Dewa Heras Dan Herjules

Dewa Heras Dan Herjules
Dori


__ADS_3

Dengan trisulanya, dewa Heras membuka portal dimensi berupa lubang berwarna jingga. Dewa heras masuk ke lubang itu. Setelah beberapa detik melunjur di dalam lubang, dewa Heras tiba di masa depan. Dewa Heras berada di tahun 2020.


Dewa Heras berada di depan sebuah rumah.


Dewa Heras segera menyesuaikan penampilannya dengan penampilan manusia di tahun 2020.


Dewa Heras melihat seorang gadis sedang turun dari mobil, lalu masuk ke dalam rumah.


Dewa Heras berubah menjadi seekor lalat. Ia terbang masuk ke dalam rumah gadis itu.


Dengan berubah menjadi lalat, dewa Heras dapat dengan mudah mengamati gadis itu. Dari pengamatanya, dewa Heras mengetahui bahwa gadis itu bernama Sinta. Ia seorang pelajar SMA kelas tiga. Gadis itu memiliki hobi melukis.


Setelah mengetahui tentang gadis itu, Dewa Heras berubah menjadi seorang pelajar. Dengan kesaktiannya, ia tidak mengalami kesulitan yang berarti untuk memalsukan identitas. Dengan identitas barunya, Herjules bisa masuk ke sekolah Sinta sebagai murid pindahan. Herjules telah mengubah namanya menjadi Indra. Ia masuk sekolah di jurusan seni lukis agar bisa lebih mudah mendekati Sinta.


Minggu pagi yang cerah. Sinar matahari masuk ke dalam kamar Sinta melalui jendela. Bunga-bunga melati di bawah jendela menebarkan aroma wangi membuat hari ini terasa damai.


Burung-burung berkicau di atas pohon mangga menyambut datangnya pagi.


Sinta sudah siap dengan pakaian olah raga. Ia mengenakan kaos putih dan celana hitam tipis ketat. Sinta mengayuh sepeda menyusuri jalan J.


Sinta melewati rumah Dita. Ia melihat Dita sedang membaca komik di teras rumahnya.


"Dit, olah raga, yuk," ajak Sinta.


"Malas," jawab Dita.


Sinta masuk ke halaman rumah Dita. Setelah memarkirkan sepedanya, ia masuk ke teras, lalu duduk di samping Dita.


"Kamu sedang membaca komik apa?"


"Komik roman. Mau membaca?"



"Tidak," tolak Sinta.


"Komik ini bagus, lho. Kamu pasti suka," bujuk Dita.


"Aku tidak suka membaca komik."


"Kamu coba dulu. Siapa tahu kamu menjadi suka membaca komik setelah membaca komik ini," saran Dita.


"Baiklah."


Sinta mengalah. Ia memaksakan diri membaca komik itu, meski ia tidak suka membaca.


Sinta membaca komik itu halaman demi halaman. Tokoh utama dalam komik itu adalah Dori. Ia seorang laki-laki tampan berbadan atletis. Namun, sayang. Sifat laki-laki itu seperti anak berusia lima tahun.


Setelah membaca satu bab, Sinta menutup komik itu.


"Bagaimana? Bagus, 'kan?" tanya Dita.


"Iya. Bagus sekali. Aku suka!"


"Kubilang juga apa. Kamu pasti suka."


"Dit, aku boleh meminjam komik ini?"


"Boleh. Tapi, nanti setelah aku selesai membacanya."


"Kelamaan. Mending aku beli sendiri."


"Ya sudah. Kamu beli saja."


"Di mana belinya?"


"Di toko buku Nuri."


"Ya sudah. Aku lanjut olah raga dulu."

__ADS_1


"Ya."


Sinta kembali mengayuh sepeda. Keringat membasahi badannya yang seksi. Sorang laki-laki sedang bersepeda di belakang Sinta. Laki-laki itu mempercepat sepedanya agar bisa menyusul Sinta. Laki-laki itu berhasil menyamai kecepatan Sinta. Ia berada disamping Sinta.


"Hai!" sapa laki-laki itu.


"Hai!" jawab Sinta.


"Boleh berkenalan?"


"Boleh."


"Aku Domi."


"Aku Sinta."


"Wah, namanya bagus seperti orangnya," puji Domi.


Tidak bisa dipungkiri, pujian Domi membuat hati Sinta berbunga-bunga. Namun, pujian itu tidak membuat Sinta bersimpati kepada laki-laki itu. 'Laki-laki yang berani mengajak gadis berkenalan di jalan, pastilah laki-laki hidung belang,' pikir Sinta.


"Sin, bagaimana kalau nanti siang kita makan siang bareng?" tawar Domi.


"Di mana?"


"Di restoran Lezat."


"Boleh."


Sinta telah pulang. Setelah beristirahat, Sinta pergi ke toko buku.


Sinta telah berada di antara rak-rak buku untuk mencari komik. Setelah beberapa menit mencari, akhirnya ia berhasil mendapatkan komik yang ia cari, Dori dan Ania.


"kamu juga suka komik itu?" terdengar suara seorang laki-laki bertanya. Sinta menoleh ke arah datangnya suara.


Sinta terkejut. Ia melihat Domi telah berada di sampingnya.


"Domi. Kamu juga sedang mencari komik?"


"Komik apa?"


"Yang kamu pegang."


"Kamu suka komik ini? Ya sudah. Kalau begitu komik ini untuk kamu saja," kata Sinta seraya memberikan komik itu kepada Dori.


"Tidak. Untuk kamu saja." Domi mendorong komik itu dengan keempat jari-jarinya.


"Tidak apa-apa, untuk kamu saja. Aku bisa membaca komik yang lain."


"Ya sudah, begini saja. Komik itu kamu beli dulu. Nanti kalau sudah selesai kamu baca, aku akan meminjamnya darimu," usul Domi.


"Baiklah kalau begitu."


Sinta pergi ke meja kasir untuk melakukan pembayaran.


Ketika ia akan menyerahkan uang pembayaran, tiba-tiba Domi mencegahnya.


"Biar aku yang membayar," kata Domi.


"Tidak usah. Biar aku saja." Sinta berusaha menolak bantuan Domi, namun Sinta tidak bisa menolaknya karena Domi sudah menyerahkan uang pembayaran kepada kasir.


Sinta segera pulang. Dalam perjalanan, tiba-tiba motor Sinta mogok. Sinta sudah memcoba menyalakan mesin motor. Namun, tidak berhasil. Sinta baru saja akan menelpon ayahnya ketika seorang pengendara motor berhenti di dekatnya.


"Sinta, apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya pengendara motor itu yang ternyata adalah Domi.


"Motorku mogok."


"Coba aku periksa."


Domi melepas busi mesin. Ia ingin mengetahui apakah businya masih berfungsi atau tidak.

__ADS_1


"Sin, tolong kamu selenger mesinnya," pinta Domi.


Sinta segera melakukan permintaan Domi. Sinta heran. Measin terasa ringan ketika diselenger. Sekarang ia tahu bahwa mesin menjadi ringan diselenger ketika businya dilepas.


Domi melihat ada percikan api di ujung busi ketika mesin diselenger. Itu artinya businya masih berfungsi. Jika businya tidak ada masalah, mungkin karburatornya kotor. Itu bisa diatasi dengan menyelenger mesin beberapa kali. Menyelenger motor matick dalam waktu yang lama hanya bisa dilakukan oleh laki-laki karena berat.


Domi mencoba menyelenger motor beberapa kali.


"Bruummm....!!!" Akhirnya motor menyala dengan suara keras karena Domi memutar gas cukup dalam.


"Makasih, ya, Dom," kata Sinta.


"Sama-sama. Sin, bagaimana kalau kita singgah ke restoran untuk makan siang?"


"Boleh."


Mereka pergi ke restoran Lezat. Sesampainya di restoran, mereka memesan makanan.


"Sin, kamu sudah mempunyai pacar?" tanya Domi selesai makan.


"Belum."


"Kamu mau menjadi pacarku?"


"Maaf, aku belum berpikir untuk pacaran," tolak Sinta dengan halus.


"Aku tahu, kamu berusaha menolakku dengan halus. Mengapa kamu menolakku? Apa aku kurang tampan?"


"Kamu memang tampan dan juga kaya. Tapi, kamu bukan tipeku."


"Tipemu yang seperti apa?"


Sinta terdiam. Ia tidak mungkin mengatakan tipe laki-laki idamannya. Domi pasti akan menertawakannya jika ia memberitahu Domi laki-laki tipenya. Laki-laki tipenya adalah laki-laki cacat mental seperti tokoh dalam komik yang ia baca.


"Aku belum tahu," jawab Sinta.


"He he he...Kamu ini aneh. Laki-laki tipemu saja kamu tidak tahu."


Setelah Sinta menolak cinta Domi, Domi tidak ingin berlama-lama dengan Sinta. Ia segera mengajak Sinta pulang.


Sinta telah berada di kamarnya. Ia termenung mengenang kejadian beberpa bulan yang lalu. Sejak kejadian itu, Sinta tidak mau lagi berpacaran. Ia tidak ingin patah hati lagi karena dihianati orang yang ia cintai.


Sejak ia membaca komik Dori dan Ania, pintu hatinya kembali terbuka. Namun, sayang, pintu hati Sinta terbuka hanya untuk seseorang yang cacat mental. Sinta berpikir bahwa laki-laki yang cacat mental tidak mungkin menghianatinya. Tapi, di dunia ini, di mana ada laki-laki cacat mental setampan tokoh yang ada dalam komik Dori dan Ania?


Keesokan harinya, Sinta telah berada di sekolah. Ia melihat Dita telah duduk di bangkunya.


"Kamu kemarin jadi membeli komik?" tanya Dita begitu Sinta mendaratkan pantatnya di bangku.


"Jadi, dong. Aku tidak menyangka kalau aku akan ketagihan membaca komik. Dit, kemarin aku ditembak sama cowok keren."


"Siapa?"


"Namanya Domi. Akau kenal dia ketika aku sedang besepeda kemarin."


"Wauw! Baru kenal langsung menembak?"


"Ya. Tapi, aku tolak."


"Kamu tolak? Mengapa?"


"Sebenarnya dia tampan dan kaya. Tapi, dia bukan tipeku."


"Tipemu yang seperti apa? Oh, aku tahu. Cowok tipemu yang seperti Aldi, bukan?"


"Kamu jangan sebut nama dia lagi. Aku tidak ingin mendengar namanya lagi."


Bayangan Aldi kembali berkelebat di dalam benaknya ketika Dita menyebut namanya. Sinta berusaha mengusir bayangan itu untuk melupakan kenangan pahit bersamanya.


"Cowok tipeku adalah yang seperti Dori," kata Sinta kemudian.

__ADS_1


"Dori?! Tokoh idiot dalam komik?"


"Ya."


__ADS_2