
Aktifitas di kantor berjalan seperti biasa. Sastri bersama tima masih dipercayakan menduduki divisi khusus tersebut setelah perjuangan ketua divisi yang memperjuangkan nasib mereka di depan atasan. Para atasan yang berwenang juga tidak bisa memungkiri jika keberadaan anak buah Pak Wisnu memang yang terbaik dari yang lain dalam urusan pekerjaan. Hal tersebut yang menjadi pertimbangan sehingga tim Pak Wisnu tetap bertahan di Dirjen Pajak pusat.
Sastri sendiri selain mengerjakan tugasnya sebagai petugas pajak, ia juga bekerja secara diam-diam dalam urusan perusahaan bersama Danu. Bahkan, orang tuanya sendiri tidak mengetahui apa yang telah ia lakukan bersama Danu dalam menyelamatkan perusahaan. Sudah sebulan Sastri bekerja keras menganalisis keuangan perusahaan serta menyelidiki asal muasal uang yang diinvestasikan oleh para investor.
PPATK kembali menangkap Andrew setelah keterlibatannya dalam kasus investasi bodong mencuat ke publik. Sejumlah nama perusahaan yang menerima aliran dana dari Andrew juga diumumkan dan salah satu perusahaan tersebut adalah perusahaan Putra Mandiri Tbk milik orang tua Sastri. Namun, karena ulah Sastri secara diam-diam, perusahaan ayahnya tidak terlalu berdampak setelah ia mengalihkan dana yang seharusnya digunakan untuk produksi dan penyediaan bahan baku dialihkan ke bagian penunjang bahan baku yang jarang digunakan.
“Dananya masih belum terpakai, Pak. Jadi kita bisa mengembalikan lagi ke pihak PPATK.”
“Apa Sastri yang melakukannya?”
“Iya, Pak.”
“Dan kamu tidak memberitahukan saya?”
“Maaf, Pak. Nona minta saya merahasiakannya.”
“Kamu bekerja sama siapa?”
“Maafkan saya, Pak.”
Bapak Mahardika menghubungi Sastri melalui ponselnya. “ Ada apa Pa?”
“Papa ingin bertemu, kapan kamu ada waktu?”
“Aku tidak bisa bilang sekarang, Pa. kalau menyangkut urusan Andrew, jangan mempersulit Mas Danu. Aku yang minta dia untuk merahasiakannya.”
“Mulai besok kamu yang menggaji dia.”
“Aku saja masih digaji sama orang, bagaimana mau menggaji Mas Danu. Ya sudah, aku lagi banyak kerjaan. Bye, pa.”
Tut….
Di sebuah rumah mewah nan megah, seorang pria tua sedang duduk bersama dua orang wanita cantik dan dua laki-laki tampan. Raut wajah tidak ramahnya sangat kentara dengan emosinya yang saat ini sedang memuncak setelah salah satu anak kepercayaannya ditangkap.
“Sudah hubungi si Bonar? Segera proses supaya Andrew bebas. Dan sudah pasti dia tidak akan bisa lagi mendekati Perusahaan Mahardika. Bagaimana kalian bisa ceroboh seperti ini? Ingat jangan sampai ini terulang lagi, mengerti?”
“Iya, Om.”
“Jonathan, lakukan apapun untuk membuat perusaan Putra Mandiri pailit!”
__ADS_1
“Baik, Pa.”
“Pergilah!”
Pria tua bernama Joseph kemudian meninggalkan ruangan tersebut. Setelah kepergian Delia dan Melik kini ruangan tersebut hanya tersisa Kamisha dan Jonathan. “Aku lelah Jo harus berhadapan dengan Papamu yang diktator itu. Bagaimana kalau kita kawin lari saja.”
“Katakan saja pada orang tuamu untuk membatalkan pernikahan kita.”
“Mereka tidak akan mau. Kamu tahu sendiri bagaimana hubungan mereka.”
Suara teriakan seseorang membuat Kamisha terkejut. “Siapa itu?” tanya Kamisha namun belum sempat mendengar jawaban Jonathan, Kamisha sudah duluan ditarik keluar oleh Jonathan melalui pintu samping.
“Ada apa Jo?”
“Tidak ada. lebih baik kamu pergi sebelum Papaku mengamuk.”
Mendengar jawaban Jonathan, Kamisha langsung menaiki mobilnya. Semua orang yang mengenal Joseph sangat tahu bagaimana kiprahnya di dunia bisnis. Ia mampu melakukan apapun jika ada yang tidak beres menurutnya.
“Kenapa aku terjebak dengan mertua menakutkan seperti itu?” Kamisha merutuki dirinya sendiri saat meninggalkan rumah megah tersebut.
Suara teriakan tersebut terus terdengar ke luar rumah sampai si empunya rumah datang.
“Diamlah!”
Sementara, Jonathan memilih pergi dengan mobilnya meninggalkan rumah yang membuatnya marah bercampur sedih. “Megah tapi neraka.” gumam Jonathan dalam mobilnya.
Sementara seorang wanita hanya bisa menangis melihat sang putra yang tengah menderita. “Kau juga diam! Cukup anakmu saja yang berteriak seperti orang gila jangan tambah lagi”
“Baru sekarang kau katakan ini anakku. Di saat di sehat, dengan bangga kau katakan dia anakmu bahkan sampai dia tidak pernah mengenaliku lagi dan sekarang kak katakan dia anakku? Kenapa? Karena sekarang dia tidak bisa membanggakanmu lagi?”
“Dia sedang menerima buah dari perbuatannya, jadi jangan menyalahkanku! Aku sudah mendidiknya dengan benar.”
“Cih…memberi kebebasan tampa perhatian apa itu yang kesebut dengan mendidik? Harusnya kamu malu mengakui dirimu sebagai orang tua.”
“Diamlah, Ayu! Jangan sampai aku berbuat kasar padamu.”
Joseph pergi meninggalkan wanita yang masih berstatus istrinya tersebut. Bagi Joseph, kesedihan wanita hanya trik untuk meluluhkan hati laki-laki dan itu tidak berlaku untuknya.
Sementara itu, Sastri dan Danu kembali melancarkan misinya dengan dibantu oleh salah seorang teman Danu yang ahli dalam urusan pembajakan di dunia maya. Tentu saja ini tidak gratis, Sastri harus mengeluarkan cukup uang untuk membayar hacker tersebut agar mau membantunya. Sastri bahkan sampai membajak akun orang tuanya untuk mengetahui semua transaksi yang mungkin patut dicurigai.
__ADS_1
“Nona, apa Nona tidak salah? Akun Bapak di bajak juga?”
“Terpaksa, Mas. Aku tidak mau melewatkan sedikitpun informasi penting yang mungkin tersimpan di dalamnya.”
“Tapi, Non.”
“Tenang, Mas. Aman.”
“Baru kali ini saya melihat anak membajak akun ayahnya.”
“Itulah ciri-ciri anak berbakti.”
“Perspektif berbakti yang tidak boleh dicontoh.” Sastri mencibir perkataan Danu yang menyindirnya.
Bimo melakukan semua yang Sastri minta dan saat membuka akun ayahnya, Sastri meenmukan beberapa kejanggalan transaksi keungan. “Mas, apa ini?”
Mata Sastri sangat tajam dalam hal angka. Bahkan satu nol saja yang kurang, ia langsung tahu. “Siapa wanita dan anak laki-laki ini dalam foto ini? Mas Danu tahu?”
Danu hanya bisa menggelengkan kepala. Walaupun ia bekerja di sana selagi kuliah tapi ia sama sekali tidak pernah melihat wanita dan anak laki-laki itu disekitar tuannya.
“Kirimkan foto itu ke akunku! Data tadi juga ya?”
“Siap, Mbak.”
Sastri meninggalkan ruamh tersebuat lebih dulu. Banyak hal yang menggangunya setelah melihat wanita dan anak laki-laki itu. Dia juga melihat beberapa transaksi dengan jumlah nominal yang cukup besar.
“Apa yang Papa rahasiakan dari aku?”
Sastri mengendarai mobilnya dengan kencang, ia sudah tidak sabar untuk meminta penjelasan dari kedua orang tuanya. Namun, di tengah jalan ia justru menabrak belakang mobil di depannya saat mobil terseut berhenti mendadak. Sastri yang tersulut emosi lalu keluar dengan perasaan kesal tidak tertahankan.
Tok….tok….
“Keluar!”
Lama Sastri menunggu hingga lampu lalu lintas yang tadinya berwarna merah kini berganti hijau dan moil tersebut langsung melaju dengan kencang meninggalkan Sastri dengan kekesalannya. Sastri kembali ke mobilnya sambil mendapat makian dari beberapa pengguna jalan yang merasa kesal karena terhalang oleh Sastri.
Sesampainya di kediaman kedua orang tuanya, Sastri langsung masuk dan meletakkan ponsel berisi foto perempuan tersebut. “Papa punya istri lain di belakang Mama?”
Prangggg...
__ADS_1
***