
Ucapan Kamisha masih terngiang di pikiran Jonathan hingga dia memutuskan untuk melakukan sesuatu dengan darahnya. Ia pulang ke rumah utama di mana ibu dan saudaranya yang sedang dirawat ada di sana.
Setelah melewati ruangan yang jaga ketat oleh pengawal, Jonathan masuk ke dalamnya di mana sang ibu ada di sana. “Ma, apa tua bangka itu sungguh ayahku?” Wanita paruh baya yang sedang membaca buku itu terkejut mendengar pertanyaan putranya.
“Kenapa kamu meragukannya? Mama tidak pernah selingkuh dengan pria lain. Hanya ayahmu yang ada dihidup Mama walaupun dia sendiri tidak setia.” Ujar Mama Ayu.
Wanita itu bangkit lalu mendekati putranya, “Kenapa tiba-tiba kamu bertanya tentang itu? Apa yang membuatmu tiba-tiba ragu? Bukankah wajah kalian sangat mirip?” Tanya Mama Ayu memperhatikan putranya dari dekat.
“Lalu siapa suami istri dan anak perempuan yang sering aku temui saat kecil? Aku juga memanggil mereka dengan panggilan ayah dan bunda?”
“Mereka adalah malaikat yang menyelamatkan kita saat itu sebelum ayahmu kembali menemukan kita dan membawa kita jauh dari mereka.”
“Siapa dan di mana mereka sekarang?” Mama Ayu menunduk sedih mengingat malaikat penolong mereka di masa lalu.
“Tidak, Nak. Kita tidak akan bertemu lagi dengan mereka. Jangan pikirkan apa-apa lagi, kamu fokus saja dengan urusan perusahaan dan buat Papamu bangga akan kinerjamu.”
“Aku tidak sudi memanggilnya dengan panggilan mulia itu. Dia hanya pria asing yang mencoba membuatku seperti bonekanya. Ma, apa tidak ada cara untuk kita lepas dari pria itu?”
Mama Ayu menatap putranya, “Mati! Hanya itu yang dapat membuat kita bebas dari sini. Lalu apakah kamu tega meninggalkan adikmu dengan kondisinya yang seperti sekarang ini?”
“Ck, saat sehat saja dia lupa sama kita. Kenapa kita harus mengingatnya?” ucap Jonathan melirik kamar tempat adiknya dirawat.
“Sayang, dia juga korban dari buruknya hubungan Papa dan Mama di masa lalu. Kalau kamu menyalahkannya itu sama saja seperti kamu menyalahkan Mama. Mama yang sudah memilihmu dan meninggalkannya bersama Papa kalian.” Jonathan memeluk ibunya. Wanita yang selama ini membuat dirinya berpikir panjang untuk melawan Joseph. Ia tidak mau kehilangan ibunya karena Joseph tidak pernah main-main dengan ucapannya.
“Aku pergi dulu, Ma.”
Setelah mencium pipi ibunya, pria itu langsung pergi meninggalkan ruangan khusus yang hanya diketahui oleh dirinya dan pelayan di rumah itu.
__ADS_1
Di tempat yang berbeda, Bapak Mahardika terkejut mendapat undangan makan malam dari si Nyonya Muda. Diandra tidak mau hilang akal, dia sudah menyiapkan sesuatu yang akan membuat targetnya terkendali.
“Dia sungguh-sungguh wanita kaya ya, Pa.” Ucap Ibu Ariyanti memperhatikan kediaman rumah Nyonya Muda dari dalam mobil.
“Kaya dari hasil merayu pria tua, Bu. Dia juga berniat merayu Bapak.”
Gleg...
Bapak Mahardika menelan salivanya dengan susah saat sang asisten dengan lantang mengatakan kata-kata pemicu bangunnya si ibu singa.
“Benar begitu, Pa?” Ibu Ariyanti menatap suaminya lekat. Bapak Mahardika mengangguk patuh.
“Danu, suruh Sastri menyelidiki wanita itu. Ada yang tidak beres di sini. Kalau wanita itu mengincar harta, Bapak bukan orang yang tepat karena harta Bapak tidak sebanyak si tua Joseph. Dia lebih kaya dari Bapak kenapa wanita itu mengincar Bapak. Apa kamu tidak memikirkan sampai ke situ, Nu?”
Danu menginjak rem tiba-tiba sampai bosnya hampir menabrak jok depan.
“Maaf, Pak, Buk. Saya melupakan kemungkinan itu.” Ibu Ariyanti mencebikkan bibirnya, “ Kamu pikir Sastri itu pintar menurun dari siapa? Bos kamu cuma pintar berbisnis tapi pikirannya itu polos tentang yang lain-lain makanya si Joseph mudah menghancurkannya.
“Lanjutkan! Mama mau lihat seperti apa wajah wanita itu.”
Sang Nyonya Muda sudah menunggu di depan pintu dengan senyum mengembang indah tapi setelah melihat seorang wanita keluar lebih dulu. Senyum sang Nyonya Muda sirna seketika.
“Selamat malam, Nyonya Muda Winata.” Ucap ibu Ariyanti seraya menggandeng mesra lengan suaminya.
Danu tersenyum geli di dalam hati melihat aksi si ibu singa di depan wanita menjijikkan itu. Bagaimana tidak menjijikkan jika dengan beraninya wanita itu berdandan seksi memamerkan lekuk tubuhnya.
“Ternyata benar seperti kabar di luar sana yang mengatakan kalau Nyonya Muda Winata memang cantik dan seksi. Tapi kenapa kita tidak pernah bertemu saat ada pertemuan dengan istri-istri pengusaha ya?” tanya Ibu Ariyanti tanpa melepas tangannya dari lengan Bapak Mahardika.
__ADS_1
“Oh itu, saya sedang membantu perusahaan di luar negeri jadi jarang ada di Indonesia. Oh iya, silakan masuk!”
“Kita langsung makan saja ya!” ajaknya lalu mereka menuju lantai dua yang sudah disulap seindah mungkin.
“Wow, jamuan makan malam ini terasa indah sekali seperti jamuan makan malam sepasang kekasih, ya?” lagi-lagi Ibu Ariyanti bereaksi.
“Bapak Mahardika merupakan pebisnis yang patut dicontoh. Beliau terkenal hangat sesama rekan dan tidak pelit dengan ilmu hingga beliau mendapat posisi terhormat dari sesama pebisnis lain termasuk mendiang suami saya, Mas Winata.”
“Itu benar sekali dan satu lagi poin penting dari Mas Dika, dia itu laki-laki paling setia yang pernah saya temui. Dulu, saat saya hamil tua dan tidak bisa melayaninya di atas ranjang karena kesusahan, dia bahkan tidak tergiur dengan penari telanjang yang disuguhkan oleh rekan bisnisnya. Dia malah pulang lalu bercerita pada saya. Saat saya tanya apakah dia menginginkannya? Dia langsung memeluk saya dan mengatakan kalau ingin sudah melakukannya tapi karena jijik jadi nafsunya tidak bereaksi. Barang bekas yang sudah dipakai ramai-ramai mana enak. Lebih enak istri sendiri yang hanya dia seorang yang pakai dan masih tersegel pula. Ya kan, Pa?” Bapak Mahardika kembali mengangguk patuh.
“Bukan itu poinnya pentingnya dalam sebuah hubungan tapi rasa nyaman dan bahagia yang mungkin tidak semua orang dapati dari pasangan mereka. Bahagia itu sederhana tergantung bagaimana kita menyikapi hidup. Saya dan istri sudah melalui banyak hal bersama jadi kalau cuma disuguhkan penari telanjang saya tidak akan tergoda.” Imbuh Bapak Mahardika semakin membuat wanita muda di depan mereka meradang. Ditambah lagi dengan adegan tiba-tiba Ibu Ariyanti mencium bibir suaminya di depan Diandra hingga wanita itu mengepalkan tangannya di bawah meja. Sementara Danu juga ikut terkejut lalu membuang muka malu menyaksikan adegan romantis majikannya.
“Maafkan saya, Nyonya karena kalau sudah mendengar kata-kata romantis dari Mas Dika, saya suka kelewatan. Apalagi sampai usianya yang sekarang dia masih panas dan bergairah di atas ranjang.” Ucap Ibu Ariyanti lugas tanpa dosa.
Brakkkk....
Nyonya Muda menutup pintu kamar dengan keras setelah mengantar relasi bisnisnya pulang. “Aku gagal! Benar kata kamu kalau dia tipikal pria setia. Makan malam denganku, dia justru membawa istrinya dan mulut istrinya seperti mulut perempuan pasar. Yang paling bikin aku marah adalah mereka dengan sengaja berciuman di depanku. Sungguh terlalu sekali mereka.”
Tawa Joseph terdengar membahana di ruangannya. “Susah kukatakan jika mereka memang seperti itu. Sudahlah, aku yakin kamu tidak akan berhasil. Mulai sekarang, dekati mereka dengan tujuan lain.”
“Tujuan lain, apa?”
“Cari tahu keberadaan putri tunggalnya!”
"Sastri Listia Putri!"
***
__ADS_1
Yang masih belum mengerti harap sabar karena kalau terlalu mudah jadi kurang menarik, ya kan???
Penasaran saja dulu setelah itu baru...???? Happy reading.... happy holiday...