
Berbekal data seseorang, Sastri berhasil keluar dari Indonesia bersama Bimo menuju Singapura. Sementara di Bali, Adit hanya bisa memendam kekesalan karena gagal menangkap Sastri. Dari Singapura, Sastri akan bekerja di balik layar bersama Bimo untuk membantu perusahaan ayahnya dan juga membantu Pak Wisnu untuk menangkap seorang saingan Pak Wisnu yang telah menghilangkan data-data penting mereka.
Di perusahaan ayahnya, Danu terus melakukan pergerakan sesuai arahan Sastri termasuk menjalankan sebuah rumah produksi baru yang menampung beberapa artis berbakat. Di Singapura, Sastri sedang mengincar semua investor yang membatalkan kerja sama dengan perusahaan ayahnya. Dia akan membuat mereka jera dengan kehilangan banyak uang dari sana dengan cara aman.
“Bagaimana virusnya, Bim?” tanya Sastri di depan laptopnya.
“Sebentar lagi beres, Kak.”
“98,99,100. Beres, Kak. Siapa dulu yang akan menjadi testernya?” tanya Bimo dengan sombongnya.
“Bagaimana kalau langsung ke akarnya saja?”
“Jo grup?” tanya Bimo antusias. Satsri mengangguk dengan seutas senyum smirknya.
Jari-jari lincah Bimo kembali bermain di atas papan hurup sementara Satsri menatap jauh sembari berpikir apa yang selanjutnya akan dia lakukan. Tujuannya adalah dendam tapi dia sudah melibatkan banyak orang untuk mencapai tujuannya. Ada kekhawatiran dalam hati kecilnya pada mereka yang turut membantunya seperti Bimo dan Danu.
“Bom, kamu tidak ingin lanjut kuliah?” tanya Sastri di sela-sela pekerjaan Bimo yang sedang memperhatikan pergerakan virusnya yang mulai masuk ke dalam server milik Jo grup. “Aku tidak suka terikat, Kak. Lebih baik begini.”
“Apa kita akan menyerang mereka bersamaan, Kak?”
“Iya, Bim. Aku ingin melihat mereka merasakan apa yang ayahku rasakan.”
Benar saja, Joseph sedang memijit keningnya saat mendapat kabar kalau perusahaanya diserang virus hingga banyak data yang hilang dimakan oleh si virus. “Cari tahu ini, Jo! Kalian semua tidak ada yang boleh istirahat sebelum berhasil mengamankan semua data!” titahnya dengan suara menggelegar pada tim IT perusahaan.
Joseph menatap Jonathan seraya menghela nafasnya, “Kerjakan pekerjaanmu dengan baik atau kamu tahu akibatnya!” Ponsel Joseph tidak berhenti berdering dari tadi. Tidak satupun panggilan itu dijawab membuat para investor yang sudah beralih padanya menjadi kesal. Sastri membuka portal berita bisnis dan tidak ada pemberitaan tentang serangan virus dari mereka.
“Bim, belum ada berita yang muncul.” Sastri memperlihatka portal berita daring di ponselnya pada Bimo.
“Kakak mau ini diberitakan ya?” Sastri mengangguk manis pada Bimo yang berusia 19 tahun itu. Bimo dengan senang hati mengirimkan sebuah tautan kepada portal berita daring hingga selang dua puluh menit. Berita tentang perusahaan Jo Grup yang diserang virus burger itu gencar diperbincangkan. Bahkan beberapa perusahaan lain yang bergabung dengan Jo grup juga terkena imbasnya.
“Bim, kenapa virusnya berbentuk burger? Apa karena kamu menyukai burger?”
“Nah itu Kakak udah tahu jawabannya. Makasih banyak kak sudah diajak ke luar negeri. Ini pertama kalinya aku ke luar negeri naik pesawat.”
__ADS_1
“Tapi, Bim. Kamu tahu sendiri kan resikonya kerja sama aku?” Bimo mengangguk lalu tersenyum manis menatap Sastri. “Aku pernah dapat klien yang lebih beresiko dari papa Kakak.” Sastri tertarik namun sayang, Bimo memegang teguh prinsipnya untuk tidak membicarakan tentang urusan setiap kliennya.
“Berita sudah muncul tuh, Kak.” Sastri mengangguk lalu menatap layar ponselnya seraya tersenyum penuh kemenangan. Danu dan Pak Mahardika yang melihat berita itu langsung ketakutan.
“Dan, suruh tim IT untuk mengamankan semua data-data penting!” Danu keluar dari ruang Bapak Mahardika lalu mengambil ponsel menghubungi seseorang.
“Itu kamu?”
“Yups…selamat menikmati!”
Tuttt…
Danu tersenyum lalu pergi menuju ruang IT. Sesuai intruksi, tim IT perusahaan Bapak Mahardika sudah mengamankan semua data. Mereka juga mengamankan server untuk menghindari amukan virus burger.
“Kalau begini aku akan cepat kaya, Kak.” Sastri mengerutkan keningnya menatap Bimo.
“Bentar lagi pasti ada yang kirim email ke aku buat memulihkan data mereka dengan bayaran tinggi.” Ujar Bimo lalu, “Terus kamu akan menjual anti virusmu pada mereka?” Bimo mengangguk.
“Bim, kenapa kamu mau bantu aku? Aku tahu uangmu cukup banyak untuk kamu habiskan di resto burger.” Selidik Sastri. Bimo tersenyum, “Cukup banyak untu seorang pengangguran seperti aku, Kak. Tapi tenang saja, aku menyalurkan uangku di tempat aman dan nyaman.” Gurau Bimo.
“1.2.3.4.5.6.” ucap Bimo menghitu beberapa email yang masuk.
“Bim, mau jadi investor di rumah produksi milikku?” tawaran Sastri tentu saja diterima Bimo. “Aku gak pandai mengatur uang tapi aku percaya sama Kakak. Aku akan menjadi yang pertama untuk inves di bisnis Kakak.”
Bimo tidak mengerti dengan bisnis sedangkan Sastri, otaknya memang tidak jauh-jauh dari bisnis dan uang.
“Apa Jo Grup mengirim permintaan padamu?”
“Tidak! Sebentar Kak, aku urus klienku dulu.” Seloroh Bimo lalu ia langsung berkutat dengan laptopnya. Sementara di Bali, Adit mencoba menghubung Sastri tapi sayangnya ponsel Sastri sudah mati.
“Apa Tuan sudah bergerak lebih dulu?” tanya Adit melalui saluran telepon dengan Joseph.
“Apa maksudmu? Aku sedang pusing jangan tambah dengan masalah lain lagi.”
__ADS_1
“Sastri menghilang!” ucap Adit membuat Joseph mengernyitkan keningnya. “Menghilang bagaimana?” Adit menceritakan pembicaraan terakhir mereka pada Joseph lalu tanpa diduga pria tua itu malah tertawa.
“Kamu terlalu bodoh untuk gadis secerdik dia.”
Tutttt….
“Kamu licin juga ternyata.” Joseph tersenyum smirk memandang langit lewat jendela kantornya lalu ia kembali menghubungi para investor yang sempat ia abaikan tadi. “Hallo, Tuan Smith. Ada apa tadi kau meneleponku?” tanya Joseph basa-basi.
“Sudah ku atasi, Tuan Joseph. Terima kasih sudah mau peduli.”
Tutttt….
Joseph mengeratkan rahangnya. Ia tidak pernah dibuat sekesal ini oleh investornya tapi hari ini, salah satu investornya sudah membuat kekeliruan yang akan membuatnya menyesal. Joseph langsung menghubungi seseorang, “Buat perusahaan Smith kacau!”
“Baik, Tuan!”
Bimo yang sedang membereskan kekacauaun yang dibuatnya terkejut saat mengetahui ada pihak ketiga yang sedang mengacak-ngacak server milik perusahaan Smith. Dia langsung menghubungi pihak perusahaan dan memberitahukan apa yang terjadi. Bimo juga dengan cekatan mencari IP hecker yang sedang mengacak-ngacak pekerjaanya. Sastri yang tidak paham dengan dunia retas meretas, hanya bisa melihat deretan angka dan huruf yang terus naik di layar laptop Bimo.
“Kak, sepertinya aku tahu kenapa Jo Grup tidak menghubungiku.”
“Memangnya mereka tahu kamu?” Bimo baru sadar kalau dia berbicara dengan pebisnis bukan peretas seperti dirinya.
“Aku ini terkenal di dunia peretas, Kak. Dan sekerang, salah satu peretas terkenal sedang mengacak-ngacak perusahaan Smith. Kakak pasti akan terkejut saat tahu siapa dibalik peretas ini.”
Sastri menatap Bimo lekat, “Siapa?”
“Joseph!”
***
Happy Reading... Jangan lupa LIKE
__ADS_1
Terima kasih....