Dendam Si Petugas Pajak

Dendam Si Petugas Pajak
Aksi Para Tua Bangka...


__ADS_3

Viona memasuki ruang utama milik pimpinan. Tuan Moestafa memberi perhatian lebih pada Viona yang dianggapnya istimewa dan tentu juga seksi.


“Secangkir teh istimewa untuk wanita istimewa.” Ucap Tuan Moestafa membuat Viona tersenyum cantik kemudian mengambil cangkir tersebut lalu menyesap sedikit dengan gaya seksi serta menggoda.


“Apa yang membuat Tuan Moestafa sampai mengundang saya secara khusus ke sini?” tanya Viona dengan nada sensual.


Tuan Moestafa tersenyum, “Saya ingin tahu hubungan Nona dengan JN Corp. Sejujurnya, saya ingin bertemu dengan pimpinannya.”


Viona menghela nafasnya, “Saya tidak berhubungan langsung dengan pimpinan mereka melainkan perwakilan mereka yang menemui perwakilan saya. Jadi saya tidak bisa membantu Tuan untuk ini. Sebaiknya Tuan menghubungi perwakilan mereka kemudian mengutarakan tujuan secara jelas. Siapa tahu pimpinannya tergiur dengan penawaran yang Tuan ajukan. Dari yang saya dengar, pimpinan mereka itu sangat memperhitungkan tentang uang.”


Tuan Moestafa menghela nafasnya, “Baiklah, Tuan. Kalau tidak ada yang perlu dibahas lagi. Saya mohon diri dulu. Tuan bisa langsung menghubungi saya ke sini jika ada yang perlu dibicarakan. Mungkin Tuan berencana menjual saham kembali, saya dengan senang hati ingin membelinya asal harganya sesuai.” Viona berjalan kemudian memberikan langsung kartu namanya tersebut ke tangan Tuan Moestafa dengan sedikit sentuhan di tangan pria itu membuat Tuan Moestafa mengambil tangannya lalu mencium punggung tangan Viona dengan tatapan mendamba.


Saat Viona turun, Joseph sudah berdiri menyambutnya di lobi. Pria itu langsung tersenyum menyambut kedatangan Viona. “Tuan Joseph sedang menunggu sesuatu?” tanya Viona berbasa-basi menghampiri Joseph.


“Saya sedang menunggumu, Nona!”


“Terima kasih, Tuan. Saya merasa tersanjung tapi apakah boleh kita bertemu nanti malam karena saya ada keperluan mendadak yang sangat penting.”


“Oh tentu, Nona. Saya akan mengabarkan Nona tempat dan jamnya.”


“Oke, saya tunggu! Saya permisi dulu, Tuan. Mobil saya sudah sampai.” Ucap Viona kemudian keluar dan langsung memasuki mobil di yang sudah menunggu di dapan hotel.


Viona langsung melajukan mobil sportnya menuju area balapan. Ia tersenyum penuh arti saat melirik kaca spion di mana mobil Jonathan mengikutinya dari belakang. Viona semakin melaju kencang dan tiba-tiba berhenti saat di lampu merah membuat Jonathan ikut berhenti tepat di sampingnya. Viona membuka kaca kemudian berkata, “Ayo balapan!” begitu lampu berubah hijau, Viona langsung menginjak gas hingga ke area balap. Di sana, mereka kembali berpacu di area balap seperti sebelumnya.


Balapan kali ini dimenangkan oleh Viona di putaran ke sepuluh. “Apa tujuanmu sebenarnya?” Viona mengerutkan kening saat membuka kaca lalu secara tiba-tiba dicecar pertanyaan seperti itu oleh Jonathan yang sudah berdiri membungkuk ke arahnya.


Viona tersenyum kemudian ia memilih keluar, “Aku seorang pembisnis, Tuan Jonathan. Ada saham murah lalu aku membelinya. Dan salahku di mana? Kenapa kamu bertanya setengah menuduh?” Viona bersandar di mobilnya.


“Katakan! Siapa targetmu?”


Viona tersenyum, “Kamu!”


“Ck, percaya diri sekali kamu.”


“Jangan meremehkanku, Tuan.”


Jonathan mendorong Viona yang membuat posisi keduanya begitu dekat bahkan Viona bisa merasakan hembusan nafas Jonathan. Dikungkung begitu justru membuat tangan Viona dengan bebas bermain di dada Jonathan. “Kenapa aku? Apa tujuanmu sebenarnya?”

__ADS_1


Viona tersenyum menggoda dan detik berikutnya dia tanpa ragu mencium bibir Jonathan dan kali ini begitu lama karena Jonathan sendiri membalas ciuman itu. Entah apa yang dirasakan Jonathan saat itu tapi dia melakukannya dengan Viona. Tidak jauh dari sana, seseorang sedang merekam apa yang sedang terjadi antara mereka.


“Aku pastikan kamu akan bersamaku setelah ini, Tuan Jonathan!” ucap Viona penuh keyakinan lalu mendorong pelan tubuh pria itu kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Jonthan sendiri dengan pikiran tidak menentu.


“Siapa sebenarnya gadis itu? Kenapa dia mengincarku?” gumam Jonathan.


Viona kembali melakukan panggilan dengan bosnya, “Sepertinya kamu sangat menikmati ciuman itu?” Viona terkekeh.


“Dia sangat hot! Apa Bos cemburu?”


“Tidak!”


“Yakin, Bos? Katakan secepatnya sebelum aku bertindak lebih jauh dengannya.”


“Terserah kau saja. Yang penting tujuanku tercapai.”


“Nanti malam aku akan menemuinya. Kita lihat apakah dia bisa diperalat atau tidak?”


“Bagaimana dengan Moestafa?”


“Oke! Lanjutkan tugasmu!”


Tuttt…


Malam harinya di sebuah ruang privasi restoran mewah, Viona berjalan sensual dengan pakaian seksi tapi elegan dan berkelas hingga menunjukkan jika dia bukan wanita sembarangan. “Selamat malam Tuan Joseph, maaf karena saya terlambat.”


Joseph berdiri lalu merangkul wanita itu seraya mengecup punggung tangan Viona membuat wanita tersenyum manis. “Tua bangka hampir mati masih bernafsu sama yang muda.” Batin Viona dibalik senyumnya.


Joseph menarik kursi untuk Viona kemudian mereka memulai dengan makanan pembuka. “Ada apa gerangan sampai Tuan Joseph meminta saya untuk bertemu secara pribadi?” Joseph tersenyum menatap wanita yang sangat berterus terang di depannya.


“Saya sebenarnya ingin menjalin hubungan baik denganmu, Nona Viona. Selain karena kita sesama pemegang saham, saya juga ingin berbisnis denganmu di bidang yang lain. Mungkin Nona berminat berinvestasi di perusahaan saya?”


Viona tersenyum, “Apa dia tidak punya alasan lain yang lebih berkelas?” batin Viona tersenyum manis.


“Sebenarnya ada yang menarik di perusahaan anda, Tuan!” Joseph menghentikan kunyahannya kemudian menatap Viona.


“Saya tertarik dengan Jonathan sang CEO. Bagaimana? Apa saya masih punya tempat untuk itu karena dia sudah bertunangan.”

__ADS_1


Joseph menyimpan sendok di atas piring, dari raut wajahnya jelas terlihat jika pria itu tidak menduga akan mendengar ini.


“Sepertinya anda tidak memprediksi ini, bukan?” lanjut Viona.


“Penawaranmu sangat menarik hingga saya kesulitan untuk menjawabnya. Kenapa Nona sangat tertarik dengan putra saya?”


“Saya tidak tertarik dengannya melainkan obsesi. Sudah lama saya melihat Jonathan dan saya rasa tunangannya itu tidak pantas untuk pria sekelas Jonathan. Wanita itu terlalu murahan untuk seorang pria berkelas.”


“Wow, dari nada bicaramu sepertinya kamu sangat mengenal tunangan Jonathan.”


Viona tersenyum kecil, “Tentu! Saya sangat mengenalnya bahkan siapa saja yang tidur dengannya saya tahu.” Ucap Viona tersenyum penuh kemenangan apalagi melihat raut wajah Joseph yang terlihat santai di luar tapi gelisah di dalam.


Joseph menatap dingin ke arah Viona, “Apa yang kau inginkan?”


“Jonathan! Saya ingin Jonathan menikahi dengannya.”


“Beri saya alasan untuk menerima permintaanmu.”


“Seperti yang sudah saya katakan, saya obsesi padanya.”


“Baiklah. Karena permintaan Nona sangat berat maka saya perlu waktu untuk memikirkannya. Saya harap Nona tidak keberatan untuk menunggu.”


“Tentu.”


“Satu lagi, kita ini pembisnis. Setiap permintaan pasti ada timbal balik, bukan?” Joseph menatap Viona lekat.


“Tentu. Saya siap mendengar permintaan anda! Tapi tidak sekarang karena saat ini saya harus pergi. Silakan pikirkan baik-baik, Tuan! Dan saya ingatkan untuk membuat permintaan serasional mungkin. Anda pasti tidak akan mengecewakan putra anda, bukan?”


Viona keluar dari sana dengan raut wajah sulit diartikan. Sementara Joseph langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


“Selidiki wanita ini!”


 


***


LIKE...KOMEN...

__ADS_1


__ADS_2