Dendam Si Petugas Pajak

Dendam Si Petugas Pajak
Jordan & Jeremy...


__ADS_3

“Bawa Melik menjauh dari Joseph!” Jasmine tersenyum sinis lalu mengahapus pesan dari nomor tak bernama itu.


Saat ini dia sudah berada di sebua kapal pesiar yang akan membawanya bersama Melik ke tempat di mana mereka berjanji akan menikah. Melik sudah tertidur setelah meminum segelas anggur yang berisi obat tidur. Sementara di daratan, Joseph tengah diamuk kemurkaan setelah mendapati wanita yang diincarnya telah menghilang bersama Melik.


Joseph yang semula berpikir jika Jasmine akan datang padanya lalu menyerahkan diri padanya tapi sayang harapannya tidak sesuai kenyataan.


“Kalian cari wanita itu beserta Melik!” perintahnya pada para pengawalnya.


“Hallo, carikan identitas wanita ini!” titah Joseph melalui saluran teleponnya.


“Tenang, Tuan. Melik tidak mungkin pergi meninggalkan semua hartanya. Keluarganya juga tidak akan tinggal diam kalau dia menghilang. Dia pasti pergi dengan wanita itu untuk liburan.”


“Tunggu! Bukannya Melik mengatakan jika mereka akan menikah? Mungkinkah itu benar?” selidik Andrew.


“Sialan!” Gumam Joseph. Dia sudah terlanjur jatuh hati sama wanita itu.


Tok…tok…


“Tuan, Nyonya Muda Winata datang.”


“Persilakan masuk! Kalian, pulanglah!” Kamisha menatap kesal pada calon mertua sekaligus patner ranjangnya.


“Sayang, maaf kalau aku mengganggumu.” Ucap sang nyonya muda dan tanpa malu mencium bibir Joseph di depan Kamisha, Delia, Andrew dan Adit.


Sementara di tempat yang berbeda, Jonathan sedang berada di sebuah restoran mewah dengan agenda bertemu dengan salah satu klien yang baru datang dari eropa.


“Saya tertarik dengan tambang batu bara yang Tuan Jonathan kelola. Saya ingin menanam modal di perusahaan anda senilai 50 milyar, bagaimana?”


“Boleh saya tahu alasan anda ingin berinvestasi di perusahaan kami?”


“Saya seorang pembisnis. Kalau tidak menguntungkan maka saya tidak akan melirik sedikitpun.” Jawab sang pembisnis.


Keduanya saling menukar dokumen, “Kita akan bertemu lagi seminggu kemudian untuk membahas proposal ini.” Ucap Jonathan yang diangguki oleh pebisnis di depannya itu. Makan siang mereka terhenti saat kedua asisten mereka saling membisikkan sesuatu.


“CEO dari perusahaan minyak goreng melakukan suap ke pada pejabat pemerintah dengan nominal fantastis tertangkap tangan saat sedang melakukan transaksi di sebuah vila pinggir pantai. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah CEO tersebut juga melakukan penggelapan pajak dari perusahaannya yang berada di Indonesia. Imbas dari aksi OTT pejabat pajak menyebabkan saham minyak goreng menurun drastis diikuti dengan saham yang ikut berinvestasi di sana. Sekian breaking news siang ini!”


“Bukankah Jo Grup juga memiliki saham di sini?” Jonathan mengangguk dan tak lama kemudian nama Joseph langsung muncul di layar ponselnya.


“Hallo, T-“


“Segera bereskan! Jangan biarkan sahan kita mendekati angka 50!”


Tuttt….


Jonathan hanya bisa menghela nafas di depan rekan bisnisnya. “Papamu pasti sangat syok mendengar ini.” Jonathan hanya mengangguk tanda membenarkan ucapan tersebut.


Menjelang tengah malam, Sastri yang sudah terlelap di meja kerjanya tiba-tiba dibuat terkejut dengan getaran ponsel. “Hem, hallo. Siapa ini malam-malam telepon. Mengganggu orang tidur saja!” Sastri terus mengoceh tanpa melihat nama yang tertera di ponselnya.

__ADS_1


“Maaf-maaf kalau Bapak menganggu tidurmu. Bapak terlalu bahagia karena berkat bantuanmu kita bisa menangkap pengusaha nakal dan pejabat nakal. Kamu tidur lagi ya! Besok, Bapak telepon lagi.”


Tuttt….


Sastri seolah tidak mendengar apa pun karena nyatanya sampai pagi menjelang, mereka masih tertidur nyenyak di meja masing-masing. Sastri mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menjebloskan CEO perusahaan minyak goreng yang sudah menyebabkan kesulitan di negaranya gara-gara harga minyak goreng yang mahal.


Suara alarm yang Sastri pakai membuat membuat keduanya terjaga dari tidur lelap. “Jam berapa, Bim?”


“Tidak tahu, Kak.”


Pak Wisnu yang semalam menghubungi Sastri kini kembali melakukan panggilan. “Selamat pagi, apa kamu baru bangun?” tanya Pak Wisnu dengan senyum mengembang.


“Bapak tahu saja. Ada apa, Pak?”


“Terima kasih untuk bantuanmu, Sas. Seluruh tim sangat terbantu atas semua info yang kamu berikan.”


“Sama-sama, Pak. Untuk target selanjutnya akan menyusul segera!”


“Saya tunggu! Kalau begitu saya akhiri dulu ya.”


“Sip,”


“Jaga kesehatan!”


“Baik. Bapak juga.”


Tuttt….


“Nyonya Muda Winata!”


“Wuih, kakap itu!”


“Betul sekali, Bim. Sambil menunggu dendamku terbalas satu persatu maka lebih baik kita fokus mengincar target para petugas pajak terlebih dahulu sebagai bentuk bakti terhadap negara tercinta.”


“Kita sarapan dulu, Kak. Aku sudah lapar.”


“Em, Kak. Apa kali ini Kakak sendiri yang akan turun tangan?” tanya Bimo memperhatikan Sastri.


“Aku sudah menyiapkan rencana untuk itu. Kita tidak bisa gegabah karena Adit dan Joseph masih menjadikanku target utama.”


Sastri mengambil ponselnya lalu menghubungi sang ayah. “Hai, Pa. Apa kabar?”


“Baik, Sayang. Ada apa kamu menghubungi Papa?”


“Papa bisa mengajak kedua putra mendiang Tuan Winata untuk bertemu dengan alasan ingin bekerja sama?”


“Jordan dan Jeremy, maksudmu?”

__ADS_1


“Iya. Memangnya Tuan Winata punya berapa anak lagi. Setahuku hanya mereka saja.”


“Baiklah, lalu setelah itu apa?”


“Papa ajak saja mereka untuk bicara. Setelah itu aku yang ambil alih.”


“Siap dikerjakan, Komandan. Kapan kamu mau itu terjadi?”


“Tunggu! Bim, cek jadwal kita minggu ini!”


“Kak, kita tidak pernah keluar kenapa tanya jadwal?”


“Periksa saja siapa tahu kali ini aku akan keluar!”


Bimo melihat jadwal Satsri lalu, “Malam jumat, Kak.”


“Haiss, apa aku berubah jadi Mbak kunti saja ya? Pa, malam jumat kita bertemu di Bali bersama Jordan dan Jeremy. Mereka sudah di sana, jadi tinggal Papa saja yang ke sana sama Mas Danu. Info selanjutnya akan aku kabari lagi nanti. See you, Pa.”


Tuttt…


Bapak Mahardika menghela nafasnya sementara Bimo hanya menggeleng kepala melihat interaksi Sastri dengan sang ayah.


Sementara di sebuah pelabuhan besar dan mewah tempat sebuah kapal pesiar berlabuh. Melik dan Jasmine baru keluar dan langsung menuju mobil yang sudah menunggu.


“Selamat datang, Lady.”


“Terima kasih. Ayo, Sayang.” Tanpa curiga Melik masuk ke dalam mobil tersebut bersama Jasmine. Dan betapa bahagianya Melik saat itu karena sepanjang perjalanan, mereka terus bermesraan di jok belakang tanpa menghiraukan sang sopir. Beberapa kali lenguhan manja terdengar dari mulut Jasmine.


“Sayang, jangan menyiksaku!” ucap Melik dengan mata sayu.


“Kita perlu pemanasan, Sayang!” bisik Jasmine lalu kembali mengecup leher Melik membuat pria itu berkali-kali mengerang menahan hasrat yang sudah terpancing.


“Apa kita akan langsung menikah begitu sampai?” tanya Melik.


Jasmine tersenyum lalu mengangguk. “Sebelum itu kamu harus menyelesaikan projekmu dulu, Sayang. Kamu tidak lupa dengan kerja sama JN Group dengan perusahaanmu kan?”


“Tentu tidak, Sayang.”


“Robin sudah menunggumu di sana dan kalau ingin segera menikmati malam pertama denganku maka segera tanda tangan dokumennya jangan sampai aku menunggu lama.”


Mobil berhenti di sebuah vila di atas tebing pinggir pantai. “Vila emas ini akan menjadi milikku setelah ini!” batin Melik seraya menyeringai tanpa sepengetahuan Jasmine.


 


***


Keserakahan itu ibarat penyakit bagi penderitanya!!!

__ADS_1


__ADS_2