Dendam Si Petugas Pajak

Dendam Si Petugas Pajak
Bui...


__ADS_3

Sebuah ruangan yang telah disulap menjadi tempat yang sangat bangus dan mewah. Semua tamu yang datang harus menggunakan kode pada undangan untuk dapat memasuki ruangan acara tersebut. Beberapa permintaan khusus yang diinginkan Melisa sudah tersedia di dalam kamar ganti milik sang penyanyi.


Permintaan khusus tersebut berisi minuman hangat, buah-buahan serta seorang terapis pria untuk membantunya merileksasikan diri selagi menunggu jam tampil.


Terapis ini sendiri dipesan langsung oleh Adit karena pihak Sastri tidak begitu mengerti dengan terapis yang diinginkan Melisa. Pihak Sastri hanya membayar si terapis dengan nominal yang cukup menguras dompet. Dan pihak Sastri baru mengetahui terapis seperti apa yang diinginkan Melisa saat tanpa sengaja seorang rekan Sastri mendengar suara-suara aneh dalam kamar ganti tersebut. Sementara Adit memilih duduk di luar kamar sambil bermain ponselnya.


“Maaf, Mas. Kemarin sikonnya benar-benar diluar kendaliku,” ucap Sastri saat mendatangi Adit yang tengah menunggu Melisa.


Melihat Sastri duduk di sisinya, Adit seperti merasa canggung dan malu. Ia hanya tersenyum kecil seraya menunduk. Suara-suara ******* dari dalam kamar tentu jelas sekali terasa walaupun suara musik mengalun pelan namun tetap saja suara laknat itu terdengar sampai ke telinga mereka.


“Jangan duduk di sini! Kamu pasti tidak nyaman sama seperti saya namun inila pekerjaan saya,”


“Biasa saja, Mas. Mas kan sudah tahu sebelumnya saya bekerja dimana? Jadi tidak perlu merasa canggung begitu. Di negara luar, hal seperti ini bukan suatu yang aneh dan tabu lagi. Mereka bahkan berani berciuman di depan orang tua atau keluarga. Kalau kita di sini pasti sudah dilempar sandal, ya kan?” Adit tertawa kecil lalu menatap Sastri dengan tatapan lembut dan penuh damba, apakah setelah ini kita akan bertemu lagi? Jujur saja, aku sangat ingin memiliki waktu denganmu di luar pekerjaan.”


Sastri membalas tatapan Adit walau hanya sesaat, “Saya tidak bisa menagtakannya sekarang , Mas. Pekerjaan saya sangat menyita waktu dan kadang saya sendiri lupa untuk istirahat.


Setelah berbincang cukup lama, baik pasangan di dalam kamar maupun di luar kamar sudah berhenti dari kegiatan mereka masing-masing. Keluarlah Melisa dengan wajah yang segar dan seakan tanpa lelah berjalan menuju panggung. Adit dan Sastri juga mengikuti Melisa dar belakang.


Acara berjalan sempurna dengan tepukan tangan yang meriah dari penonton. Melisa mendapat sebuah buket bunga dari beberapa orang penonton. Setelah itu, ia langsung kembali ke belakang panggung.


“Terima kasih banyak, Mbak Melisa. Senang bekerja sama dengan Mbak. Saya harap ini bukan terakhir kalinya kita bekerja sama,” ucap Sastri saat Melisa hendak meninggalkan tempat acara.


“Sama-sama, Mbak. Silakan hubungi manajer saya saja jika ingin mengundang saya lagi. Saya sengat puas dengan pelayanan perusahaan Mbak. Kalau begitu saya permisi dulu. Adit, aku tunggu di mobil!” ucap Melisa sebelum melangkahkan kakinya menuju tempat parkir bersama dua orang asisten.


Sastri yang mengetahui kode dari Melisa segera mengajak Adit untuk menuju tempat yang sudah disiapkan.

__ADS_1


“Ayo, Mas!” Sastri menuju lokasi parkir bersama Adit.


“Parkirkan mobil dekat mobil Mbak Melisa sekarang!” Sastri memberi perintah pada seseorang melalui teleponnya.


Begitu sampai, Sastri segera membuka bagasi belakang mobil lalu membuka pin yang terdapat pada koper tersebut.


“Apa perlu dihitung ulang, Mas?” Sastri memperlihatkan koper yang berisi uang dalam bentuk dollar untuk menghemat tempat.


Sebuah alat Sastri hidupkan untuk mengecek keaslian setiap uang tersebut, “Maaf Mas Adit, kami kesulitan jika membayar dalam rupiah karena terlalu banyak. Tolong tanyakan Mbak Melisa, apa beliau berkenan dengan menerima pembayaran dalam dolar karena kami belum sempat mengonfirmaskan kepada Mas Adit sebelumya.”


Adit membuka pintuk mobil dan bertanya langsung pada Melisa, “Dia setuju.”


Dan saat Adit hendak mengeluarkan koper tersebut, dalam hitungan detik suara mobil polisi langsung terdengar dan mengepung mereka. semua yang berada di sana panik. “Anda semua kami tangkap atas dugaan penggelapan pajak. Silakan ikut kami ke kantor!”


Melisa marung-raung tidak mau ikut, sementara Adit, Sastri, sopir Melisa, Sopir Sastri dan dua orang asisten Melisa langsung diborgol ditempat lalu dimasukkan dalam mobil polisi.


“Anda bisa menghubunginya saat sudah di kantor polisi.”


Ucapan tegas polisi itu langsung membuat Sastri seperti ketakutan. Dengan tangan diborgol, Adit mencoba menenagkan Sastri dengan menggenggam tangan Sastri.


“Kenapa kita ditangkap? Ada apa dengan penggelapan pajak? Perusahaan kami tidak pernah menggelapkan pajak,” ucap Sastri.


“Tenanglah! Semuanya akan baik-baik saja.”


Sesampai di kantor polisi, Sastri dan Adit ditempatkan di ruangan terpisah. Begitu juga dengan Melisa. Sementara para asisten dan kedua supir masing-masing ditempatkan di ruangan yang sama.

__ADS_1


“Kenapa kita ditangkap, Pak Yo?” tanya salah seorang asistes Melisa pada sang supir.


“Tidak tahu, Ras. Kita hanya orang kecil yang tahunya bekerja untuk mendapat gaji. Kita mana mengerti dengan masalah pajak-pajak. Semoga kita cepat bebas ya Ras, kita juga tidak punya uang untuk menyewa pengacara seperti Mbak Melisa.”


“Iya, pak Yo. Ras juga mau pulang. Apa jadinya kalau Ibu Ras melihat berita besok. Ibu pasti sedih dan cemas kalau tahu Ras dipenjara.”


Arif sang sopir gadungan hanya bisa menghela nafas menikmati suasana penjara yang sangat membosankan menurutnya. Mereka harus mendekam di kantor polisi hingga keesokan harinya para asisten dan sopir masing-masing langsung dibebaskan setelah diinterogasi.


Sementara itu, pengacara Melisa yang tidak lain adalah Bang Bonar langsung mengunjungi kantor polisi menjelang siang untuk membebaskan Adit dan Melisa.


Divisi khusus dari Dirjen Pajak juga sudah datang ke kantor polisi dengan membawa sejumlah bukti yang Melibatkan Melisa atas dugaan penggelapan pajak. Sang pengacara hanya bisa berbicara dengan petugas pajak dan polis yang ikut menangani kasus tersebut sementara untuk saat ini baik Melisa dan Adit belum bisa ditemui oleh siapapun.


Bagaimana dengan Sastri? Sastri saat ini sedang berada di rumahnya setelah dibebaskan secara diam-diam menjelang subuh. Kabar penangkapan Melisa akhirnya sampai juga ke telinga para awak media yang membuat kantor polisi dipenuhi oleh para pencari berita.


Di tengah ramainya berita tentang penangkapan Melisa, publik lagi-lagi kejutkan dengan sebuah video yang  beredar di dunia maya. Video yang berdurasi sekitar satu menit itu memperlihatkan bagaimana para artis wanita yang memerenkan sebuah film harus melayani beberapa orang pria berpakaian rapi di sebuah ruangan karoke.


Dalam video yang diunggah tanpa nama tersebut juga menyebutkan jika para wanita tersebut adalah pemeran dalam film yang digarap oleh PH Entertaiment yang disponsori oleh beberapa pejabat penting.


“Beginilah kelakukan mereka yang mengatasnamakan kepentingan rakyat dan negara. Masihkan anda mengharapkan putri-putri anda menjadi artis terkenal? Padahal pemilik PH dan Agensi artis sama-sama perempuan. Tapi sepertinya mereka tidak peduli dengan pelecehan yang dialami oleh perempuan lain. Yang penting untuk mereka adalah UANG!!!”


“Ini adalah praktek pencucian uang para pejabat KORUP!!! Alasan membuat film dokumenter tentang sosial budaya negara ternyata hanya untuk pemuas nafsu mereka saja!!! Kalau Bapak kalian ada di dalam video ini, seharusnya kalian malu bahkan untuk menyombangkan diri karena ternyata kelakukan Bapak kalian sangat hina, lebih hina dari apapun.”


“Kamisha!!!”


***

__ADS_1


LIKE....KOMEN...SHARE...FAVORITKAN...


makasih gaeyssss....😚


__ADS_2