
“Bagaimana? Kamu sudah menemukannya?” tanya Joseph pada Adit melalui sambungan telepon.
“Belum, Tuan.”
“Cih, mencari seorang gadis saja kau tak becus.”
“Dia berbeda, Tuan. Dia terlalu cerdas untuk ukuran wanita.”
“Makanya pakai otakmu. Dia itu anaknya Mahardika, orang-orang Mahardika pasti tahu keberadaannya. Apa aku juga harus menjelaskan cara menemukannya padamu?” gertak Joseph kesal.
“Tidak, Tuan. Saya akan menjalankan rencana lain untuk menemukannya.” Ucap Adit penuh percaya diri.
Setelah panggilan berakhir, Adit langsung menyusun rencana selanjutnya untuk menemukan Sastri. Sementara di Singapura, Sastri beserta Bimo untuk pertama kalinya keluar menikmati udara pagi setelah sekian lama berkutat dengan pekerjaan. Sastri sengaja mengajak Bimo untuk lari pagi supaya badan Bimo mengecil.
“Semangat, Bim. Pokoknya saat kamu bertemu mantan pacarmu itu. Kamu harus tampil maksimal dengan ketampanan yang paripurna mengalahkan aktor Korea.” Bimo hanya menggelengkan kepalanya. Dia yang selama ini mengenal makanan cepat saji tapi dalam sebulan ini, dia sudah melupakan makanan itu lantaran Satsri melarangannya. Sastri selalu memesan makanan khas Indonesia dari restoran Indonesia di sana.
Penampilan keduanya dalam mode penyamaran membuat orang-orang berpikir jika mereka adalah pasangan yang serasi karena keduanya memiliki berat badan yang sama. Ya, untuk menyamarkan penampilannya, Sastri memakai pakaian yang sudah dilengkapi dengan busa khusus hingga menampakkan bentuk tubuhnya yang gemuk sama seperti Bimo. Ia juga menggunakan kaca mata tebal dengan rambut keriting.
Sebulan kemudian…
“Aaaaaa.”
Suara ban berdecit membuat para pengguna jalan kompak melihat kejadian dimana seorang wanita tertabrak sebuah mobil yang sedang melaju dalam kecepatan sedang. Pria pengemudi itu langsung keluar untuk melihat kondisi wanita yang ditabraknya.
Wanita itu terduduk seraya memegang kepalanya. “Maaf, Mbak. Ayo, saya antar ke rumah sakit!” ucap pria yang tidak lain adalah Danu.
Wanita itu masih memegang kepalanya seraya menatap Danu tak berkedip. “Mbak, Mbak, Mbak dengar saya?” setelah Danu menggoncang bahunya pelan, wanita itu baru tersadar dan langsung melihat ke arah sekitarnya.
“Ayo, Mbak. Saya antar ke rumah sakit.” Gadis yang masih linglung itu mengikuti saja apa yang Danu katakan. Ia dibawa oleh Danu ke mobilnya tanpa penolakan. Sesampai di rumah sakit, wanita itu langsung diperiksa oleh dokter yang berjaga di UGD.
“Bagaimana, Dok?” tanya Danu gelisah.
“Tidak ada cedera yang serius. Hanya saja, Mbaknya masih syok makanya terlihat linglung begitu. Mungkin setelah beberapa hari, Mbaknya akan kembali normal seperti biasa. Setelah ini kami akan memindahkannya ke ruang rawat inap. Silakan isi administrasinya terlebih dahulu.” Danu mengangguk lalu ia bergegas ke meja administrasi untuk mengurus biaya pengobatan wanita yang di kartu identitasnya tertulis nama ‘Mayang’
Setelah selesai mengurus administrasi, Danu segera menuju ruang rawat inap Mayang. Wanita itu tertidur. “Kami memberinya obat yang mengandung penenang hingga pasien tertidur. Ini akan membantu pasien untuk lepas dari rasa syoknya.”
__ADS_1
Danu mendengarkan dengan saksama saat perawat menjelaskan kondisi Mayang secara rinci. Jujur saja, ia sempat khawatir dengan nasib wanita itu jika sampai kondisinya parah.
Dreeet…
Melihat nomer ponsel yang muncul di layar, Danu langsung keluar dari ruang tersebut.
“Hallo,”
“Hallo, Mas. Lagi di mana? Papa masuk rumah sakit ya?”
“Bukan. Saya hampir nabrak orang tadi. Untung saja tidak ada luka serius hanya syok dan sekarang sudah beristirahat di ruang inap.”
“Oh, aku pikir Papa sakit.”
“Tidak, Non. Bapak sama Ibu baik-baik saja. Apalagi kondisi perusahaan sudah mulai kondusif. Setelah Tuan Smith bergabung, beberapa investor yang merupakan teman Tuan Smith juga ikut bergabung dengan kita.”
“Baguslah! Aku senang mendengarnya. Tapi tetap hati-hati ya, Mas. Kita tidak tahu rencana apa yang sedang mereka jalankan. Jadi siapa wanita yang mas tabrak? Kenapa sampai bisa tabrakan, apa Mas mengantuk saat menyetir?”
“Tidak mungkin, Non. Saya sadar sesadar-sadarnya. Dan kecepatan mobil saya juga sedang.”
“Ada, sebentar lagi saya kirim ke Nona.”
“Baik, Mas. Nanti kalau sudah dapat info, aku kabari lagi.”
Setelah memutuskan panggilan itu, Danu menghela nafasnya sesaat lalu mengirim foto kartu pengenal Mayang untuk Sastri. Bimo langsung mencari tahu identitas wanita bernama Mayang itu berbekal nomor induk yang tertera di kartu identitas Mayang. Dengan keahlian yang dimilikinya, info tentang Mayang begitu cepat Bimo dapatkan.
Sastri membaca dengan saksama bersama Bimo. Ia juga melihat akun media sosial milik Mayang tersebut. “Bim, feeling aku kok gak sreg ya saat lihat ini.”
Bimo mengerutkan keningnya, “Terlalu biasa.” Ucap Sastri membuat Bimo semakin mengerutkan keningnya.
“Memangnya harus seperti apa, Mbak?”
“Bim, wanita ini terlalu biasa untuk sampai tertabrak mobil. Dia bahkan tidak mengonsumsi alkohol atau narkoba. Kehidupan sehari-harinya juga biasa saja. Hanya seorang pramuniaga di sebuah pasar raya lalu kenapa tiba-tiba jatuh di depan mobil Mas Danu? Coba kamu ikuti jalan pikiranku!”
“Apa mungk-?” Sastri mengangguk menatap Bimo.
__ADS_1
“Wah, kira-kira siapa ya?”
“Sudah pasti orang-orang Joseph. Dia pasti ingin tahu aku di mana melalui Mas Danu.
Sastri langsung mengirimkan sebuah pesan ke email Danu. “Mobilku mau dicuri orang.” Danu mengerutkan keningnya saat membaca pesan masuk ke akunnya.
“Apa pencurinya sudah tertangkap?”
“Sudah. Ternyata dia di dekatku.”
“Oke.”
Danu melirik pintu kamar wanita yang ditolongnya dengan lirikan sinis lalu memilih pergi dari sana. Setelah kepergian Danu, gadis bernama Mayang itu bangun dari tidurnya lalu mengintip ke luar. Dia juga lansung menghubungi seseorang melalui sambungan telepon.
“Hallo, dia sudah pergi setelah menerima telepon sayangnya, dia tidak menyebut nama saat berbicara dengan si penelepon itu.”
“Baiklah. Tugasmu sudah selesai.”
Hari beralalu berganti bulan hingga tidak terasa sudah enam bulan Pak Wisnu belum berhasil menangkap satu pun pejabat dan pengusaha yang sudah lama berada di daftar merah penunggak pajak.
“Pak Wisnu, sudah enam bulan tapi belum ada pergerakan apa-apa.” Ucap Pak Sumitro sebagai direktur yang menangani masalah pajak.
Saat ini para kepala divisi sedang mengadakan rapat pertengahan tahun di mana semua kepala divisi ikut bergabung. Pak Eko Wiryawan tersenyum kecil menatap lawannya yang sedang ditegur.
“Setelah kehilangan data kemarin, performa Pak Wisnu semakin menurun saja. Apa anggota divisi Pak Wisnu sedang kesulitan semua?”
“Tidak, Pak Eko. Kami hanya sedang mengevaluasi banyak hal sebelum melakukan tindakan. Tentu saja tidak boleh tergesa-gesa dalam menjalankan misi ini.” Jelas Pak Wisnu pura-pura bijak padahal hatinya sangat kesal melihat Pak Eko.
Ting…
Sebuah pesan masuk ke ponsel Pak Wisnu, setelah membaca pesan tersebut Pak Wisnu langsung meminta izin Pa Sumitro untuk menghidupkan televisi yang ada di ruang rapat tersebut.
“Tidak mungkin! Itu tidak benar!”
***
__ADS_1