
Mobil terus melaju kencang, sementara Sastri hanya bisa merutuki keisengannya tyang telah memasuki mobil sembarangan. Walaupun berusaha tenang, tapi jau dari lubuk hatinya ia merasa takut. Apalagi, ia sama sekali tidak mengenal pria tersebut.
Mobil berhenti di sebuah jembatan tempat yang sama saat Sastri memotret plat mobil tersebut. Pria tersebut mematikan mobilny lalu keluar meninggalkan Sastri yang masih menerka-nerka maksud pria itu.
Sastri marah lalu ia melepaskan helmnya dan –
Tendangan yang seharusnya bisa melumpuhkan pria itu dengancepat ternyata salah. Pria tersebut cukup cekatan hingga mampu menghindari tendangan Sastri. Tidak terima tendangannya gagal, Sastri akhirnya melawan pria itu dan terjadilah perkelahian keduanya.
Pria tersebut bahkan harus menerima pukulan Sastri karena tidak tega melakukan kekerasan pada perempuan. Namun sebaliknya, Sastri merasa diuntungkan hingga ia bisa memberikan pikulan keras terhadap pria tersebut. Hampir dua jam mereka berkelahi namun tidak satupun antara keduanya yang menang melainkan mereka merasa kelelahan dan untuk bergerak saja mereka sudah sulit ditambah dengan rasa haus yang hebat membuat keduanya memilih berhenti. Keduanya berbaring di atas jembatan semabri menatap langit yang dipenuhi bintang.
Tidak satupun yang bicara. Mereka sibuk mengatur nafas dan menelan saliva masing-masing. Tenggorokan mengering dengan fisik yang lelah serta beberapa bagian tubuh terasa sakit dan perih.
“BERITA VIRAL pagi ini. Sepasang muda mudi ditemukan tertidur di atas jembatan yang sedang dibangun. Pasangan muda mudi yang ketahuan tertidur itupun menjadi viral lantaran wajah mereka yang mengundang rasa penasaran warga. Sang pemuda menggunakan helm pengaman seperti pemain kriket sedangkan sang gadis terlihat lebam dan sedikit luka di bagian pelipisnya seperti habis berkelahi. Yang menjadi pertanyaan warga adalah, jika mereka sedang berkelahi kenapa mereka justru tertidur bersama di atas jemabatan? Para warga tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari dua orang itu. Mereka langsung pergi begitu terbangun oleh keributan warga yang sedang memotretnya. Sekian berita viral hari ini.”
“Antarkan aku ke area balap!”
Pria tersebut tidak menjawab, ia fokus mengemudi sambil sesekali menahan sakit di bagian tubuhnya. Sastri sendiri sedang melihat wajahnya di kaca spion walau tidak teralu jelas tapi cukup mengagetkannya.
Sesampainya di area balap, Sastri langsung turun dan pria tersebut juga langsung melajukan mobilnya meninggalkan area tersebut.
Begitu membuka pintu mobil, Sastri langsung disambut dengan dering ponsel yang terletak dalam tasnya. Ia sengaja tidak membawa keluar tasnya karena ingin bersenang-senang.
“Apa ini? Kenapa banyak begini?”
Dan betapa terkejutnya Sastri saat melihat tautan yang dikirimkan oleh beberapa rekannya. Ia segera melajukan mobil meninggalkan area balap menuju kediaman orang tuanya.
“Mbok….”
“Iya, Non.”
“Tolong obatin ini!” pinta Sastri dengan raut wajah dibuat-buat.
Dan selama diobati, Si Mbok yang sudah tidak muda lagi tidak berhenti berpidato padanya. Sastri tidak berani membantah karena sudah tahu si Mbok akan berbuat apa jika membantahnya. Dia bisa membantah orang tuanya tapi si Mbok menjadi manusia satu-satunya yang tidak terbantahkan.
__ADS_1
“Non itu cantik kenapa berantem?”
“Menang tidak? Kalau tidak menang mah rugi atuh. Apa gunanya sabuk hitam jika berantem saja sampai luka begini.”
“Masi mending si Mbok, biarpun tidak sabuk hitam tapi sekali nonjok preman bisa KO mereka.”
“Aduh…pelan-pelan Mbok.”
“Ini sudah pelan atuh, Non. Makanya, sebelum berantem diskusi dulu. Contoh, gak boleh pukul wajah, perawatan mahal. Gak boleh pukul perut nanti susah makan. Gak boleh tendang kaki nanti patah gak bisa jalan, cacat gak ada yang mau nikahin. Gitu atuh, Non.”
“Kalau gitu ya gak jadi berantem donk, Mbok.”
Ibu Ariyanti pulang dan pidato untuk Sasrti semakin bertambah. Setelah diobati, Sastri lagsung meninggalkan rumah orang tuanya. Ia sudah telat masuk kerja jadi hari ini akan ia habiskan untuk beristirahat dengan tenang di rumah.
Namun, belum sempat rencananya terlaksana, ia kembali mendapat panggilan jika sebentar lagi ada rapat penting dan semua anggota harus hadir. Semua rekannya sudah pasti hadir dan peringatan untuk Sastri langsung dikirim oleh Pak Wisnu di group.
Sastri kembali masuk ke rumah orang tuanya dan tujuannya kali ini adalah lemari pakaian sang ibu. “Ma, pinjam baju semi formal. Aku ada rapat.”
“Lemari ke 3,” teriak sang ibu dari dapur.
Suasana rapat yang seharusnya menegangkan berubah menjadi aneh lantaran kehadiran Sastri. Pak Wisnu sendiri harus menahan tawa saat melihat Sastri menggunakan rok mengembang berbahan katun dipadukan dengan atasan motif bunga berlipit di bagian depan dengan kancing di bagian tengah leher hingga dada.
“Gayamu seperti nyonya-nyonya Belande jaman dulu.”
Sastri diam saja saat teman-temannya berbisik macam-macam terhadap penampilannya yang sudnagguh bukan seleranya.
“Oke, rapat kali ini kita akan membahas masalah yang sangat penting yaitu ada pembobolan data yang terjadi semalam dan kita kehilangan data beberapa data penting. Oleh karena itu, kita diminta untuk segera melakukan pengumpulan data kembali karena ini ada hubungannya dengan kasus Delia dan PH Entertaiment.
“Kenapa data itu bisa hilang? Kita kan sudah membuat salinannya?” tanya Sastri penasaran karena dia sendiri yang membuat semua salinan data penting itu.
“Itulah yang membuat saya heran. Kenapa salinannya juga hilang.”
Saat tim Sastri tengah kesusahan karena kehilangan data penting, dua orang anak manusia berbeda usia justru tengah bersuka cita di sebuah kamar dipenuhi dengan botol minuman. Joseph tertawa setelah mendapat pesan bahwa mereka telah berhasil melaksanakan tugas. “Mereka memang bodoh.”
__ADS_1
Kamisha kembali tertawa dengan segelas alkohol di tangannya. Dengan tubuhnya yang polos sejak semalam, Joseph kembali menyerangnya hingga gelas di tangan Kamisha jatuh ke lantai.
“Kau sungguh memabukkan.”
“Dan kau sungguh perkasa, Joseph.”
Suara teriakan itu kembali terdengar dari dalam vila sementara Jonathan justru meringis saat diobati oleh seorang perawat laki-laki di rumahnya. Sang ibu hanya bisa melihat dari jauh bagaimana putra keduanya kesakitan.
Sastri segera meninggalkan kantor setelah rapat usai dengan alasan berganti pakaian dan mengobati wajahnya yang penuh memar.
“Siapa pria itu, Sas?”
“Entah, aku juga tidak mau tahu.”
Sastri pergi meninggalkan kantor, “Aku ke tempatmu ya?”
Setelah mengirim pesan, Sastri langsung melajukan mobilnya menuju sebuah tempat yang hanya ia dan Danu ketahui.
“Bagaimana? Berhasil?” tanya Sastri ketika ia sampai ke lokasi rahasinya.
“Kamu bawa pesananku?”
“Tentu, lihat saja!”
Sebuah tas berisi berbagai makanan cepat saji. Sastri mendekati layar komputer dan melihat hasil yang telah didapatkan dan ternyata –
“Tidak mungkin. Ini pasti salah kan?”
“Tidak ada yang salah, Sas. Teknologi gak bisa bohong bukan seperti manusia.”
“Tapi ini tidak mungkin.”
***
__ADS_1