Dendam Si Petugas Pajak

Dendam Si Petugas Pajak
Hendra Prayoga...


__ADS_3

Aaaaaa…..


Mega menjerit saat mendapati dirinya sudah memakai kemeja seseorang sementara Danu dengan santainya menikmati makan siangnya di sofa.


“Siapa kamu? Kenapa kamu membawaku ke sini? Di mana pakaianku? Apa yang sudah kau lakukan padaku?” Mega mencerca Danu dengan sederet pertanyaan sementara pria itu masih santai menikmati makan siangnya. Mega memeriksa tubuhnya sampai menyibak selimut untuk memeriksa organ vitalnya.


“Apa perlu kupanggilkan dokter untuk melakukan visum?” sarkas Danu membuat Mega tersadar.


“Maaf kalau aku sudah menuduhmu. Aku hanya terkejut saja karena tiba-tiba bangun dengan pakaian lain dan bersama seorang pria asing di kamar hotel begini.” Mega merasa bersalah.


“Sebentar lagi temanmu akan tiba.” Tiba-tiba raut wajah Mega berubah serius.


“Teman? Apa pria bajingan itu menghubungi ponselku? Ah, ponselku di mana? Teman-temanku pasti sedang cemas. Lalu Ayahku? Gawat! Kalau Ayahku tahu aku ke Bali,” Mega turun dari ranjang untuk mencari ponselnya sementara ia tidak sadar kalau apa yang dipakainya saat ini sangat menantang seorang pria seperti Danu. Apalagi saat Mega dengan santainya berjongkok ke bawah tempat tidur hingga hampir menampilkan kain segitiga miliknya.


“Apa kamu separah itu saat mabuk sampai melempar ponselmu ke bawah ranjang? Ini tasmu!” Danu menunjukkan Tas milik Mega yang ia simpan di bawah meja. Mega langsung berlari menghampiri Danu, ia merogoh tasnya lalu membuka ponsel dan sayangnya benda pipih itu malah mati. Wajah Mega langsung pias, “Mati!” ucapnya menatap Danu.


Tok…tok…


“Itu temanmu!” ucap Danu lalu Mega langsung berlari menuju pintu dan saat membuka pintu, raut wajahnya langsung berubah drastis.


“A-ayah.”


Plak….


Sebuah tamparan mendarat indah di pipinya membuat Danu dan kedua teman Mega yang berada di belakang ayah dari Mega ikut terlonjak kaget.


“Apa begini aku mendidikmu? Apa kurang aku memberimu uang sampai kau menjajakan diri pada pria asing? Kau menghina ibumu lalu apa yang kau perbuat saat ini, heh? Hinaan itu kembali padamu.”


“Ayah, aku bisa jelasin! Ini tidak seperti yang Ayah duga.”


“Oh ya? Lalu apa ini dan ini?” Mega tersadar jika ia masih memakai kemeja pria dan hanya menutup pahanya sepanjang sepuluh senti. Pria paruh baya bernama Hendra itu masuk digandeng oleh wanita cantik dan seksi di sisinya. Pria itu langsung duduk di depan Danu dengan angkuhnya.


“Apa pekerjaanmu, anak muda?” Danu tersenyum sinis.


“Aku sedang tidak mengikuti wawancara, Tuan Hendra Prayoga yang terhormat.” Ucap Danu menatap lekat pria paruh baya di depannya.


“Ck, mendengarmu memanggil namaku menandakan jika kau sudah mengenalku. Hanya pengusaha yang mengenalku. Katakan, apa nama perusasahaanmu bernaung?”


“Mandiri Putra!” ucap Danu mantap. Kedua pria itu terlibat kontak mata dengan pikiran masing-masing. Sementara tidak jauh dari sana, tiga orang gadis sedang saling berbisik.

__ADS_1


“Dia pria yang tampan.” Ucap Lisa pada kedua sahabatnya.


“Aku setuju kalau kamu sama dia dari pada sama si bajingan itu.” Timpal Andin.


“Kalian baru melihatnya hari ini, kenapa bisa langsung setuju aku dengannya. Bagaimana kalau dia residivis atau gembong narkoba atau bisa jadi mafia?” ujar Mega.


Plak…


Sebuah pukulan diterima Mega dari kedua temannya. “Makanya kalau orang bicara itu dengar! Kamu tidak dengar kalau pria itu tadi menyebut Mandiri Putra? Itu kan perusahaan besar dan terkenal dengan asisten presdirnya yang sangat galak.” Jelas Andin.


“Kamu tahu dari mana?” Selidik Mega.


“Kakakku yang cerita. Dia pernah mewakili Papaku untuk membahas masalah bisnis dengan Mandiri Putra dan yang datang saat itu adalah asistennya. Kakakku pulang ke rumah dengan muka masam lalu marah-marah tidak jelas selama seminggu karena ulah asisten Mandiri Putra.”


“Dia tidak mungkin asisten Mandiri Putra, kan?” celutuk Lusi membuat Mega menatap Andin penuh harap sementara yang ditatap hanya mengedikkan bahu.


“Kalau kalian penasaran, tanyakan langsung pada orangnya. Mumpung dia masih di sini.” Ucap Andin menatap Danu disusul Mega dan Lusi.


Ketiga gadis itu serentak menatap Danu yang terlihat santai bicara dengan pengusaha tambang emas terkenal di Indonesia bernama Hendra Prayoga. “Dia tidak takut sedikitpun sama Ayahmu, Meg.” Ucap Andin setengah berbisik.


“Coba bajingan itu yang bertemu Ayahmu. Pasti saat ini dia sudah kencing di celana.” Timpal Lusi. Ketiga wanita itu mengangguk.


“Danu.” Pria paruh baya itu merogoh sakunya lalu mengambil ponsel dan menekan sesuatu di sana.


“Hallo, Mahardika. Apa aku mengganggumu siang ini?” Danu menatap tajam pria di depannya saat ini.


“…”


“Maaf kalau aku mengganggu waktumu. Aku meneleponmu karena ingin mengatakan jika saat ini aku sedang berada di sebuah kamar hotel tempat Danu menginap. Apakah kamu mengenalnya?”


“…”


“Ya, aku menemukan dia bersama putriku di dalam satu kamar hotel di Bali. Aku ingin tahu apa dia benar asistenmu yang terkenal galak itu. Bagaimana kalau kita bertemu dan membicarakan langkah apa selanjutnya untuk kedua anak muda ini. Karena jujur saja, aku cukup malu melihat putriku berada di kamar asistenmu apalagi penampilan putriku cukup membuat skandal yang tidak enak di media jika sampai berita ini terbuka. Kita akan sama-sama dirugikan untuk ini, bukan?”


“…”


“Baiklah, aku tidak sabar bertemu denganmu nanti. Sampai jumpa nanti malam dan pastikan kalau asistenmu ini juga datang.”


“…”

__ADS_1


Hendra menyimpan ponselnya lalu menatap Danu.


Dreet…


“Ya, Buk.”


Danu menjauhkan sedikit ponselnya setelah mendengar suara teriakan dari sang nyonya bos sampai 20 detik kemudian Danu kembali mendekatkan ponselnya ke telinga.


“Iya, Buk. Danu akan datang.”


Tuttt…


“Apa yang anda inginkan dari bos saya?” tanya Danu menatap lekat pria paruh baya di depannya itu. Hendra tersenyum kecil lalu bangkit dari duduknya.


“Bosmu pasti sudah mengatakan tempat dan waktu pertemuan kita nanti malam, bukan? Datanglah jika kamu penasaran dengan apa yang akan aku katakan pada tuanmu.” Hendra membawa Mega bersama teman-temannya keluar dari kamar Danu. Sementara pria itu tersenyum penuh arti lalu mengambil ponselnya di atas meja.


“Bagaimana, apakah anda puas, Nona?”


“Sangat puas, Mas Danu. Terima kasih. Aku baru tahu kalau Mas Danu ternyata galak.”


“???” Danu tidak lagi merespon balasan dari Sastri. Ia menyelesaikan makannya lalu kembali melanjutkan tidurnya yang tertunda gara-gara kehadiran seorang gadis asing semalam.


Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Sebuah meja sudah disiapkan untuk pertemuan Pemimpin Mandiri Putra dengan pengusaha tambang emas, Hendra Prayoga.


“Bos, malam ini mereka mengadakan makan malam di sebuah restoran mewah.”


“Kirimkan alamatnya!”


Adit langsung memacu mobilnya menuju alamat yang dikirim oleh orang suruhannya. Sementara di lain tempat, beberapa orang juga sudah bersiap.


Ting…


Sebuah foto dikirim oleh orang suruhan Adit membuat Adit tersenyum penuh kemenangan.


“Pantau pergerakan gadis itu! Jangan sampai kehilangan jejaknya. Kalau itu terjadi, kaki kalian yang akan kupotong!” ancam Adit seraya melajukan kembali mobilnya.


“Sastri, tunggu aku sebentar lagi!”


***

__ADS_1


Kira-kira, apa yang akan terjadi ya???


__ADS_2