendam Si Petugas Pajak

Dendam Si Petugas Pajak
Adit Kembali...


__ADS_3

Bang Bonar sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Melik dan Delia. Ia lebih terkejut lagi saat nama Jonathan ikut terseret dan dalang utama yang menyuruh mereka melakukan itu adalah Joseph, ayah dari Jonatha. “Kalian menyimpan videonya?” tanya Bang Bonar.


“Kenapa? Apa Bang Bonar juga ingin menontonnya?” goda Melik yang mendapat tatapan tajam dari Bang Bonar.


Ting…


Delia mengirimkan video tersebut ke ponsel Bang Bonar. Selain kalian, siapa lagi yang memiliki video tersebut?”


“Om Joseph.” Jawab Delia. Karena wanita itu pernah melihat Joseph menonton video tersebut saat sedang bergulat dengannya.


“Jadi, apa menurut Abang kalau Sastri menjadi dalang dari kejadian yang menimpa kami?” tanya Delia penasaran.


“Mendengar apa yang kalian lakukan terhadapnya tidak menutup kemungkinan jika dia memang menargetkan kalian tapi musuh Joseph itu banyak jadi kita tidak bisa gegabah menuduhnya. Yang bisa kalian lakukan saat ini adalah mengumpulkan informasi tentangnya seakurat mungkin. Aku akan bertanya pada Tuan Joseph tentang berbagai kemunkinan supaya bisa mengantisipasi kejadian berikutnya.” Selepas mengatakan itu, Bang Bonar pergi meninggalkan room empat yang menjadi ruangan langganan mereka dan kelab malam The One sendiri merupakan salah satu kelab milik Joseph.


Sastri tiba di apartemennya setelah puas memacu adrenalin di lintasan balap. Sebuah pesan masuk ke ponselnya, “Aku merindukanmu!”


“Siapa dia?” Sastri menerka-nerka siapa yang mengiriminya bunga dan pesan ini. Nama Jonathan muncl pertama kali dalam benaknya tapi setelah berpikir ulang berdasarkan penilaian Sastri saat bertemu Jonathan di kantornya. “Rasanya tidak mungkin dia!” gumamnya lalu tiba-tiba sebuah pemberitahuan masuk ke ponselnya.


“Adit dan Delia sudah bebas, Nona hati-hati!” pesan dari Danu langsung membuat Sastri menjatuhkan rasa curiganya pada Adit. Hanya pria itu yang berusaha memikatnya.


Ia segera bangkit dari duduknya lalu menghubungi Danu untuk membicarakan tentang perusahaan. “Non, sepertinya Nona memang harus mengambil alih tugas Bapak.”


“Mas, kalau aku maju, mereka akan semakin menyerang perusaahn Papa. Bagaimana kalau Mas Danu saja? Aku kerja dibalik layar saja.”


“Saya belum siap, Mbak. Dan masalah ini sepertinya semakin memperburuk kondisi Bapak. Lebih baik kalau Nona pulang untuk melihat Bapak.”


“Baiklah, aku ke sana sekarang!”


Sastri kembali melajukan mobilnya dengan kencang. Entah sadar atau tidak, sebuah mobil sudah mengikutinya dari belakang.


“Dia ke rumahnya, Bos.”


“Baik, pantau terus!”


“Siap!”


Sesampainya di rumah, benar saja yang dikatakan oleh asisten ayahnya jika kondisi ayahnya sedang tidak baik-baik saja. Papanya kelihatan tertekan apalagi masalah ini bukan murni bisnis melainkan kasus balas demdam pribadi.


“Pa, kenapa belum tidur?” tanya Sastri melihat ayahnya masih membaca berkas-berkas yang ia yakini itu semua urusan kantor.

__ADS_1


“Papa kamu bandel! Sudah dibilang untuk istirahat tapi malah ngeyel.” Sela sang ibu sambil rebahan di sofa. Ibu Ariyanti dengan tulus mendampingi sang suami yang masih berkutat dengan pekerjaan padahal malam sudah semakin larut.


“Kamu nginap di sini?”’ tanya sang ibu.


“Iya, Mama tidur di kamar saja. Biar aku bantu Papa.”


Ibu Ariyanti tersenyum senang lalu meninggalkan suami dan anaknya tersebut di sana. “Kamu periksa proposal dan dokumen tentang penjanjian kontrak ini ya!” Sastri mengangguk lalu keduanya kembali fokus menyelesaikan pekerjaan masing-masing hingga menjelang pagi mereka baru berhenti. Sastri dan ayahnya tertidur hanya satu jam dan setelah itu mereka terkejut oleh panggilan  lembut sang ibu.


Pagi-pagi sekali Danu sudah sampai di rumah itu untuk menjemput bosnya. Setelah sarapan bersama, Bapak Mahardika mulai berbicara, “Danu, Sastri, tolong bantu perusahaan. Saya percayakan perusahan ini pada kalian. Sastri, Papa tahu kamu bermain di belakang bersama Danu. Papa hanya berpesan, jangan bermain-main dengan Joseph. Papa tidak mau terjadi apa-apa dengan kalian. Joseph itu kejam dan licik.”


“Baik, Pa.” Ucap Sastri dengan lisannya tapi hatinya berkata tidak. Ia tidak akan berhenti untuk membalaskan dendam pada pria tua itu beserta antek-anteknya. Setelah kepergian ayahnya ke kamar, Sastri langsung membisikkan sesuatu pada Danu.


“Nona harus lebih hati-hati kalau begitu.” Danu mengingatkan.


“Katakan pada Bimo untuk keluar dari rumah itu! Suruh dia ke bandara besok!” pinta Sastri.


Sastri meninggalkan rumahnya menuju apartemen lalu mengemasi beberapa pakaian dalam koper. Setelah keluar dari sana, Sastri segera menghubungi Pak Wisnu namun urung. Tiba-tiba ia teringat sesuatu lalu kembali memutar otak bagaimana caranya menemui pimpinannya tanpa ketahuan.


Di saat Sastri sedang berpikir keras, ia kembali dikejutkan dengan sebuah panggilan dari nomer pribadi.


“Hai, Sayang? Apa kau merindukanku?”


“Adit?” tebak Sastri yang disambut kekehan kecil dari si penelepon.


“Hem, aku juga ingin menemuimu, Mas Adit. Mungkin menikmati sunset indah di Bali seperti sebelumya akan terasa menyenangkan apalagi melihatmu dengan penampilan yang memukau seperti saat itu. Tahukah kamu kalau saat itu aku menahan diri sangat keras untuk tidak menciummu?”


Gleg…


Adit sangat terkejut mendengar perkataan Sastri. Ia pikir Sastri akan menutup telepon atau mencoba berkata lain.


“Atau kamu ingin tahu nama asliku?” Adit kembali terkekeh di seberang sana.


“Kamu sangat sulit ditebak dan aku semakin penasaran dengamu, SASTRI.”


“Wow, aku anggap ini pujian dan terima kasih.”


“Jadi kapan kita bisa bertemu?” tanya Adit.


“Kenapa tidak menghampiriku saja? Aku pikir kamu hanya betah mengikutiku lalu menatapku dari kejauhan. Aku selalu siap bertemu denganmu dan pastikan hanya kita berdua, kamu tentu tahu apa yang aku maksud.”

__ADS_1


“Wow, seorang Sastri mengajakku bertemu berdua. Baiklah, mari kita bertemu besok!”


“Tidak bisa, besok aku akan ke Bali.”


“Bali?”


“Aku ini pengangguran dan sedang menikmati hidup dengan berfoya-foya menghabiskan uang ayahku."


"Wow, aku suka itu. Bagaimana kalau kita bertemu di sana?”


“Tidak! Aku tidak mau bertemu dengamu di sana. Aku sedang mengincar pengusaha kaya di sana. Dan jangan menggalkan usahaku kali ini!”


“Ternyata kamu juga menyukai uang. Baiklah, berapa yang kau butuhkan? Aku bisa memberikannya tapi kau bersamaku?”


“Aku tidak mau berurusan dengan hukum karena menerima uangmu.”


“Rupanya kau melihat berita juga. Ok, fine! Selamat bersenang-senang!”


Tutttt….


Sastri menyeringai, lalu ia kembali menghubungi seseorang yang akan membantunya bertemu dengan Pak Wisnu.


Setelah membobol data dan kamera pengawas di kantornya, Sastri sudah kehilangan rasa percaya pada orang-orang berdasi di sana. Apalagi setelah mengetahui jika hilangnya data dari divisinya karena ulah saingain Pak Wisnu.


Bimo datang ke kantor Sastri menggunakan seragam SMA. Danu sampai mengeluh karena sulitnya menemukan baju untuk ukuran Bimo.


“Anak SMA kenapa ke sini? Ini bukan sekolahan.” Tegur salah satu pegawai pemeriksaan.


“Saya juga tahu kalau di sini bukan sekolah. Saya dapat tugas untuk mengajukan kuisioner kepada –“ Bimo membaca surat yang dibawanya dari sekolah.


“Bapak Wisnu Pratama.” Ucap Bimo.


“Sebentar,” seorang pegawai menghubungi lalu tidak berselang lama, Bimo diantar menuju ruangan Pak Wisnu. Sastri harus menemukan cara yang tidak terduga untuk menemui Pak Wisnu.


Begitu tiba di dalam ruangan Pak Wisnu, Bimo tersenyum manis duduk di sofa. Pak Wisnu menerimanya dengan ramah walaupun pekerjaan sedang banyak-banyaknya.


“Coba saya lihat kuisionernya!” pinta Pak Wisnu setelah berbasa-basi sebentar.


“JANGAN LIHAT KAMERA PENGAWAS DAN HINDARI KAMERA ITU!” Pak Wisnu berdehem.

__ADS_1


***


Mudah2an konsisten sama Sastri...


__ADS_2