Dendam Si Petugas Pajak

Dendam Si Petugas Pajak
Kejutannnn...


__ADS_3

Adit tersenyum penuh kemenangan saat berada dalam taksi. Ia sudah menanamkan peretas dalam ponsel Ibu Ariyanti tanpa sepengetahuan wanita itu. Sebelum berpisah, Ibu Ariyanti meminta nomer ponsel Adit untuk mengatur pertemuan mereka selanjutnya dan saat itu digunakan oleh Adit untuk menyadap ponsel ibu dari Sastri tersebut.


“Wanita berjenis ibu itu memang unik tapi sayangnya aku gagal mendapat berita penting darinya. Sekarang aku tahu apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Sastri, tunggu saja. Kita pasti akan bertemu, soon!!!” gumam Adit melihat ponselnya. Ia sedang membaca pesan-pesan yang terkirim ke ponsel Ibu Ariyanti termasuk sejumlah kontak yang terdapat di dalam sana.


“Bagaimana pergerakan mereka?” tanya Adit pada orang suruhannya.


“Menurut informasi dari pelayan, ruangan privat yang dipesan atas nama Bapak Mahardika sedang dihias untuk kedatangan Nyonya Mahardika.”


“Apa itu artinya Sastri akan berada di sana?” gumam Adit.


“Lalu di mana mereka sekarang?”


“Mereka masih menunggu di ruang yang lain, Tuan. Sepertinya ini ulang tahun pernikahan mereka.”


“Kalian tetap awasi tempat itu!”


Sementara pelayan pria semakin banyak berdatangan dengan membawa sejumlah buket bunga untuk ruang privat itu bahkan sepanjang lorong sudah dipenuhi oleh bunga-bunga indah.


“Sepertinya ada yang akan mengadakan lamaran di sini.” ucap seorang pemuda pada kakaknya. Jordan melirik sekilas ke arah pintu masuk ruangan mereka yang dipenuhi oleh bunga.


Saat sepasang adik kakak itu larut dalam makan siang, seorang pelayang yang sedang memegang buket berjongkok lalu berdehem menatap mereka kemudian melemparkan selebar kartu ke pada mereka.


“Eh,” Jeremy terkejut sedangkan Jordan masih bersikap tenang. Ia meraih kartu tersebut lalu membukanya.


“Orang suruhan Diandra mengikuti kalian dan ponsel kalian juga disadap. Kalau ingin bertemu denganku, berganti peranlah dengan pembawa buket itu. Aku akan mendatangi kalian nanti.”


“Apa isinya, Kak?” Jordan menyerahkan kartu tersebut kepada Jeremy.

__ADS_1


“Bagaimana, Kak? Apa kita ikuti kemauan si pengirim ini? Jujur saja, aku penasaran dengan pengirim ini. Dari tulisannya, bisa dipastikan jika dia tahu tentang wanita ular itu.” Jordan menatap lekat wajah adiknya. Apa yang dikatakan Jeremy ada benarnya. Keduanya saling mengangguk lalu membuka jasnya dan menukar dengan dua pelayan yang sudah memasuki ruangan mereka.


Jordan dan Jeremy memakai kaos hitam, topi, masker lalu memegang buket bunga besar dan berdiri seperti yang lain.


“Pelayan yang lain langsung membawa buket ke kamar ya! Tolong tata dengan rapi dan secantik mungkin!” setelah kepergian para pelayan, Bapak Mahardika yang menunggu di ruang privat sebelah ruang Jordan akhirnya keluar lalu berjalan menuju ruang privat yang sudah terisi buket bunga untuk sang istri. Tidak lama setelah itu, Ibu Ariyanti datang dengan wajah merah padam dan langsung marah-marah melihat begitu banyak buket bunga di ruang privat itu.


“Jadi begini kamu memperlakukan si Nyonya Muda itu? Kamu jahat, Pa. Kamu mengatai mendiang Winata yang rabun tapi kamu sendiri sudah terpikat dengan si Nyonya Muda itu. Apa Mama perlu operasi plastik ke Korea biar mata kamu tidak jelalatan melihat si Nyonya Muda yang penuh dengan silikon ditubuhnya itu, heh?” Bapak Mahardika syok mendengar perkataan istrinya. Dia bingung sementara Danu tersenyum senang melihat bos kelimpungan menghadapi istrinya.


“Nu, kenapa Ibu bisa ke sini?” tanya Bapak Mahardika membuat Ibu Ariyanti semakin panas apalagi kedatangannya tepat di saat matahari sedang berada tepat di atas ubun-ubun.


“Ma, S-“ Danu langsung menyentun lengan bosnya. Bapak Mahardika tersadar lalu langsung berjalan mendekati istrinya kemudian berbisik, “Ini ulah Satsri!” Ibu Ariyanti terdiam kemudian menghela nafasnya lalu menatap Danu. Danu mengangguk pelan kemudian berujar, “Happy Unniversary, Bapak, Ibu, semoga selalu bahagia dan langgeng.”


“Terima kasih, Nu.”


“Kalau begitu saya permisi dulu, Pak, Buk.” Danu pergi meninggalkan sepasang suami istri yang sudah tidak muda lagi.


“Kenapa kita tidak sadar jika selama ini ponsel kita di sadap, Kak?”


“Karena kalian terlalu percaya dengan orang sama seperti mendiang Tuan Winata. Dia begitu percaya dengan gadis polos nan lugu hingga mau menuruti semua perkataan wanita itu.”


“Lalu  apa tujuanmu mendekati kami?” tanya Jordan tanpa basa-basi.


“Diandra! Aku ingin wanita itu mendekam di penjara.”


Dua pria muda itu terkekeh, “Aku harap kamu tidak akan kecewa.” Sarkas Jeremy.


“Dia itu punya seseoran yang kuat dibelakangnya.” Lanjut Jeremy.

__ADS_1


“Si tua Joseph yang akan menikahi mantan ibu tiri kalian kemudian meraup semua jerih payah ayah kalian lalu memindahkan ke atas namanya dan wanita itu. Setelah itu apa yang akan terjadi? Kalian selamanya hanya akan mendapat dua persen dari hak kalian yang sebenarnya. Apa kalian tidak ingin merebut hak kalian?”


“Apa kamu kira selama ini kami tidak mencoba?” Sastri tertawa kecil.


“Saat itu kalian belum punya pendukung. Sekarang, aku akan membantu kalian merebut semua itu, bagaimana?”


“Apa balasan yang kau harapkan? Tidak ada yang gratis, bukan?” sarkas Jordan.


“Aku tidak semiskin itu sampai perlu balasan atas apa yang aku berikan. Tujuanku adalah orang dibalik Diandra dan untuk mencapai orang tersebut aku butuh Diandra. Dan untuk menyingkirkan Diandra, aku perlu bantuan kalian walau sebenarnya aku juga bisa melakukannya sendiri tapi apakah adil jika aku saja yang bekerja lalu setelah itu kalian yang menikmati hasilnya? Aku ingin melibatkan kalian untuk keuntungan masing-masing, bagaimana?” Sastri menatap kakak beradik di depannya. Jeremy menatap kakaknya berharap sang kakak menyetejui keinginan wanita di depannya itu.


“Kak, sudah waktunya kita membalas dendam pada wanita ular itu.” Ucap Jeremy pada Jordan.


Bimo datang lalu menyerahkan ponsel Jeremy dan Jordan. “Apa sudah aman, Bim?” tanya Sastri.


“Seperti biasa, Kak.” Jawab Bimo lalu kembali ke mejanya.


“Bukankah kalian sudah pernah mencoba tapi gagal karena orang suruhan kalian justru berpihak pada wanita itu?” ucap Sastri kembali.


Lagi-lagi Jeremy menatap kakaknya, Jordan tersenyum sinis lalu menatap Sastri. “Kamu tahu banyak hal tentang kami tapi kami sama sekali tidak tahu tentangmu. Bukankah itu tidak adil untuk kami?”


“Satu hal yang hanya perlu kalian tahu kalau aku adalah salah satu putri dari musuh Joseph. Orang yang berada di balik ibu tiri kalian dan sebentar lagi dia akan menguasai harta mendiang ayah kalian. Kalau kalian tidak percaya padaku, terserah! Aku tidak memaksa. Baiklah, sepertinya aku sudah membuang waktu berhargaku hanya untuk bertemu kalian.” Ucap Sastri malas lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.


“Apa yang bisa kami lakukan untuk membantumu?”


 


***

__ADS_1


LIKE...KOMEN...


__ADS_2