Dendam Si Petugas Pajak

Dendam Si Petugas Pajak
Nyonya Muda Diandra Winata...


__ADS_3

Ting...


“Target selanjutnya!” Sastri tersenyum saat Pak Wisnu mengirimkan sebuah nama padanya. Selama ini Sastri bekerja sangat maksimal dibalik kesuksesan Pak Wisnu dalam menangkap pengusaha nakal.


“Bim,” pemuda tampan itu menoleh.


“Target selanjutnya CEO raja minyak goreng.” Bimo mengangguk lalu jari-jarinya dengan lincah mengotak-atik papan tombol.


“Sudah aku kirim ke Kakak.”


“Makasih, Bimo Sayang!”


“Kak, Please!!! Aku geli mendengarnya.”


Sastri tertawa lalu ketika dokumen yang dikirimkan Bimo terbuka, wajahnya langsung berubah serius. Tidak ada lagi canda tawa dari keduanya.


“Tua bangka itu punya peran juga.”


“Makanya dia cepat kaya!” sahut Bimo.


Sudah jadi rahasia keduanya jika panggilan Sastri untuk Joseph adalah tua bangka. “Rakyat kita menderita sementara dia tertawa karena pundi-pundi uangnya terus bertambah.” Mereka kembali serius dengan pekerjaan masing-masing.


Di tempat terpisah, Danu sedang bertemu dengan salah satu investor bersama Bapak Mahardika. Danu selaku asisten selalu mendampingi Bapak Mahardika saat menemui kliennya tapi kali ini ada yang berbeda dengan klien Bapak Mahardika. Danu terlihat tidak suka dan menatap jijik ke arah klien tersebut.


“Bagaimana kalau pertemuan selanjutnya kita adakan di Bali, Tuan?” suara manja penuh rayuan terdengar menjijikkan di telinga Danu.


“Mungkin pertemuan ke depan akan diwakili oleh anak muda ini saja, Nyonya Muda. Karena istri saya bakal mengamuk kalau tahu saya menemui klien wanita tanpa mengajaknya.” Ucap Pak Mahardika terkekeh.


Namun Danu justru kesal karena Bapak Mahardika justru memintanya untuk menemui sang Nyonya Muda.


Belum reda kekesalan di hati Danu, ia kembali dikejutkan dengan adegan di mana sang Nyonya Muda mencium mesra pipi Bapak Mahardika tiba-tiba.


“Kalau boleh jujur, saya lebih suka bertemu denganmu, Tuan!” bisik sang Nyonya Muda yang tertangkap oleh telinga Danu.


Setelah kepergian Nyonya Muda, Bapak Mahardika juga pergi meninggalkan ruang pertemuan rapat di kantornya.

__ADS_1


“Dia genit sekali.” Gerutu Danu membuat Bapak Mahardika terkekeh.


“Dia cantik, seksi, kaya, janda lagi. Kenapa kamu tidak mencoba merayunya? Siapa tahu dia tertarik padamu.” Goda Bapak Mahardika.


“Wanita seperti dia tidak mengincar pria muda kere. Dia lebih memilih pria tua kaya yang hampir mati untuk mendapatkan harta. Saya yakin dia sedang mengincar  Bapak.” Bapak Mahardika tergelak.


“Kamu tidak tahu Ibu di rumah seperti apa? Ibu itu seperti singa betina yang baru melahirkan. Makanya kamu hati-hati sama Ibu!”


“Kenapa saya? Bapak yang harus hati-hati apalagi setelah wanita itu mencium Bapak. Saya yakin parfum wanita itu pasti menempel di baju Bapak.” Bapak Mahardika yang sedang berjalan tiba-tiba berhenti.


“Coba endus saya!” Danu tertawa melihat wajah gelisah bosnya. Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya lalu menyemprotkan ke hadapan tuannya.


“Itu parfum saya, Bapak tenang saja!”


Sementara di salah satu ruangan pribadi milik Joseph, ia sedang menikmati siang penuh gairah dengan wanita yang baru saja tiba di kantornya.


“Susah sekali ingin mendekatinya. Apa kamu tidak bisa berbuat sesuatu supaya aku bisa bertemu secara pribadi dengannya?” rajuk wanita itu manja seraya menggesek-gesek dadanya di depan wajah Joseph.


“Dia memang tipikal pria setia, Sayang. Kamu harus sabar merayunya.”


“Kamu tahu aku bukan wanita penyabar, bukan?” ucapnya menyeringai seraya mengerlingkan sebelah matanya ke arah Joseph.


Diandra dengan tekad kuat untuk mengubah nasibnya menjadi wanita kaya lewat jalur pintas dengan menikahi Tuan Winata yang sudah berumur.


Usaha Diandra tidak mudah karena dia harus menghadapi dua putra Winata tapi akal licik yang dia miliki berhasil membungkam dua putra Winata bahkan saat Tuan Winata meninggal dua bulan yang lalu, dua putra Winata harus rela mendapat warisan lebih sedikit dari pada ibu tiri mereka.


Masing-masing dari dua putra Winata hanya mendapatkan lima persen saham sebagai warisan dari ayah mereka. Dalam waktu singkat, Diandra sang nyonya muda berhasil menjadi janda kaya raya dari wasiat suaminya.


Lelah bermandi peluh, mereka menyantap makan siang yang sudah Joseph pesankan di ruang kerjanya.


Mereka menyantap makan siang seraya membahas tentang rencana mereka selanjutnya.


“Nyonya Joseph, kapan kita akan mengumumkan pernikahan kita?” tanya Joseph penuh harap.


Joseph adalah pengusaha sejati. Dia tahu ke mana harus berpijak untuk menambah pundi-pundi uangnya.

__ADS_1


“Sayang, kamu lupa kalau aku sedang menjalankan misi darimu?” protes Diandra manja lalu dengan lahapnya, Joseph kembali meraup bibir manis itu. Selain kaya raya, Diandra juga seksi dan cantik hingga wanita itu menjadi target utama Joseph saat ini.


Mereka kembali beradegan panas di atas sofa tanpa henti sementara di depan pintu, Kamisha justru sedang menonton pria dengan status calon ayah mertua plus-plus itu sedang bergulat dengan wanita lain. Bahkan yang lebih menyakitkan hati Kamisha adalah ketika dirinya hanya dijadikan pelayan pemuas sementara saat bersama Diandra, Joseph justru tak segan menjadi pelayan pemuas untuk wanita cantik itu.


Kamisha langsung pergi meninggalkan kantor Joseph dengan penuh kekesalan. Mobil yang ia kendarai akhirnya berhenti di area parkir sebuah gedung bertingkat yang tidak kalah dengan kantor Joseph.


Wanita itu langsung pergi menuju lift dan menekan tombol paling tinggi.


“Selamat datang, Nona!” Kamisha tidak menjawab sapaan sang sekretaris. Ia langsung masuk menemui CEO Jo Group yang tak lain adalah tunangannya yaitu Jonathan.


“Kenapa kamu seperti itu melihatku?” Kamisha mendudukkan dirinya di depan Jonathan.


“Sepertinya kamu salah ruangan. Di sini kantor Jonathan bukan kantor pria yang kau tiduri.”


Gleg....


Jonathan tersenyum sinis, “Aku diam bukan berarti aku tidak tahu permainan kalian. Tapi satu hal yang membuatku bertanya, kenapa kalian sangat ingin menghancurkan Putra Mandiri Tbk?”


“Ck, kenapa tidak kau tanyakan saja sendiri sama ayahmu!”


“Baiklah kalau begitu. Aku tidak punya waktu untuk bicara denganmu.” Jonathan beranjak tapi langkahnya terhenti saat mendengar kata-kata Kamisha.


“Kamu dan saudaramu sama-sama menyedihkan! Dia yang berbuat kamu yang bertanggung jawab.”


Kamisha melangkahkan kakinya menuju pintu, “Aku ragu kalau ditubuhmu mengalir darah Joseph!” ucapan terakhir Kamisha sebelum meninggalkan kantor tunangannya.


“Aku akan membuatmu merasakan arti kehilangan!!!”


Selepas kepergian Kamisha, ucapan wanita itu berhasil menyita pikiran Jonathan. Ia mulai menduga-duga apa yang terjadi di masa lalu antara Joseph dan CEO Mandiri Putra Tbk.


Jonathan mulai mengingat satu persatu memori masa lalunya saat hidup dengan ibunya di sebuah rumah. Di sana juga ada seorang pria dan wanita dengan seorang anak perempuan.


“Apa mungkin mereka orang tuaku?”


 

__ADS_1


***


Hayo,,,ada yang mau tebak???


__ADS_2