Dendam Si Petugas Pajak

Dendam Si Petugas Pajak
Sekretaris Plus-plus...


__ADS_3

Seperti yang diperhitungkan, Melik benar-benar menjadikan Jasmine sebagai sekretaris plus-plusnya walaupun tidak sampai ke tahap bercinta tapi setiap ada kesempatan, Melik selalu mencium Jasmine bahkan mengajaknya menemui klien tanpa membawa sekretaris asli. Seperti siang ini, Melik harus menemui klien penting dan Jamsine lah yang diajak.


“Apa kamu senang karena pekerjaanmu banyak berkurang, Rosi?” tanya Jasmine pada sekretaris Melik.


“Tentu, Nona. Aku bisa pulang tepat waktu dan punya waktu untuk berkencan dengan pacarku.” Jawab Rosi penuh kepalsuan. Bagaimana dia bisa senang kalau selama beberapa kali dia juga pernah bercinta dengan Melik dan saat ini dia merasa cemburu pada Jasmine karena Melik memperlakukan wanita itu seperti ratu.


“Sayang, ayo berangkat!” ajak Melik keluar dari ruangannya.


“Ayo!” Jasmine langsung merangkul Melik mesra dan semua staf di kantornya sudah mengetahui jika Jasmine adalah calon istri bos mereka karena Melik sendiri yang memberitahukan karyawannya.


Setiba di restoran mewah, Melik sudah disambut oleh kliennya. Mereka berjabat tangan tidak terkecuali dengan Jasmine dan jabat tangan itu terasa lama di mata Melik.


“Nona Jasmine, anda wanita tercantik yang pernah saya temui. Apakah anda masih sendiri?” Melik langsung meletakkan sendoknya lalu menatap kliennya serius. “Dia bukan sekretaris saya, Tuan. Jasmine adalah calon istri saya dan sekarang dia sedang berperan sebagai sekretaris untuk saya.” Jamsine tersenyum menatap Melik sementara klien Melik langsung meminta maaf atas itu.


“Sayang, setelah ini aku tidak akan membawamu menemui klien pria lagi. Mata mereka sangat liar menatapmu.”


“Dan sekretaris klienmu juga sangat liar menatapmu!” balas Jasmine.


Tanpa Jasmine ketahui, Melik dan kliennya tadi pernah bertukar sekretaris di kamar hotel. Mereka sama-sama memiliki fantasi bercinta yang sangat liar.


Melik kembali ke kantor setelah menyelesaikan pekerjaannya. Seseorang yang sangat dia hindari tiba-tiba mengunjungi kantornya.


“T-tuan Joseph.” Lirih Melik langsung berdiri dari duduknya.


“Kenapa kau melihatku seperti itu? Aku sudah lama tidak berkunjung ke kantormu. Apa begini sambutanmu?” Melik gelagapan lalu mempersilakan Joseph untuk duduk.


“Kamu mengganti sekretaris?”


Gleg…


“Tidak, Tuan.”


“Lalu siapa wanita cantik di meja depan?”


“Gawat, alasan apa yang harus aku buat kali ini? Kalau aku mengatakan Jasmin pacarku, tua bangka ini pasti tidak akan percaya dan justru malah curiga. Kalau aku katakan calon istri, dia pasti akan bertanya asal usulnya.” Batin Melik.


“Kenapa kamu diam? Apa yang sedang kamu sembunyikan?” Melik menusap tengkuknya.


“Ck, dia teman tidurmu?” Melik terpaksa mengangguk.


“Ada apa Tuan ke sini?”

__ADS_1


“Tidak ada! Aku mendapat laporan jika selama beberapa hari ini ada wanita yang terus menempel padamu dan itu membuatku penasaran. Panggilkan dia!”


Gleg…


“Sialan! Tua bangka ini ternyata mengikutiku.”


Dengan terpaksa Melik memanggil Jasmine ke dalam ruangannya. “Ya, Tuan. Ada yang Tuan butuhkan?” Joseph memindai Jasmine dari atas ke bawah.


“Tolong buatkan teh untuk kami!” Jasmine mengangguk lalu berlalu dari sana.


“Melik!” Melik langsung menyadari makna panggilan itu.


“GAWAT!!! Bagaimana aku mengatasi ini? Kalau sampai Joseph membawa Jasmine pasti pengawal Jasmin akan turun tangan dan Joseph langsung mengetahui identitas Jasmine.”


“Aku ingin bercinta dengan wanita itu! Apa kamu keberatan berbagi denganku?” permintaan yang tidak mungkin Melik tolak.


“Tuan, dia agak berbeda sedikit.”


“Maksudmu?”


“Aku saja belum bisa menidurinya.”


“Makanya aku bilang dia berbeda dengan Rosi. Dia tidak menggodaku dan tidak juga mudah tergoda olehku.”


“Maaf Jasmine, pria tua itu menginginkanmu. Lakukan apa saja asal dia tidak bisa membawamu. Aku tidak mampu melawannya. Nanti aku ceritakan padamu tentang dia.”


Tok…tok…


Jasmine datang membawa dua cangkir teh. Mata Joseph menatap lapar saat Jasmine menunduk saat menyuguhkan teh kehadapannya dan Melik hanya bisa menahan kesal karena calon istrinya ditatap oleh si tua bangka, Joseph.


“Duduklah di sini!” Jasmin menatap ragu lalu menatap Melik dan pria itu hanya mengangguk lemah.


“Siapa namamu?” tanya Joseph menatap mata Jasmin lalu turun ke bibir dan berakhir di dada wanita itu yang memakai kemeja ketat dengan dua kancing terbuka kesukaan Melik.


“Jasmine, Tuan.”


“Mendekatlah!” Jasmin kembali menatap Melik dan pria itu hanya bisa mengangguk pasrah. Jasmine mendekat lalu tangan Joseph langsung menyentuh pipinya membuat Jasmine reflek menghindar.


Mata Jospeh menangkap tanda merah di dada terbuka milik Jasmine. “Ck, kau bilang tidak menidurinya tapi tanda di dadanya justru mengatakan sebaliknya.” Ucap Joseph menatap Melik.


Tangan Joseph menarik pinggang Jasmin membuat wanita itu terkejut dan dadanya langsung membusung menabrak dada bidang Joseph. “Tuan, kenapa anda menarik saya. Lepaskan saya, Tuan.” Jasmine berontak, dia menatap Melik penuh harap tapi Melik justru diam saja dengan keadaan frustasi melihat kekasihnya dilecehkan Jospeh.

__ADS_1


“Tuan, dia kekasihku. Tolong lepaskan dia!” pinta Melik.


“Sejak kapan kau menganggap seorang wanita sebagai kekasih? Selama ini kita saling berbagi barang bagus, bukan?” sahut Joseph tanpa menatap Melik. Dan mata Melik melebar sempurna saat Joseph mencium paksa bibir Jasmin lalu sebelah tangannya langsung mendarat di dada wanita itu. Jasmin meronta mencoba mendorong tubuh Joseph.


“Melik, tolong aku!” ucap Jasmine membuat Melik langsung berdiri dan menghampiri wanitanya.


Dengan sedikit dorongan, Melik mampu menarik Jasmine dari terkaman Joseph membuat pria itu kesal menahan marah. Jasmine langsung memeluk Melik seraya menangis dan pria itu langsung menghadiahi wanitanya dengan kecupan-kecupan ringan di wajah Jasmine.


“Sekarang kamu bersihkan diri dulu dan istirahatlah di kamar!” ucap Melik lembut.


“Siapa wanita itu?”


Gleg…


“Dia calon istriku, Tuan. Dia gadis polos dan lugu yang pernah aku temui.”


“Polos dan lugu dari mana jika pakaian yang dikenakannya seperti wanita malam begitu.”


“Aku yang memintanya, Tuan. Jangan ganggu dia! Kali ini aku tidak ingin berbagi dengan siapa pun.” Ucap Melik tegas.


Joseph bangun dari duduknya lalu beranjak pergi, “Aku akan membawa sekretarismu!” ucapnya saat akan mencapai pintu.


“Silakan!”


Setelah kepergian Joseph, Melik langsung menemui Jasmine di kamarnya. “Sayang, kamu sudah tenang?” Melik merangkak menaiki tempat tidur.


“Aku takut, Melik. Siapa pria tua itu dan kenapa kamu sangat patuh padanya?”


Mereka berbaring di tempat tidur dengan Jasmine dipelukan Melik. “Dia itu seperti sutradara yang mampu membuatku mengikuti semua kemauannya. Dia memiliki kelemahanku hingga membuatku patuh padanya.”


“Apa yang sudah kamu perbuat sampai setakut itu padanya?” Jasmine menatap wajah Melik lembut lalu mencium bibir pria itu lembut penuh kasih.


“Sayang, aku tidak mau pria itu hadir dalam hidup kita. Kamu tahu sendiri bagaimana keluargaku? Apa aku harus menghancurkan pria itu terlebih dahulu supaya hidup kita tenang?”


Melik tersenyum lalu mengecup bibir Jasmine sekilas, “Dia tidak semudah itu kamu hancurkan, Sayang.”


“Kamu meragukan keluargaku?”


***


Ada yang bisa menebak???

__ADS_1


__ADS_2