Dendam Si Petugas Pajak

Dendam Si Petugas Pajak
Kesepakatan Sastri...


__ADS_3

“Bim, aku tahu apa yang harus kita lakukan saat ini!” Bimo menatap Sastri yang tengah tersenyum penuh misteri itu.


“Tujukkan pada perusahaan Smith siapa musuh mereka saat ini. Sepertinya Joseph terlalu angkuh menghadapi perusahaan Smith. Biar aku yang ambil alih!”


Sastri langsung dihubungkan dengan perusahaan Smit untuk membuat kesepakatan sementara Bimo sedang berperang mengalahkan virus di perusahaan Smith dan melacak server yang digunakan si pengirim. Tentu saja tidak mudah tapi untuk Bimo, itu tidak seberapa.


Dua jam lebih untuk Sastri meyakinkan hingga Mister Smith mau kembali menjalin kerja sama dengan perusahaan Bapak Mahardika. “Bagaimana dengan anti virusnya?” tanya Mister Smith sebelum mengakhiri panggilan teleponnya dengan Sastri.


“Setelah tanda tangan kontrak, Tuan akan mendapatkannya.”


“Ck, permainan kalian licik sekali.”


“Tapi kami bukan Tuan Joseph yang tidak segan bermain kotor bahkan dengan kliennya sendiri.” bantah Sastri.


“Saya di bawah ancamannya jadi maafkan saya karena terpaksa membatalkan kontrak saya dengan perusahaan Mahardika.”


“Tidak masalah untuk saya. Karena itu juga bukan perusahaan saya.”


“Lalu siapa kamu? Kenapa meminta saya kembali melanjutkan kontrak dengan Mahardika? Apa kamu orang Mahardika?”


“Target saya, Joseph. Dan siapa pun yang berkaitan dengannya pasti akan saya incar. Silakan katakan ini pada teman-teman anda yang lain. Saya tidak masalah dengan itu.”


Tuttt….


Satsri memutus komunikasinya lalu mengetuk-ngetuk jarinya di meja seraya menatap ponselnya.


Tuk…


Tuk…


Tuk…


“Got it!”


“Satu burung kembali!” isi pesan yang Danu kirimkan. Sastri tersenyum menatap Bimo yang tampak kelelahan.


“Sepertinya kita akan makan besar.” Ucap Bimo tersenyum penuh arti pada Sastri. Suara bel berbunyi. Bimo bergegas menuju pintu dan –


“Kak, ini apa?” tanya Bimo kecewa melihat bukan makanan yang datang malah alat-alat olahraga.


Sastri tersenyum seraya bersedekap di dada. “Sorry, Bim. Mulai sekarang aku harus memastikan keselamatan investorku dengan cara menyuruhmu olahraga supaya penyuka burger ini tidak obesitas. Aku sendiri yang akan mengawasimu, Bim.” Bimo berjalan lesu ke arah kulkas. Air dingin selalu mampu mengusir rasa penat di kepalanya.

__ADS_1


Di perusahaan Jo Grup, Joseph juga tengah merayakan keberhasilan tim IT dan seseorang di luar sana yang sudah menjaga server perusahaannya dengan baik hingga serangan virus burger tidak sampai merusah data-data utama perusahaan.


“Sudah temukan siapa pelakunya?” tanya Joseph pada lawan bicaranya di telepon.


“Belum, Tuan. Ada beberapa kandidat yang kemungkinan besar pelakunya tapi saya tidak tahu pasti mereka berasal dari mana. Dan lokasinya juga sulit dilacak. Mereka ini peretas handal, Tuan.”


Setelah menutup teleponnya, Joseph menatap Jonathan tajam. “Apa saja yang kau lakukan sebagai CEO? Otakmu kau gunakan untuk mengurus perusahaan bukan berpacu di lintasan balap.” Mata Jonathan seketika menatap Joseph. Seharusnya dia tidak perlu terkejut mendengarnya. Bukankah pria berstatus ayahnya itu adalah orang paling licik di dunia?


“Kalau kau masih main-main dengan tugasmu maka lihatlah akibatnya!” ucap Joseph lalu keluar dari ruangan Jonathan dengan angkuhnya. Sementara Jonathan hanya bisa memendam kekesalan tiap bertemu dengan pria tua itu.


Di perusahaan Putra Mandiri Tbk. Danu bersiap mengurus kontrak kerja sama yang baru dengan perusahaan Smith setelah Tuan Smith berbicara langsung dengan Bapak Mahardika. Beberapa perusahaan kembali menjalin komunikasi dengan Bapak Mahardika setelah serangan virus burger yang membuat heboh dunia bisnis beberapa saat lalu.


Klien-klien penting mulai menghubungi Sastri yang sekarang mulai mengambil peran sebagai asisten Bimo. Para klien baru itu tertarik untuk memasang anti virus buatan Bimo setelah mendengar bahwa perusahaan Putra Mandiri Tbk tidak terkena serangan karena sudah memiliki anti virus yang tidak akan ditembus oleh virus burger. Perusahaan Bapak Mahardika yang hampir kolaps kini mulai bangkit dengan sendirinya dengan tercemarnya nama Joseph karena ulahnya sendiri.


Berita tentang perusahaan rivalnya tentu saja sampai di telinga Joseph. Ia yang sedang menikmati pemandangan indah yang disuguhkan oleh calon menantunya tentu saja menjadi kesal. Niatnya untuk membuat perusahaan itu hancur jadi terkendala.


“Singkirkan perusahaan Smith dan Putra Mandiri!” ucapnya melalui telepon. Bahkan Kamisha yang sedang menari di depannya terabaikan begitu saja.


“Pertemuan para pengusaha akan digelar sebulan lagi dan sebelum itu terjadi aku akan membuat Mahardika menangis darah di sana!” gumam Joseph lalu ia segera menghubungi Adit yang sudah beberapa hari ini terus mencari jejak Sastri. Adit tidak akan berhenti sampai ia medapatkan Sastri.


Setelah membantu masalah perusahaannya, Sastri langsung mengirimkan beberapa nama yang selanjutnya akan masuk dalam berita tentang penggelapan pajak. Inilah tugas utama Sastri setelah ia memutuskan untuk menempuh pekerjaannya di luar kantor.


Pak Wisnu memberikannya pekerjaan di luar kantor setelah mengetahui jika ada campur tangan orang kantor dengan kasus yang sedang ia selidiki. Pak Wisnu memberikan kepercayaan penuh pada Sastri. Dia juga menghubungi Agung yang bekerjaa di PPATK untuk mengusut beberapa orang yang terlibat dalam pencucian uang dalam bentuk kripto.


“Kamu sudah membuat saya terkenal tapi kamu sendiri justru berdiam di balik layar. Apa kamu tidak ingin naik jabatan?” tanya Pak Wisnu pada Sastri melalui saluran telepon.


“Saya sudah cukup seperti ini, Pak.”


“Sas, hati-hati! Saya tidak mau kehilangan pegawai terbaik seperti kamu!”


“Saya aman, Pak.”


“Bagaimana dengan orang-orang yang sudah menyakitimu? Mereka terlihat begitu bahagia menikmati hidup.”


“Semua ada waktunya, Pak. Kita akan melihat semua itu secara bersama-sama.”


“Baiklah! Jaga kesehatan dan jangan lupa makan.”


“Terima kasih. Bapak juga!”


Setelah mengakhiri perbincangan dengan Pak Wisnu, Sastri kembali melanjutkan pekerjaanya. Targetnya kali ini adalah Melik. Pria itu terlalu percaya diri dalam berbisnis. Melik juga sama liciknya dengan Joseph. Jika wajah keduanya tidak berbeda mungkin bisa dikatakan Melik adalah jelmaan Joseph saat muda.

__ADS_1


“Dia tampan!”


Sastri hampir terkejut saat Bimo tiba-tiba mengeluarkan suaranya ditengah malam. “Kamu ini mengagetkan saja!” gerutu Sastri.


“Kak, ini Singapura. Tidak ada hantu di sini.” Bimo kembali duduk di depan laptopnya.


“Kamu gak tidur lagi?” tanya Sastri karena seingatnya tadi Bimo sudah tidur.


“Biasa, Kak. Aku penasaran dengan oran joseph. Aku tidak yakin tapi mudah-mudahan benar.”


“Maksudnya?”


“Aku curiga jika peretas yang bekerja pada Joseph adalah mantan pacar virtualku.”


“Whattttt????”


“Biasa aja, Kak!” ucap Bimo tanpa menatap Sastri.


“Aku ini jarang keluar bukan berati tidak punya pacar, Kak.”


“Lalu kenapa kalian putus?”


“Dia minta ketemu dan aku tidak mau.”


“Kenapa?” Sastri tambah penasaran dibuatnya.


“Aku tidak percaya diri dengan bentuk badanku.”


“Apa dia cantik? Kamu punya fotonya?”


Sastri yang tadinya duduk di meja kerjanya kini berdiri mendatangi meja Bimo. “Aku lihat dong, Bim!”


“Sejak kapan Kakak jadi kepo begini?” tanya Bimo tapi tetap menunjukkan foto di galeri laptopnya. Mata Sastri seakan mau keluar saat melihat gadis yang katanya mantan virtual Bimo. “Kakak gak percaya kan? Makanya aku tidak mau menunjukkan fotonya.”


“Kamu yakin? Bisa saja kan dia mengedit foto itu untuk menggodamu.”


Bimo melirik Sastri sekilas, “Kakak pandai tapi ada bodohnya juga ya? Kami ini sudah bicara secara langsung. Skype, Kak. Skype!!!!”


“Selain meretas, kamu punya ilmu pelet juga ya?”


***

__ADS_1


Jangan lupa LIKE, KOMEN...makasih....


__ADS_2