
“Saudara Hendra Prayoga, saudara kami tangkap atas tuduhan penggelapan pajak serta penyuapan dan transaksi ilegal.” Suara Pak Wisnu membuat suasana yang tadinya sempat tenang tiba-tiba menjadi sedikit riuh. Apalagi para pengunjung restoran yang cukup ramai belum lagi beberapa meja yang sudah terisi tiba-tiba kosong karena ternyata pengisi meja tersebut adalah para petugas keamanan dari polda setempat.
“Apaan ini. Mana surat perintahnya? Kalian tidak bisa menangkapku tampa surat perintah dan bukti.” Protes Hendra yang sedang diborgol oleh seorang polisi.
“Semua bukti ada di kantor.”
“Ma, hubungi pengacara kita!”
“Dan kamu, Mahardika. Apa ini ulahmu?”
“Kenapa kamu menyalahkanku? Aku sama terkejutnya denganmu. Aku tidak tahu menahu soal kejahatanmu. Aku pikir pertemuan kita ini bisa menguntungkan kita berdua tapi apa? Kamu malah membuat namaku ikut terseret. Sekarang media sedang menunggu dan apa yang akan aku katakan pada mereka?”
Hendra Prayoga berhenti memberontak lalu menatap Mega penuh kebencian. “Ini semua gara-gara kamu, anak sialan! Jangan pernah injakkan kakimu lagi di rumahku! Sekalian saja kau jual dirimu sendiri. Dasar pembawa sial!” petugas pajak langsung menyeret Hendra ke luar dari restoran.
“Ingat yang tadi Papamu bilang. Dia melarangmu ke rumahnya. Jadi, mulai sekarang urus hidupmu sendiri dan lebih bagus lagi kamu jual tubuhmu itu pada pria kaya supaya kamu tidak perlu bersusah payah mencari kerja.” Ucap wanita seksi sekaligus ibu tiri Mega.
“Lalu aku menjadi sepertimu? Lebih baik mati dari pada jadi wanita murahan sepertimu.” Balas Mega.
“Lalu yang kau lakukan semalam mulia? Apa kamu masih mengingat dengan jelas apa yang terjadi saat kamu mabuk? Kamu yakin pria ini tidak berbuat apa-apa padamu? Atau pacar disk joki yang kau puja-puja itu tidak menyentuhmu sedikitpun. Ingat, aku murahan hanya pada ayahmu yang butuh belaian karena ditinggal mati ibumu yang selingkuh dengan rekan bisnisnya. Setidaknya aku tidak pernah menjajakan tubuhku pada pria lain setelah menjadi istri ayahmu. Pulang dan ambil barang-barangmu!”
Wanita itu pergi sementara Mega sudah mematung seraya menundukkan kepalanya. “Nak, kamu yang sabar ya!” sebuah pelukan yang diberikan oleh Ibu Ariyanti mampu membuat tangis Mega pecah. Ia begitu merindukan sosok ibunya tapi apa yang terjadi, ayahnya jutsru menikah dengan wanita muda yang sangat jahat dan tidak pernah peduli padanya.
“Duduklah, kita makan dulu!” Mega menuruti ucapan Ibu Ariyanti. Kehangatan seorang ibu dapat ia rasakan dari wanita itu.
Sementara di tempat yang tidak jauh dari sana, Adit sedang memukul kemudi saat berita penangkapan Hendra Prayoga muncul di ponselnya. “Di mana kamu, Satsri?” geramnya menatap ke arah restoran. Orang suruhannya telah mengirim foto dan ternyata itu bukan Sastri melainkan Mega.
“Wanita itu cerdik juga!”
__ADS_1
Di negara seberang, Sastri kembali tersenyum setelah Pak Wisnu mengabarkan jika buronan mereka telah tertangkap di Bali. Sastri hanya bisa tersenyum senang karena tugasnya satu persatu terselesaikan dengan baik.
“Kak, target selanjutnya kapan?” tanya Bimo sambil menatap layar komputer lipatnya.
“Tenang, Bim! Kita biarkan teman-temanku menyelesaikan ini dulu. Sekarang kita fokus ke Jonathan. Aku ingin melihat perkembangannya saat ini.”
“Lalu bagaimana dengan Melik?”
“Ah, Tuan Melik. Apa kabar dia? Bagaimana rasanya putus cinta? Aku ingin melihatnya, Bim. Apa bisa?”
“Tentu saja, Kak. Serahkan padaku!” Bimo langsung mengetik sesuatu di laptopnya dan terlihatlah kalau saat ini Melik sedang berada di sebuah bar. Ia seorang diri tapi pengawalnya berdiri tidak jauh dari sana. Semenjak kejadian penculikan itu, Melik selalu dikawal oleh orang-orang berbadan besar.
“Sepertinya ia berniat menghancurkan rumah tangga Tuan Moestafa.”
“Wah, hebat sekali dia. Apa yang terjadi jika Tuan Moestafa mengetahui apa yang putranya kerjakan?” tanya Sastri seraya tersenyum penuh arti menatap Bimo.
“Kak, tidak perlu senyum begitu. Seram!” tanpa Melik ketahui, ponselnya sudah disadap saat ia diculik oleh orang-orang suruhan Sastri.
“Apa itu tadi bahasa Rusia?” gumam Bimo karena baru kali ini ia mendengar Sastri berbicara dengan bahasa itu sementara Bimo hanya mengerti bahasa inggris.
Sastri tersenyum penuh kemenangan setelah menutup teleponnya. Namun senyum itu seketika lenyap saat kejadian malam itu kembali terlintas. Sastri memeluk tubuhnya berusaha menahan perih yang tiba-tiba merayap di sekujur tubuhnya.
“Kalian akan merasakan yang lebih dari yang kurasa!”
Di kelab The One, Jonathan sedang menjamu klien barunya. Seperti biasanya, para lady escort akan datang membawa minuman untuk mereka serta menjadi teman minum plus-plus. Saat seorang lady menuangkan minuman untuk Jonathan, pria itu langsung mengangkat sebelah tangannya. Ia menuang sendiri minuman tersebut ke dalam gelasnya.
“Ada apa Tuan Jonathan? Apakah pelayanan istimewa ini hanya untuk kami nikmati sendiri?” tanya seorang pria yang bertugas sebagai penerjemah.
__ADS_1
“Tidak, Tuan. Tapi aku sudah berjanji pada kekasihku untuk setia hanya padanya.” Bohong Jonathan.
Pria berkebangsaaan Rusia itu tertawa kecil setelah mendengar apa yang penerjemahnya katakan. Lalu mereka kembali menikmati minum-minum bersama sambil berbincang ringan tentang bisnis. Di meja bar, seorang wanita sedang menikmati minuman sendirian sambil sesekali melirik ke arah meja Jonathan.
“Dia salah satu pemilik saham kelab ini, Nona!” ucap salah satu pelayan.
“Hem,” balas si wanita.
Wanita itu meminta kertas lalu menulis sesuatu dan meminta seorang pelayan untuk memberikannya pada Jonathan. “Untuk orang yang eksklusif sepertimu seharusnya mendapat yang seimbang.”
Jonathan membaca lalu menatap punggung wanita yang ada di meja bar. Setelah pertemuan dengan koleganya, Jonathan berjalan menghampiri wanita yang mengirim kertas tadi. Jonathan langsung mengembalikan kertas itu ke hadapan wanita itu, “Terima kasih atas atensimu! Tapi sayang, aku tidak membutuhkannya.”
Jonathan pergi meninggalkan wanita itu yang sedang tersenyum penuh arti. Setelah Jonathan pergi, wanita itu juga meninggalkan kelab The One. Di dalam mobilnya, wanita tersebut langsung membuat panggilan pada seseorang. “Dia menolakku dengan angkuhnya!”
“Apa? Bagaimana bisa? Apakah kamu berpakaian seksi?”
“Apa perlu aku kirim fotku dengan pakaian terbuka seperti ini sampai membuat mata pria di kelab itu menatap lapar ke arahku. Aku tidak yakin jika dia pria seperti yang kamu katakan. Aku melihat sendiri bagaimana dia menolak pelayanan dari para lady escort.”
“Benarkah? Sulit dipercaya.”
“Lalu apa selanjutnya? Melihat dari sifatnya, aku pastikan ini tidak akan berhasil.”
“Baiklah! Kamu bisa istirahat sampai aku memikirkan cara selanjutnya.”
Tutttt….
Sastri merenungi apa yang dikatakan orang suruhannya. “Apa kamu sudah bertaubat, Jo? Apa setelah menyakitiku kamu mulai sadar? Tidak adil untuk kamu, Jo! Bertaubat atau belum, aku tidak peduli! Kamu harus merasakan kesakitan yang kurasa, Jo! Aku tidak akan tenang sebelum kalian menerima pembelasanku!”
__ADS_1
***
Kenapa Jonathan jadi bersikap dingin dan arogan pada wanita seksi??? Ada yg mau nebak????