
Sastri membeku untuk sesaat. Apa yang ia lihat sungguh diluar dugaan. Ia tidak bisa percaya tapi yang Bimo katakan memang benar, “Teknologi tidak bisa berbohong seperti manusia.” Danu datang membawa minuman pada Sastri.
“Ada apa?”
“Mas, aku tidak percaya ini. Lihatlah!”
Danu juga sama dengan Sastri, “Bagaimana mungkin?” ucapnya pada Sastri.
“Jangan tanya aku, Mas. Aku juga sama bingungnya dengan kamu. Selama ini semuanya sia-sia kalau begini. Semua data di kantor hilang begitu saja dan sekarang apa yang harus aku lakukan.
“Apa aku harus memberitahukan Pak Wisnu dengan semua bukti ini?”
“Itu sama saja kamu membuka identitas kamu sendiri. Mereka pasti akan mengintrogasi kamu nanti dan kamu pasti tahu pertanyaan apa yang akan mereka tanyakan pertama kali. Kalau dilihat dari aksinya, orang ini seperti punya backingan lain di atas yang bisa memback upnya.
“Benar juga kamu, Mas. Aku hampir bertindak gegabah. Jadi bagaimana kantor akan menangkap mereka jika dari dalam saja sudah ada mata-mata.”
“Kirim bukti ini ke petugas PPATK, biar mereka yang bertindak.”
“Apa mereka gak curiga? Mereka pasti mengira aku orang kantor makanya bisa dapat akses ini.”
“Aku harus bicara dengan Pak Wisnu untuk ini.”
“Bagaimana kalau dia tahu kamu main belakang?” pertanyaan Danu membuat langkah Sastri terhenti.
“Kalau kamu salah langkah, semua rencana kita akan gagal.” Ucapan Danu kembali menyadarkan Sastri tentang tujuan sebenarnya ia menjadi pegawai pajak.
“Ingat, Kamisha dan Jonathan masih bebas. Dan perusahaan papamu masih tidak jelas statusnya. Apa kamu akan membiarkan ini semua terjadi?”
“Aku harus bagaimana, Mas? Kepalaku hampir pecah saat ini.”
“Kamu secara terang-terangan sudah mengusik Joseph. Kamu tahu sendiri tua bangka itu seperti apa. Bagaimana kalau kita mundur beberapa langkah untuk mempersiapkan semua dengan penuh pertimbangan?” usulan Danu cukup masuk akal.
Tapi Sastri tidak mau berhenti di situ saja. Dia harus menemui Jonathan. Ia yakin, persoalan ini akaan mendapat titik temu jika bertemu dengan Jonathan. Biarlah ia yang mengalah. Toh, mengalah bukan berarti kalah.
__ADS_1
Sastri pergi meninggalkan rumah Bimo lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju perusahan Jo Grup. “Saya ingin bertemu dengan Jonathan. Tolong hubungi dia!” Dua wanita resepsionis itu saling melirik, “Maaf, Mbak. Jonathan yang Mbak maksud dari bagian mana ya?”
“CEO kalian, Jonthan putra Joseph. Cepat!”
“Maaf, Mbak. Apa sudah membuat janji temu terlebih dahulu?”
Sastri berusaha meredam emosinya, “Katakan padanya kalau SASTRI dari perusahaan Putra Mandiri ingin bertemu. Penting!”
“Silakan, Mbak. Bapak sudah menunggu di ruangannya.”
Seorang pegawai diminta untuk mengantar Sastri ke lantai 15. Sepanjang berada di dalam lift, Sastri terus memikirkan bagaiman malunya ia harus bertemu kembali dengan Jonathan. Lalu apa Jonathan akan menertawakannya atau memandangnya dengan pandangan hina?
“Mbak, kita sudah sampai.” Ucap salah satu pegawai lalu mereka keluar dari lift menuju resepsionis berikutnya. “Dengan Mbak Satsri dari Putra Mandiri?”
“Iya,” jawab Sastri singkat.
Sekretaris itu tersenyum ramah lalu mengantar Sastri menuju ruangan Jonathan.
“Pak, Mbak Sastri sudah datang.”
Sastri menarik nafasnya dalam-dalam lalu melangkah masuk ke ruangan tersebut.
“Silakan duduk!” ucap Jonathan setelah melihatnya sekilas lalu pria itu ikut duduk berhadapan dengan Sastri di sofa.
“Ada apa Nona Satsri dari Putra Mandiri ingin bertemu dengan saya?” tanya Jonathan menatap Sastri lekat.
Mata mereka bertemu tapi Sastri tidak menemukan Jonathannya di sana. Tatapan mata itu berbeda dengan mantan kekasihnya.
“Kenapa dengan Jonathan? Apa dia sedang berakting?”
“Nona Sastri!” panggil Jonathan kembali.
Sastri tersadar dari lamunannya. “Apa yang kau lakukan pada perusahaan ayahku? Apakah konflik pribadi ayahmu dengan ayahku harus berimbas ke perusahaan? Katakan pada ayahmu supaya tidak menjadi pengecut dengan menggunakan cara kotornya menghancurkan perusahaan ayahku. Ayahmu sudah tua kenapa tidak bersikap layaknya orang tua yang hampir mati. Apa dia tidak sadar umurnya sudah sepuh begitu. Ayahmu sangat tidak profesional.”
__ADS_1
“Maaf Nona Satsri, aku rasa kalau kau ada masalah dengan ayahku. Temui saja dia dan katakan semua yang kau katakan tadi langsung padanya. Aku juga tidak punya waktu untuk mendengar semua perkataanmu.”
“Wah, wah. Seorang Jonathan yang suka bermain-main jadi berubah serius sekarang? Apa jabatan CEO mampu merubahmu menjadi lebih baik? Bagiku kau tetap pria terhina yang pernah kutemui. Kau sama saja seperti binatang di luar sana.”
“Cukup!!! Ucapanmu sudah menunjukkan siapa dirimu. Sekarang pergilah karena aku tidak punya waktu meladeni wanita sepertimu.” Jonathan bangun lalu melangkahkan kakinya menuju pintu. Ia menarik pintu lebar-lebar seraya menatap Sastri.
Sastri tersenyum kecil, “Wanita sepertimu, seperti apa aku di matamu, Jo? Apa seperti barang yang bisa kau pakai setelah kau jebak lalu setelah puas kau berikan aku pada dua binatang lain? Apa aku begitu, Jo. Kamu pantas mendapatkan penghargaan untuk seni peran terbaik dengan aktingmu yang sempurna ini. Ingat, Jo. Kamu itu binatang berbentuk manusia!” Rahang Jonathan mengeras menahan emosi dari setiap kata yang Sastri ucapkan.
Ia menutup pintu kantornya dengan keras setelah kepergian Satsri. Sementara itu dari salah satu kamar hotel, Joseph sedang tertawa dengan sorotan mata tajam penuh arti melihat video yang sedang tayang dari ponselnya.
Ya, ruangan tempat Jonathan berbicara dengan Sastri telah dipasangi kamera pengintai. Joseph dapat melihat dengan jelas siapa saja yang datang dan apa yang mereka ucapkan. Berbisnis puluhan tahun tentunya tidak membuat Joseph dengan mudah melepas tanggung jawab pada Jonathan. Ia juga harus memantau semua gerak-gerik putranya itu. Bagi Joseph, ia hanya mempercayai dirinya sendiri.
Seorang wanita memasuki kamar VVIP tersebut dan langsung menarik tali pakaiannya hingga terlihatlah kemolekan tubuh Kamisha yang sudah bergerak dengan gaya sensual mendekati Joseph. Hotel tempatnya berada adalah salah satu asetnya hingga ia tidak perlu takut untuk membawa wanita ke sini. Tidak ada yang akan meliput atau mengikuti sampai ke sini. Semua sudah ia atur secara rapi. Otak licik dan tangan kotor Joseph adalah panduan yang sempurna dalam menajalankan bisnis hingga ia menjadi orang kaya dengan aset yang sangat fantastis.
“Apa kamu sedang menonton calon suamiku bekerja?” tanya Kamisha dengan nada sensual ditelingan Joseph.
“Temanmu mendatanginya ke kantor.” Ucap Joseph membuat Kamisha berhenti tiba-tiba.
Aw…
“Lanjutkan! Jangan pikirkan hal lain saat kau melayaniku.” Joseph mencengkram lengan Kamisha kuat hingga wanita itu menjerit lalu ia kembali melayani pria tua bangka itu dengan penuh semangat.
Sementara Sastri yang sudah kembali ke apartemennya kembali menemukan bingkisan bunga di depan pintu.
“I miss you so much,”
***
Hai...hai...aku datang lagi....
maaf ya baru up lagi setelah sekian purnama...
Jangan lupa LIKE, KOMEN sebanyak-banyaknya...
__ADS_1
Aku tunggu....terima kasih....🙃