Dendam Si Petugas Pajak

Dendam Si Petugas Pajak
Bertemu Adit...


__ADS_3

Berita orang hilang atas nama Joseph dan Melik mencuat ke media masa begitu cepat di saat semua mata wartawan masih mempertanyakan pemeran utama video tersebut yang sudah lama menghilang.


“Ah, paling juga sembunyi. Orang kaya kan memang seperti itu tingkahnya. Tidak hanya orang kaya, para koruptor juga banyak yang begitu.” Cela salah satu wartawan setelah mendengar konfrensi pers dari polisi tentang hilangnya Joseph dan Melik.


“Iya, aku juga curiga seperti itu. Sudah jadi rahasia umum apalagi dia juga berurusan dengan polisi. Lebih baik sembunyi dari pada mendekam di penjara.” Sahut yang lain.


Berita hilangnya Joseph justru menjadi cibiran dari penduduk negeri setelah mengetahu sepak terjang sang pengusaha. Johan selaku pion masih bolak-balik ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Di saat yang sama, Jonathan juga sudah dimasukkan ke rumah sakit oleh orang tua Sastri. Gencarnya pemberitaan tentang keluarga Jo Group akhirnya berimbas ke Jonathan. Berita tentang Jonathan yang menderita penyakit kelamin yang sudah komplikasi membuat publik kembali gempar. Sepak terjang Jonathan akhirnya sampai ke luar negeri akibat rasa penasaran publik dan para pemburu berita.


Latar belakang Jonathan semasa sekolah bahkan kuliah ikut ditelusuri sampai akhirnya sampai pada kasus yang pernah terjadi bertahun-tahun silam. Jonathan yang sempat dilaporkan ke polisi karen kasus pemerkosaan terhadap pacarnya ikut menguak tabir masa lalu Sastri.


“Pa, ini tidak benar kan?” Ibu Ariyanti mengelus dada saat berita pemerkosaan yang menjerat Jonathan dan putri mereka menguat ke publik.


“Yanti, maafkan putraku!” hanya itu yang dapat Ayu ucapkan pada sahabatnya.


Ibu Ariyanti langsung menghubungi putrinya, “Sayang, apa benar berita itu?” Sastri justru terkekeh.


“Ma, aku sudah baik-baik saja karena mereka sudah membalas mereka dengan setimpal.”


“Nak, tapi-“


“Ma, aku sudah melupakannya. Jadi, berhenti membahas ini. Fokus ke depan, Ma. hidupku terlalu berharga untuk menangisi peristiwa itu.” Ibu Ariyanti termenung sesaat kemudian mengakhiri teleponnya dengan terpaksa karena Sastri minta izin untuk melanjutkan pekerjaannya.


Banyak pesan yang masuk keponselnya tapi Sastri memilih abai dengan semua itu. Dia tidak mau dikasihani. Hanya Bimo yang seolah tidak tahu apa-apa dan bersikap biasa saja. Berbulan-bulan tinggal bersama, ia cukup paham dengan karakter temannya.


Ting…


“Hi, aku sudah berhenti menjadi orang Jo Group. Apa kau punya pekerjaan untukku?” sebuah surat elektronik masuk ke akun Bimo membuat si empunya menegerutkan kening.


“Kak, lihat ini!” Sastri langsung menghampiri meja Bimo.


“Buktikan!” balas Sastri.


“Pria ini sedang mencari bosmu. Dia tahu bosmu di Singapura tapi aku tidak bisa melacakmu.” Pesan baru muncul beserta sebuah foto.


“Buktimu kurang!” balas Sastri kembali.


“Bersiaplah! Setelah ini publik akan kembali gempar oleh berita. Hitung mundur sampai sepuluh di mulai!”

__ADS_1


Seperti yang dikatakan akun tersebut, mereka kembali dibuat tercengang dengan semua foto, video dan bukti transfer serta berbagai perjanjian yang muncul di internet tentang Joseph, Melik, Andrew, Delia, Kamisha, Jonathan.


Semua berita tentang skandal, perjanjian penuh kelicikan serta barter saham dengan pelayanan wanita sebagai balasan dalam berbagai bentuk membuat publik tercengang. Suap pejabat, hingga barter informasi dengan sekretaris lawan bisnis mengantar Joseph menjadi pengusaha yang sangat berpengaruh.


Ting…


“Bagaimana? Apa itu cukup untuk membuktikan kesetianku?” tanya si pemilik akun kembali.


“Berikan alasan yang logis untuk pembelotanmu!”


“Aku perempuan dan mengetahui kalau bosmu digilir oleh mereka membuatku marah.”


“Oke, aku terima alasanmu.”


“Aku punya video malam itu tapi setelah mengetahui apa yang terjadi, aku sudah menghapusnya.”


“Terima kasih dan dari mana kau tahu kalau bosku orang yang kau maksud?”


“Aku tidak bodoh! Aku sudah melacak semuanya sebelum mengirim email padamu.”


“Terima kasih!” balas Bimo.


Sementara Viona, semenjak kasus Jo Group menguat. Gadis itu sudah lebih dulu menghilang dari sana. Saat ini, gadis itu tengah menikmati liburannya di sebuah pulau di bagian eropa. Sesekali ia masih mengingat  Johan tapi pekerjaannya sudah selesai dan dia tidak mau menjalin hubungan lebih.


Tanpa orang suruhannya di belakang komputer, Adit tidak bisa melacak apa pun. Pria itu saat ini sedang di Singapura untuk mencari Sastri. Dia terus menyusuri jalan berharap akan bertemu dengan wanita yang sudah menipunya. Tapi belakangan ini, setelah melihat video yang menimpa Sastri. Adit tiba-tiba menyerah hingga getaran ponsel mengangetkannya.


“Hallo, Mas Adit.”


“Sastri.” Suara wanita terkekeh membuat Adit tersenyum sinis.


“Kamu masih ingat suaraku, Mas. Aku menunggumu di seberang jalan.” Adit segera melirik ke arah café dan terlihat seorang perempuan sedang melambai padanya.


Adit segera berjalan dengan perasaan berkecamuk.


“Hai Mas, apa kabar?” tanya Sastri dengan senyum cerah secerah mentari.


“Ck, aku mencarimu ke mana-mana tapi kamu dengan mudah menemukanku. Hebat sekali anda Nona Sastri.”

__ADS_1


“Aku anggap itu pujian.” Sastri melambai tangan pada seorang pelayan.


“Apa kabar?”


“Seperti yang Mas lihat. Aku minta maaf atas apa yang sudah terjadi pada Mas Adit.” Pria itu tersenyum sinis.


“Aku ingin sekali membalasmu, Nona tapi rasa sukaku membuat dendamku berubah menjadi sayang.”


“Sayang atau kasihan? Sebagai informasi kalau aku tidak butuh dikasihani.”


“Aku tidak mengasihanimu, Nona. Pekerjaanku banyak apalagi saat ini aku sudah miskin.” Sastri tertawa membuat Adit yang melihat wanita itu terkagum-kagum akan ketegaran hatinya.


“Sas, boleh aku tahu di mana Joseph dan Melik?” pandangan keduanya bertemu.


“Di neraka!”


“Kenapa kamu tidak melibatkan Andrew? Bukannya dia juga ikut andil?”


Sastri ternyum penuh arti menatap ke depan. “Kamu sangat misterius, Nona. Aku merasa takut di dekatmu. Membayangkan rencanamu yang diluar perkiraan membuatku berpikir, apakah aku juga akan mendapat pembalasan darimu?”


Sastri kembali tertawa, “Mas, aku tidak punya masalah denganmu kecuali saat kamu membela Joseph dan antek-anteknya. Soal kamu tertangkap tangan, aku minta maaf karena sebagai warga negara yang baik aku harus membantu para petugas pajak.”


“Baiklah, aku tidak mempermasalahkan lagi. Sekarang aku sudah tahu apa yang terjadi dan tidak berniat membela mereka. Tapi aku masih penasaran dengan keberadaan dua makhluk itu.”


“Yakin Mas ingin tahu?” Adit mengangguk cepat.


Sastri mengambil ponselnya kemudian memutar sebuah video kemudian memperlihatkan pada Adit. Mata pria itu terbelalak dengan mulut menganga, “Tutup mulutmu, Mas. Apa kamu ingin juga?”


“Sas, itu?”


“Itu apa, Mas? Katakan yang jelas!” goda Sastri.


Oeek….


“Sas, aku mual!”


***

__ADS_1


LIKE...KOMEN...MAKASIH...


__ADS_2