Dendam Si Petugas Pajak

Dendam Si Petugas Pajak
Lady Jasmine...


__ADS_3

Pak Eko tidak bisa berbuat apa-apa saat tim PPATK dan juga Pak Wisnu selaku rival membekuknya di kantor. Semua anggota divisi Pak Eko menunduk malu ketika anggota divisi Pak Wisnu mendatangi ruangan mereka lalu mengambil semua dokumen dan hardisk komputer mereka untuk bukti. Rekaman CCTV yang berhasil Bimo pulihkan dari ruangan Pak Wisnu mengguncang publik ketika wajah Pak Eko dengan jelas terlihat sedang mengutak-atik komputer Pak Wisnu. Pak Eko ditahan dengan tuduhan melindungi para pejabat korup dan menghilangkan bukti dari divisi Pak Wisnu. Pak Eko  keluar gedung menggunakan rompi kuning bertuliskan ‘TAHANAN’


Di Singapura, Sastri dan Bimo sedang menonton tayangan berita sambil makan keripik. “Wah, gerak mereka cepat juga ya!” ucap Bimo.


“Pasti, mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk terkenal, Bim. Dengan bukti seakurat itu mana mungkin mereka diam saja.”


“Lalu selanjutnya apa, Kak?”


Sastri diam sejenak, matanya menatap lurus ke arah televisi. “Melik!”


“Sultan Dubai rupanya! Perusahaannya memakai orang yang sama dengan Joseph. Aku sudah membobol tapi susah sama seperti Jo Grup.”


“Susah bukan berarti tidak bisa, Bim. Untuk Sultan Dubai itu kita akan memakai cara lain.” Ucap Sastri percaya diri.


“Cara apa, Mbak?”


“Bunga!” mendengar perkataan Sastri, Bimo hanya geleng-geleng kepala. Terlalu banyak trik di kepala wanita yang sudah dianggap kakak kandungnya. “Kamu jalin lagi komunikasi dengan mantanmu itu dan kali ini usahakan untuk bertemu. Dia pasti jatuh cinta jika melihat penampilanmu sekarang.”


“Nanti aku usahakan!” jawab Bimo kurang semangat.


Sastri memantau pergerakan Melik melalui akun media sosial para sosialita dan grup-grup anak kolomerat serta grup balapan yang biasa ia ikuti. Mereka hanya tahu jika pemilik akun dengan dengan gambar kuda jingkrak itu adalah orang yang sering mengikuti balapan dengan mereka tapi identitas sebenarnya si pemilik akun tetap menjadi tanda tanya untuk mereka.


Ting…


“Kapan kita balapan lagi? Kuda Jingkrak, kami merindukanmu di landasan!” Sastri tersenyum kecil. Ia sudah terbiasa dengan panggilan Kuda Jingkran dari mulut peserta balapan.


“Kalau uangku sudah habis, aku lebih dulu yang akan menghubungi kalian!” Setelah Sastri membalas, maka para peserta grup satu per satu bermunculan kecuali Jonathan. Pria itu hanya membaca isi percakapan mereka terutama si Kuda Jingkrak yang sudah membuatnya berpikir keras.


Di sebuah bar, seorang wanita memasuki bar di dampingi oleh dua orang penjaga laki-laki berbadan tegap menggunakan jas lengkap. Wanita itu dengan anggun dan angkuh berjalan menuju meja yang telah di reservasi sebelumnya. Ya, untuk bar kalangan atas memang harus melakukan reservasi terlebih dulu supaya mendapat pelayanan yang memuaskan termasuk pelayanan dari lady escort yang akan mendampingi mereka minum.

__ADS_1


Beberapa pelayan langsung mendatangi meja tempat wanita seksi dengan pakaian serba minim itu duduk seraya bermain ponsel. Kulit mulus nan putihnya berbanding terbalik dengan gaun seksinya yang berwarna gelap hingga menapilkan kulitnya yang menonjol.


“Hei, kemari!”


Melik yang sejak tadi memperhatikan wanita itu terlihat penasaran. Apalagi jika wanita itu sampai membawa penjaga sudah pasti dia dari kalangan atas atau keluarga dari salah satu petinggi perusahaan.


“Serahkan ke meja 26!” perintah Melik lalu mengeluarkan beberapa lembar uang sebagai tip untuk si pelayang.


Sesampainya di meja nomer 26, pelayang tadi langsung memberikan kertas titipan Melik pada wanita yang masih fokus pada ponselnya.


“Maaf, Nona. Ada pria yang menitip ini untuk Nona.” Wanita itu menghentikan aksinya lalu mengambil kertas kecil itu dari tangan pelayan lalu mengambil pulpen dalam tasnya, “Apa begini caramu mendekati seorang wanita?” tulisnya.


“Berikan ini lagi untuk pria tadi. Oh ya, berapa tip yang kamu dapatkan dari pria itu?” tanyanya pada si pelayan.


“300 ribu, Nona.” Jawab si pelayang ragu.


“300 ribu harga untuk menemuiku? Aku memberikan pelayan itu 100 dolar untuk jasanya. Pria miskin sepertimu mau berkenalan denganku? Mimpimu terlalu tinggi, Dude!” Melik meremas kertas itu di tangannya lalu berjalan menghampiri meja wanita tadi.


“Awas kalian!” ucap Melik pada dua pengawal wanita itu yang sudah menghalangi jalannya.


Wanita itu tersenyum sinis menatap dengan ekor matanya pada Melik dan itu berhasil membuat harga diri Melik terinjak-injak.


“Kau berani karena ada mereka? Ck, kau pengecut yang berlindung dibalik badan besar pengawalmu.”


“Apa itu penting bagimu? Biarkan dia! Aku mau lihat seperti apa pria miskin ini di depanku!” dua pengawal tadi mundur ke belakang wanita tadi. Melik merapikan kembali jasnya lalu berjalan menatap wanita itu lekat. Wanita itu mengambil sebotol wine lalu menuangkan ke dalam gelas setelah itu diberikan beberapa butir es batu dengan gaya yang sangat elegan. Gelas yang sudah terisi wine dan es batu itu kemudian di goyang pelan dengan mata menatap lekat pada pria yang sudah duduk di depannya itu.


“Aku, Melik dan aku salah satu investor di bar ini. Kamu baru pertama datang di sini jadi aku penasaran padamu.” Ucap Melik tanpa basa-basi.


“Lalu?” wanita itu kembali membalas perkataan Melik dengan pertanyaan singkat yang membuat Melik harus berpikir keras menghadapi wanita yang hatinya sudah terpaut diam-diam itu.

__ADS_1


“Aku hanya ingin berkenalan denganmu secara baik-baik. Apa kita  bisa melakukannya?” tanya Melik menekan egonya serendah mungkin. Dia tidak pernah merendahkan diri pada wanita manapun tapi kali ini dia terpaksa karena rasa penasaran yang amat sangat pada wanita itu. Diam-diam, Melik memindai penampilan wanita itu dan ia tahu betul jika wanita di depannya itu bukan orang sembarang.


“Jam tangan limited edition, Kalung berlian dengan bentuk ular menggigit ekornya itu juga tidak murah. Fix, dia incaranku selanjutnya.” Batin Melik percaya diri.


“Apa yang kau harapkan dari perkenalan kita?”


“Banyak! Kita bisa menjadi teman atau kalau kita profesi kita bergerak di bidang yang sama, kita bisa menjalin kerja sama yang menguntungkan tentunya.” Ucap Melik optimis tapi sayang, jawaban dari wanita itu justru membuat senyum Melik hilang dalam sekejap.


“Teman dalam dunia bisnis hanya untuk mereka yang saling membutuhkan tapi aku tidak!”


Gleg…


“Wanita ini sulit juga!” batin Melik merasa gagal.


“Boleh aku tahu namamu?”


Wanita tadi memberikan kode pada salah satu pengawalnya lalu salah satu dari mereka memberikan selembar kartu nama ke tangan Melik bersamaan dengan bangkitnya wanita itu lalu melangkahkan kaki meninggalkan Melik yang masih terpaku di tempat.


“Lady Jasmin”


“JN Corp”


“Dia???”


 


***


Maaf ya lama baru up....terima kasih yg masih setia sama Sastri....

__ADS_1


__ADS_2