Dendam Si Petugas Pajak

Dendam Si Petugas Pajak
Mega Si Anak Emas...


__ADS_3

Ting…


“Pa, aku pergi dulu ya! Maaf karena tidak sempat menemui kalian.” Ucap Sastri melalui saluran telepon setelah mendarat di Singapura.


“Tidak apa-apa, Nak. Tapi lain kali kalau kamu punya skenario lain jangan lupa kabari Papa dan Mama biar Papa tidak dituduh selingkuh sama Mamamu.” Sastri tersenyum di seberang sana.


“Apa kamu sudah mendapat apa yang kamu inginkan?” tanya Bapak Mahardika.


“Sudah, Pa. Kalau begitu silakan nikmati liburan kalian dan biarkan Mas Danu istirahat sebentar untuk mencari pasangan. Jangan sampai masa mudanya habis untuk mengurus orang tua seperti kalian.”


Tutttt….


Bapak Mahardikan hanya bisa menghela nafasnya saat sambungan teleponnya langsung diputus oleh sang putri.


Sementara saat ini Adit masih berada di Bali untuk memantau pergerakan orang tua Sastri. “Kenapa tidak ada tanda-tanda perayaan atau pesta yang akan digelar?” tanya Adit pada orang-orang suruhannya.


“Kami tidak tahu, Tuan.” Jawab mereka seraya menunduk.


“Pergi sana! Kalian memang  tidak becus.” Setelah mengusir anak buahnya, Adit mengambil kunci mobil lalu pergi menuju sebuah bar yang biasa dikunjungi jika berada di Bali. Tanpa diduga, dia justru bertemu dengan Danu. Ia memilih bangku tidak jauh dari Danu duduk. Adit sedang menerka-nerka apakah Danu mengenalinya sementara itu Danu justru sedang memikirkan apa yang akan ia katakan karena ini pertama kalinya ia bertemu dengan Adit secara langsung. Selama ini, dia sudah mencari banyak informasi untuk Sastri dan tentu saja dia juga mengetahui latar belakang Adit karena ikut membacanya.


“Menikmati minuman seorang diri biasanya hanya berlaku untuk dua tipe pria. Yang pertama, dia kesepian tanpa pasangan ataupun punya tapi terpisah jarak. Kedua, sedang banyak pikiran. Kamu termasuk yang mana, Tuan?” tanya Adit seraya menatap gelasnya.


Danu tersenyum kecil, “Entahlah karena aku tidak termasuk dalam dua tipe itu. Mungkin kau bisa menjawabnya untuk dirimu sendiri.”


Gleg…


“Sialan. Tajam juga mulut asisten Mahardika ini. Berarti benar apa yang dikatakan orang-orang jika asisten pimpinan Mandiri Putra lebih galak dari bosnya.” Batin Adit seraya tersenyum kecil ke arah Danu.


“Hemm…aku salah satu dari dua tipe itu. Aku sangat merindukan putri dari pemilik Mandiri Putra. Aku sedang menunggunya di sini. Apakah kau tidak berniat menghubunginya untukku? Tanyakan padanya, apa dia setakut itu padaku sampai harus bersembunyi di lubang tikus? Tanyakan juga padanya kalau dia memang berani, temui aku di kamar kita bermalam waktu itu.” Adit pergi meninggalkan Danu dengan gelas dan beberapa lembar uang di mejanya.


Sementara Danu menatap punggung Adit pergi meninggalkan bar tidak lantas membuatnya langsung menghubungi Sastri. Ia masih diam dan menikmati minumannya sampai jam dua belas malam.


Bug..


Danu ditabrak oleh seorang wanita yang sedang mabuk dan langsung memuntahkan isi perutnya di pakaian Danu.

__ADS_1


“Akhh…” Danu mengerang kesal menatap dadanya penuh dengan muntahan dari mulut wanita asing di pelukannya. Wanita itu terkulai lemas dengan mata terpejam hingga Danu membawa gadis itu ke pos sekuriti.


“Tolong kalian urus dia! Saya tidak mengenalnya.” Dua orang penjaga itu saling tatap. Danu ikut kebingungan apalagi wanita itu berpakaian sangat terbuka membuat Danu tidak tega meninggalkannya.


Danu tidak hilang akal, ia segera merogoh tas wanita itu lalu menemukan kartu identitas dan membuka ponsel wanita itu.


“Ck, ternyata dia baru dicampakkan oleh pacarnya.” Ucap Danu saat membuka akun perpesanan milik wanita yang dipanggil ‘Mega’ dalam pesan yang Danu baca.


“Hallo, kamu temannya Mega?” tanya Danu langsung menghubungi salah satu wanita yang Danu pikir sebagai teman dari Mega.


“Kamu siapa? Kenapa ponsel Mega ada sama kamu? Apa yang terjadi pada Mega? Mana dia?” Danu menghela nafasnya. Berbicara dengan perempuan memang butuh kesabaran sama seperti menghadapi Nyonya Bos.


“Temanmu pingsan di bar setelah meuntah di pakaian saya. Jemput sekarang kerana saya tidak punya waktu mengurus teman kalian!”


“Pak, tolong teman kami! Dia pergi diam-diam di rumah untuk menyusul pacarnya ke Bali. Orang tuanya tidak tahu kalau dia sedang Bali. Tolong jaga teman kami sampai besok kami sampai di sana. Tidak ada pesawat yang terbang ke Bali jam segini. Tolong, Pak. Kami mohon.”


“Besok, Bapak sebutkan saja semua kerugian biar dia bayarkan. Teman kami ini kaya raya hanya saja bodohnya tidak ketolong, Pak.” Danu menghela nafasnya lalu melirik ke arah dua orang sekuriti yang sedang berjaga.


“Tolong buka pintu mobil saya, Pak! Temannya akan datang untuk menjemput.” Pinta Danu.


Dreet…


Dreet…


Getaran ponsel membuat Danu tersadar. “Berani sekali dia menantangku. Baiklah, aku akan menemuinya di saat dan waktu yang tidak ia sangka.” Balas Sastri.


Danu sudah menceritakan tentang pertemuannya dengan Adit pada Sastri melalui pesan. “Kenapa tidak melakukan panggilan vidio?"


"Ada sedikit masalah di bar,-“


Saat Danu mengetik, Sastri langsung melakukan panggilan video. “Kenapa gelap sekali?” tanya Sastri.


“Saya mau tidur, Nona. Kenapa Nona masih menelepon saya?”


“Hidupkan lampu! Aku ingin melihat dengan siapa aku berbicara!”

__ADS_1


Klek…


Mata Sastri langsung menyipit saat melihat ada yang tidak beres di atas meja di depan Danu. “Tas siapa itu?”


Gleg…


“Mas Danu lagi sama pacar? Siapa?” jiwa ingin tahu Sastri sudah terlanjur keluar.


Danu tahu anak bosnya itu pasti tidak akan puas dengan nama dan alamat saja hingga pria itu memilih memotret kartu identitas Mega lalu mengirimkan untuk Sastri.


Tuttt….


Begitu identitas Mega terkirim, Sastri langsung mematikan panggilan video mereka. Danu hanya bisa menghela nafas melihat sikap Sastri yang sangat paranoid terhadap orang asing. Di tempat Sastri, Bimo sedang membobol data kependudukan lalu keduanya tercengang saat melihat identitas dari Mega.


“Wow,”


“Amazing.”


“Dia anak dari target petugas pajak selanjutnya? Apa yang akan Kakak lakukan kali ini?” Sastri tersenyum penuh arti menatap Bimo.


“Perasaanku tidak enak untuk ini.” Gumam Bimo lalu melihat Sastri mengambil ponsel kemudian menjauh darinya.


Danu hampir berteriak saat Sastri menghubunginya lalu meminta bantuan untuk menangkap ayah dari Mega.


“Mas, ayahnya itu licin sekali dan aku butuh pertolongan Mas kali ini untuk membuat sebuah adegan yang nantinya akan membuat ayah dari Mega keluar dari tempat persembunyiannya.”


“Memangnya siapa ayah dari gadis itu?”


“Pemilik tambang emas di Sumatra. Jadi bagaimana? Apa Mas Danu menolak pegawai pemerintah menjalankan tugasnya?”


Danu menghela nafas, “Apa yang harus saya lakukan?”


 


***

__ADS_1


LIKE...KOMENNNN


__ADS_2