
“Di mana Robin? Saya sudah melakukan pertemuan dengannya sebelum ini.” Tanya Melik setelah berjabat tangan dengan dua orang perwakilan dari JN Corp.
“Beliau dialih tugaskan ke perusahaan lain, Tuan.”
“Lalu apa kabar dengan Lady Jasmine?” Melik berharap mendapat secercah harapan untuk bertemu dengan pujaan hatinya.
“Maaf, Tuan. Kami juga tidak mengetahui kabar dari Lady Jasmine. Beliau hanya menghubungi kami jika ada keadaan penting.”
“Apa kalian tahu di mana Lady Jasmine berada saat ini?”
“Maaf, Tuan. Kami tidak tahu.”
“Oke, aku paham. Sekarang katakan bagaimana progres kerja sama kita?” Melik berusaha untuk menghilangkan pikiran buruknya tentang kondisi Jasmine.
Kedua pria itu saling melirik lalu menghela nafas, “Kedatangan kami ke sini adalah untuk memberitahukan pada Tuan jika pemilik dari JN Corp akan menjual saham miliknya yang berada di perusahaan Tuan.”
Melik masih mencerna ucapan pria di depannya lalu asisten Melik segera membisikkan sesuatu yang membuat mata Melik melebar sempurna. Melik terperanjat sampai terbangun dari duduknya.
“Maaf, Tuan. Sepertinya urusan kita sudah selesai karena kami hanya ditugaskan untuk memberitahukan Tuan supaya tidak terkejut dengan pemilik dua persen saham di perusahaan Tuan.” Melik belum mengerti sepenuhnya lalu ia segera membuka dokumen yang dibawa oleh perwakilan JN Corp, “Kapan aku menyetujui ini?” Melik lalu melihat tanggal yang tertera dan betapa terkejutnya ia saat melihat tanggal tersebut.
“Pimpinan kalian memang mafia. Kalian menjebakku? Aku tidak mungkin menjual sahamku dengan harga semurah ini. Sial, ini sangat tidak masuk akal. Aku akan menuntut ini.”
“Tuan, semua ini anda lakukan dengan penuh kesadaran. Kami juga memiliki videonya. Jadi, silakan anda membawa ini ke jalur hukum tapi saya pastikan ini akan membuat anda malu sendiri.”
“Tapi saat itu-“ kami juga tidak percaya. Anda seorang pembisnis handal tapi bisa ceroboh seperti ini. Kesahalan anda sangat fatal, Tuan. Kami ke sini hanya mewakili pimpinan dan keputusan pimpinan sudah bulat untuk menjual saham dari perusahaan anda. Orang yang membelinya juga sudah melakukan transaksi dengan pimpinan JN Corp. Baiklah, Tuan. Kami rasa pertemuan ini sudah lebih dari cukup. Kami permisi!”
Perwakilan JN Corp meninggalkan Melik yang sedang frustasi lalu dering ponsel Melik berbunyi. “Daddy ini-“
“Apa yang kamu lakukan, heh? Kamu ingin membuat Daddy bangkrut? Temui Daddy sekarang!”
Tuttt….
Melik dengan wajah kusutnya langsung terbang menuju Dubai. Ia harus menghadap ayahnya untuk menjelaskan perihal yang terjadi. Sementara di sebuah apartemen, seorang wanita sedang serius berbicara di telepon.
“Dalam waktu dekat akan diadakan rapat pemegang saham, saat itulah kamu hadir dan tunjukkan dirimu!”
__ADS_1
“Oke, Nona!”
Sastri tersenyum senang karena usahanya untuk mengacau Melik berjalan lancar. Di tempat yang berbeda yaitu kediaman Mahardika, Mega yang menyadari diri hanya menumpang hidup di rumah Ibu Ariyanti mulai mengubah kebiasaannya. Pagi-pagi sekali dia sudah bangun lalu membantu asisten rumah tangga di dapur kemudian ikut menyiapkan sarapan. Itu semua ia lakukan karena tidak enak hati terus berada di sana tanpa membantu apa pun.
“Tante sudah katakan jangan turun ke dapur, kenapa kamu nakal sekali?”
“Anggap saja aku sedang belajar, Tante. Keluargaku sudah bangkrut, aset sudah disita negara dan wanita itu juga sudah menceraikan Papa. Sekarang tinggal aku sendiri dan Papa di penjara. Aku ingin mempergunakan waktuku selama di sini untuk belajar sesuatu hal yang bisa membuatku mandiri setelah meninggalkan rumah Tante nanti.”
“Kenapa kamu berkata seperti itu? Siapa yang memintamu meninggalkan rumah ini? Tante ingin kamu di sini dan kalau soal belajar memasak, Tante tidak akan melarangmu lagi. Ah, akhirnya Tante bisa merasakan masakan buatan anak gadis. Tante punya anak satu tapi tidak pernah menyentuh dapur. Terima kasih ya!”
“Aku yang harus terima kasih, Tante.”
“Selamat pagi, Buk.”
“Eh, sudah datang. Ayo, sarapan dulu!”
Bapak Mahardika turun dan ikut bergabung bersama. “Pa, kita seperti sarapan bareng anak mantu ya?” ucap Ibu Ariyanti menatap sepasang anak muda di depannya.
“Ma, jangan membuat suasana jadi canggung. Biarkan saja seperti air mengalir. Anak muda zaman sekarang tidak suka dipaksa-paksa. Jangan sampai gara-gara Mama, Danu pergi meninggalkan Papa.” Timpal Bapak Mahardika.
Uhukkk…
Danu tersedak makanannya, “Ma!” protes Bapak Mahardika kembali.
“Mega, apa kamu tidak berniat melanjutkan kuliahmu?” tanya Bapak Mahardika serius.
“Tidak, Om. Suasana di kampus tidak seramah dulu. Lebih baik Mega belajar masak sama Bibik. Kalau nanti sudah mahir, Mega mau buka usaha saja.”
“Om daftarkan ke kursus memasak, mau?”
Mega kembali menggeleng, “Mega ingin belajar masak khas daerah, Om. Hanya sama orang daerah asli, kita bisa dapatkan resep murni yang masih berasal dari leluhur.”
Bapak Mahardika tersenyum, “Kalau kamu sudah pintar memasak takutnya bukan menjadi pengusaha tapi malah jadi istri seseorang.” Sindiran Bapak Mahardikan mengenai langsung ke hati Danu.
“Mana ada laki-laki yang mau memiliki istri yang keluarganya terkena kasus korupsi, Om? Mereka dan keluarganya pasti malu.”
__ADS_1
“Jangan berputus asa. Kita tidak pernah tahu akhir hidup kita akan seperti apa, bukan? Jadi tetaplah optimis!”
“Terima kasih, Om, Tante.”
“Sayang, apa kamu tidak mau menemui teman-temanmu?” tanya Ibu Ariyanti kembali.
“Tidak, Tante. Mereka pasti malu bertemu denganku. Aku juga tidak mau membuat mereka dijauhi oleh yang lain. Aku cukup di rumah saja sama Bibik. Tiap pagi pergi ke pasar buat berbelanja. Itu sangat menyenangkan, Om, Tante.”
“Baiklah kalau begitu. Terserah kamu saja. Asal kamu senang dan tidak memikirkan untuk pergi dari sini.” Mega mengangguk seraya tersenyum. Sadar atau tidak, senyumannya tertangkap oleh ekor mata Danu.
Bapak Mahardika dan Ibu Ariyanti yang sudah lama melintang di dunia percintaan menangkap gelagat lain dari pemuda di depan mereka.
Sastri terdiam memikirkan rencana selanjutnya untuk Delia dan Kamisha sementara ia juga harus membereskan si Nyonya Muda.
“Bagaimana, Bim? Apa kamu berhasil mendapatkannya?”
“Belum, Kak. Apa mungkin Jonathan telah berubah? Siapa tahu dia telah mendapat ilham hingga membuatnya berubah.”
“Jangan ngarang kamu, Bim? Aku bukan anak kecil yang mudah percaya sama semua itu.”
“Lalu apa, Kak? Semua yang Kakak ceritakan berbanding terbalik dengan apa yang sekarang ditemui Viona. Hanya ada dua kemungkinan, yang pertama dia sudah berubah dan yang kedua, itu bukan Jonathan yang asli.”
“Apa dia punya kembaran, Kak?”
Gleg…
Sastri menatap Bimo lalu menggeleng, “Tidak, Bim. Kamu sudah menelusuri silsilah keluarga Joseph bukan?”
“Sudah, Kak tapi ada satu yang membuatku bertanya, kemana istri Joseph itu? Wanita yang melahirkan Jonathan itu tidak pernah menampakkan dirinya.”
Sastri tersadar lalu, “Aku tahu di mana kita bisa mendapat jawabannya!”
***
__ADS_1
LIKE...KOMEN....