
“Alat pencocokan wajah tidak menemukan orang tersebut, Tuan.” Ucap seseorang di balik sambungan telepon. Saat ini Melik tengah menghubungi orang suruhannya untuk mencari jejak orang yang mengantarnya ke bandara setelah diculik waktu itu.
“Bagaimana mesin tidak bisa mendeteksi identitas pria itu? Apa perlu aku memberikan alat pendeteksi wajah yang baru?” geram Melik.
“Selain karena menggunkan masker, kacamata dan topi, pria itu bisa jadi menggunakaan topeng hingga alat pendeteksi wajah sama sekali tidak bisa mengenali identitas pria tersebut.”
“Sudah seperti film saja. Lalu apa kau menemukan jejakku sebelumnya?”
“Penculikan anda seperti sudah terencana dengan matang, Tuan. Ini terlihat dari cara mereka membawa anda ke bandara padahal sebelumnya anda berada di benua lain tapi saat terbangun anda justru berada di benua asia. Hanya mafia yang mampu melakukan ini karena saya sudah melacak semua CCTV dan tidak ada penumpang yang tertidur atau yang sakit dan pastinya tidak ada anda, Tuan. Ini menunjukkan kemampuan dari si penculik jika mereka mampu membuat anda menghilang seperti hantu lalu tiba-tiba anda terbangun dan sedang berada di Dubai. Apa ini tidak aneh?”
“Em, apa Tuan bermusuhan dengan mafia atau punya rekan bisnis dengan mereka?”
“Tidak! Lacak terus sampai hal terkecil. Aku tidak mau kecolongan lagi.”
“Baik, Tuan!”
Tuttt….
Tok…tok…
“Masuk!”
“Tuan, perwakilan dari JN Corp ingin menemui anda.” Melik terperanjat. Dia lupa kalau masih ada urusan bisnis dengan JN Corp.
“Ayo temui mereka!” ajak Melik seraya menyunggingkan senyumnya.
Sementara di kantornya, Jonathan kembali disibukkan oleh berbagai pekerjaan hingga rasa bosan tiba-tiba muncul. Tanpa pikir panjang, ia mengambil kunci mobilnya lalu keluar menuju perkiran kantor. Jonathan memacu mobilnya dalam keadaan sedang sampai sebuah mobil menyalipnya. Seolah tertantang, Jonathan balas menyalip mobil itu hingga mereka berhenti bersisian di lampu merah. Begitu lampu hijau muncul, Jonathan dan pemilik mobil sport berwarna hitam keluaran terbaru itu langsung melaju kencang hingga polisi patroli membunyikan sirine untuk keduanya tapi mereka justru melaju semakin kencang meninggalkn jalanan perkotaan. Mobil sport hitam itu memasuki area balapan yang pernah Jonathan kunjungi. Tanpa aba-aba, mereka terus melajukan mobil di area balap itu hinga putaran ke 20 baru berhenti itu pun karena kehabisan bensin.
Seorang wanita cantik dengan menggunakan sepatu kets, celana jeans dan rambut tergurai indah itu turun dan langsung berdiri bersandar di mobilnya menatap Jonathan yang masih duduk di bangku kemudi.
“Apa kau terlalu pengecut untuk menunjukkan wajahmu?” tangan wanita itu bersedekap di dada menetap penuh ejekan ke arah Jonathan.
“Pancingan berhasil!” ucapnya dalam hati saat melihat Jonathan dengan jas dan dasinya keluar dari mobil sport miliknya.
“Wow, apa dunia ini terlalu sempit untuk kita?” wanita itu tersenyum lalu berjalan menghampiri Jonathan dan dengan beraninya menarik jas yang Jonathan kenakan lalu mencium sekilas bibir pria itu.
“Itu hadiahku karena telah berhasil mengalahkanmu!” ucap wanita itu santai lalu merogoh sakunya, “Kirim orang untuk mengambil mobilku di area balap. Bensinku habis! Aku tunggu-“ wanita itu menarik tangan Jonathan lalu melihat jam di tangan pria itu. Jonathan masih menatap wanita itu dalam diam.
__ADS_1
“Apa tujuanmu memancingku?” Jonathan akhirnya bersuara. Keduanya masih berdiri berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.
“Sudah tahu aku memancing kenapa kau menangkap pancinganku?” balas wanita itu.
Tiba-tiba Jonathan menarik pinggang wanita itu hingga kedua dada mereka saling bertabrakan dan betapa terkejutnya wanita itu saat dengan sebelah tangannya Jonathan tengah membuka dompetnya.
“Hei, kamu bisa menanyakan langsung padaku kenapa harus mencuri begitu?” protes si wanita.
“Viona!” ucap Jonathan lalu melepas rangkulan tangannya di pinggang wanita itu.
“Kembalikan! Kamu sangat tidak sopan.”
“Semalam kau ke kelab dan sekarang kau membuntutiku lalu memancingku ke sini. Apa tujuanmu?”
“Kembalikan dompetku!”
“Jawab dulu pertanyaanku!”
“Aku ingin menghancurkan hubunganmu dengan Kamisha. Dia itu tidak baik untukmu dan aku yang akan menggantikan posisinya di sampingmu.”
“Viona, kamu terlalu percaya diri!” Jonathan tersenyum mengejek lalu mengembalikan dompet itu ke tangan Viona. “Aku menunggu aksimu!” ucap Jonathan lalu pergi meninggalkan Viona sendiri.
Sastri terkejut, “Kamu menciumnya?”
“Nona jangan berlagak polos begitu. Ini adalah trik memancing seorang pria. Dari sini saja aku sudah mengetahui jika pria ini tidak sama seperti yang Nona katakan. Apa Nona salah orang?”
“Tidak mungkin. Dia itu Jonathan. Orang yang paling cerdas berakting hingga aku pun tertipu dengannya. Aku harap kamu tidak mudah percaya dengan wajah dan aktingnya karena bisa jadi saat ini dia tengah menyusun rencana untukmu.”
“Kita lihat nanti. Bye, Nona!”
Tutttt….
“Sepertinya membagongkan!” celutuk Bimo.
Sastri menoleh, “Entahlah. Gadis ini terlalu berani. Aku takut itu justru membuatnya kesulitan di masa depan.”
“Kak, aku bingung.” Sastri kembali menoleh.
__ADS_1
“Apa Kakak tidak merasa aneh dengan hubungan mantan Kakak dengan tunangannya itu? Mereka orang terkenal lalu kenapa tidak pernah terlihat bersama? Dan Kakak juga bilang jika Jonathan, Andrew, Melik, Delia dan Kamisha itu berteman. Tapi hanya Jonathan yang jarang terlihat berkumpul dengan mereka. Apa menurut Kakak ini tidak aneh?”
Sastri menatap Bimo lalu mencerna perlahan setiap kata-kata yang Bimo ucapkan. Lama Sastri merenung hingga ia mulai tersadar setengah jam kemudian. “Bim, apa aku melewatkan sesuatu ya?”
“Mungkin!”
Sastri mengambil kertas lalu mulai mencari dimana letak hal yang ia lewatkan tersebut, “Bim, tolong-“
“Sedang kulakuan, Kak.”
“Thanks, Bim.” Di saat Sastri mulai menelusuri satu persatu rentetan kejadian, Bimo juga mulai mencari jejak Jonathan dari awal kemunculannya.
Di tempat yang berbeda, Jonathan sedang memikirkan tentang Viona yang sudah mengecoh pikirannya saat ini sambil memegang selembar foto.
“Apakah aku harus menyerah denganmu?” tanya Jonathan pada selembar foto.
“Di mana kamu sekarang? Apa kau tidak rindu berkelahi denganku?” pertanyaan kedua kembali muncul dari mulut Jonathan.
Lama dia terdiam sampai suara getar ponsel menyadarkannya. “Kamu di mana? Aku ingin bertemu.”
“Kita bertemu di tempat biasa jam enam sore!”
“Baik.”
Tutt….
Jonathan kembali menghela nafasnya, “Aku merindukan masa kecil kita. Kapan ini akan selesai? Aku sangat lelah.” Gumamnya.
Ponselnya kembali bergetar, “Kenapa kau bekerja sama dengan pihak Rusia tanpa persetujuanku?” Jonathan kembali menghela nafas seraya memijit keningnya.
“Pa, mereka menawarkan investasi yang tidak sedikit dan kita juga membutuhkannya jadi setelah aku pelajari makanya aku berani bekerja sama dengan mereka. Aku juga sudah-“
“Hentikan omong kosongmu! Temui aku di rumah nanti malam!”
***
__ADS_1
LIKE, KOMEN DAN VOTE...
Terima kasih...