
"Tapi, wali kelas bilang kalau dia melihat ada seorang laki-laki yang mengajakmu pergi ketika kamu sedang berada di ruangannya. Siapa laki-laki itu?"
"Dia...."
"Om, Saya bisa menjelaskan semua ini," sahut Dando.
"Coba kamu jelaskan," kata Dedi, papa Sinta.
"Sebaiknya kita berbicara empat mata saja, Om."
"Baiklah. Kita berbicara di kamar Om saja."
Jantung Sinta berdebar-debar. 'Apa yang akan Dando katakan? Apakah papanya bisa menerima penjelasan Dando?' Sinta betanya-tanya di dalam hati.
"Begini, Om. Wali kelas hanya salah paham. Yang mengajak pergi Kak Sinta adalah Saya. Saya melakukan itu karena saya menyukai Kak Sinta. Tapi, kami tidak pacaran. Saya berjanji akan pacaran dengan Kak Sinta setelah Kak Sinta lulus kuliah," jelas Dando.
"Ooo begitu?"
"Ya, Om."
"Baiklah kalau begitu. Sekarang, ayo kita ke ruang tamu," ajak Dedi.
"Ya, Om."
Dedi dan Dando menemui Sinta dan Tina di ruang tamu.
"Ma, ternyata Sinta tidak pacaran. Dia hanya berteman dengan Dando," kata Dedi kepada Tina.
"Ya sudah kalau begitu. Mama jadi lega mendengarnya," kata Tina.
"Sekarang kita akan membahas soal tamasya," kata Dedi. "Papa tidak akan mengijinkanmu ikut tamasya," kata Dedi kepada Sinta.
"Kenapa, Om?" tanya Dando.
"Karena itu akan mengganggu belajarnya. Om tidak mau nilai Sinta turun karena ikut tamasya."
"Pa, Sinta jamin nilai Sinta tidak akan turun," katan Sinta meyakinkan papanya.
Dedi tampak berpikir sejenak. Tampaknya ia sedang mempertimbangkan perkataan putrinya.
"Baiklah. Kamu papa ijinkan ikut bertamasya. Tapi, nilai kamu tidak boleh turun. Kalau nilaimu sampai turun, kamu tidak boleh berteman dengan laki-laki manapun. Kamu sanggup?" tanya Dedi.
"Sanggup, Pa."
"Baiklah, sekarang papa mau istirahat dulu," kata Dedi.
Dedi pergi ke kamar tidur diikuti oleh isterinya.
"Dando, apa yang kamu katakan kepada papa soal hubungan kita?" tanya Sinta.
"Dando bilang sama papa kakak kalau Dando menyukai kakak. Tapi, Dando tidak akan berpacaran dengan Kak Sinta sampai kita lulus kuliah."
"Wah, kamu memang pandai bersandiwara," puji Sinta.
"Dando tidak bersandiwara. Dando serius, Kak."
Tiba-tiba Hp Dando berdering. Melly sedang menelponnya.
__ADS_1
"Hallo," sapa Dando.
"Hallo. Dan, hari ini kamu harus ke kantor. Pak Tony ingin berbicara denganmu," kata Melly.
"Baik, aku segera ke sana," kata Dando.
"Kak, Dando pergi dulu, ya. Dando ada urusan sebentar."
"Urusan? Urusan apa?"
"Mitra kerja papa ingin bertemu dengan papa. Tapi, karena papa sedang sibuk, jadi Dando yang diminta untuk mewakili papa,"
"Ooo. Ya sudah. Kamu pergi saja."
Dando segera pergi ke kantornya. Sebenarnya yang memanggil Dando tadi adalah manajer Dando di penerbitan komik miliknya. Dando sengaja berbohong kepada Sinta karena ia tidak ingin Sinta mengetahui bahwa ia memiliki perusahaan komik. Penerbitan komik Dando adalah penerbitan yang menerbitkan komik Dori dan Ania. Dan yang membuat komik itu adalah Dando sendiri.
Sesampainya di kantor, Dando segera menemui pak Tonny.
"Apa kabar, Pak?" tanya Dando.
"Baik. Dando, saya ingin menawarkan kerja sama denganmu."
"Kerja sama apa, Pak?"
"Saya ingin menjadikan komikmu, yang berjudul Dori dan Ania, sebagai film layar lebar."
"Sangat menarik. Saya setuju, Pak," kata Dando.
"Kamu akan mendapatkan keuntungan dua puluh persen dari film itu."
"Mungkin bulan depan film itu sudah bisa dibuat. Apakah kamu tertarik untuk menjadi aktor utamanya?"
"Aktor utama?" Dando berpikir sejenak untuk mempertimbangkan tawaran pak Tonny.
'Jika aku menjadi aktor utama, Sinta akan tahu kalau aku hanya berpura-pura menjadi orang cacat mental,' kata Dando dalam hati.
"Saya tidak tertarik, Pak," jawab Dando.
"Kenapa? Dengan menjadi aktor, kamu akan terkenal dan kamu juga akan mendapatkan penghasilan yang sangat besar," kata pak Tony.
"Saya tidak tertarik, Pak. Saya mau fokus sekolah dulu." kata Dando beralasan.
"Baiklah kalau begitu," kata pak Tony.
Siang telah berganti malam. Malam ini sangat terang bagaikan siang hari karena bulan terlihat penuh. Dando dan Sinta duduk di taman belakang rumah Dando menikmati indahnya bulan purnama.
"Kak, malam ini terang sekali, ya," kata Dando.
"Iya."
"Kak, wajah kak Sinta seperti bulan purnama, lho," puji Dando.
"Berarti kakak jelek, dong."
"Wajah kakak sangat cantik seperti bulan purnama."
"Kamu salah, Dan. Kalau wajah kakak seperti bulan purnama, berarti wajah kakak jelek. Karena permukaan bulan itu gersang dan banyak jurangnya," kata Sinta.
__ADS_1
"Kalau begitu wajah kakak cantik seperti Roro Jonggrang."
"Kamu bisa aja, Dan."
"Kak, mengenai perkataan Dando kepada Om Dedi itu, Dando serius," kata Dando.
"Maksudmu?"
"Maksud Dando, Dando memang ingin jadi pacar kakak setelah lulus kuliah."
"Kamu pasti bercanda."
"Dando tidak bercanda."
"Kamu pasti bercanda. Kamu bilang seperti itu pasti karena kamu suka menonton drama Korea. Dando, kakak sudah mengantuk. Kakak pulang dulu," kata Sinta, lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Tumben jam segini sudah mengantuk," gamam Dando. "Apa dia tidak suka kepadaku, ya?"
Sinta telah sampai di rumahnya. Ia langsung masuk ke kamarnya, tengkurap di ranjang.
"Dugaanku benar. Dando benar-benar suka kepadaku," kata Sinta
"Sebenarnya aku juga suka kepadanya. Tapi, aku tadi langsung pulang karena aku belum siap menerima cintanya. Tapi, jika aku tidak segera memberi jawaban, mungkin dia akan meninggalkanku. Besok aku akan berbicara kepadanya bahwa aku juga suka kepadanya."
Keesokan harinya, Sinta ke rumah Dando untuk berangkat bareng ke sekolah. Sinta mengetuk pintu. Namu, Dando tidak kunjung membuka pintu.
"Dando, bangun!" teriak Sinta.
Tidak ada jawaban. 'Apa dia sudah berangkat?' tanya Sinta dalam hati.
Sinta segera berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah, Sinta langsung ke kelas Dando. Namun, Sinta tidak melihat Dando. Kedatangan Sinta ke kelas Dando menjadi pusat perhatian beberapa laki-laki. Mereka terkesima melihat kecantikan Sinta.
"Hai, nama kamu Sinta, ya?" tanya seorang laki-laki.
"Iya."
"Kenalkan. Aku Revan, cowok paling keren dan paling kaya di sekolah ini."
Sinta meperhatikan cowok itu. Apa yang dikatakan cowok itu bukan sekedar isapan jempol. Ia memang tampan. Tapi, Sinta tidak menyukai cowok tidak sopan seperti itu.
"Kok bengong? Kamu pasti terpesona dengan ketampananku, ya?" tanya Revan penuh percaya diri. Namun, hal itu justru membuat Sinta merasa risih. Ia segera pergi dari tempat itu.
Sinta kembali mencari Dando di jam istirahat. Ketika sedang berjalan di koridor, ia berpapasan dengan Rizky. Sinta tahu kalau Rizky adalah teman sebangku Dando.
"Riz, Dando di mana?" tanya Sinta.
"Dia tidak masuk."
"Tidak masuk?"
"Iya."
"Ya sudah. Makasih, ya.
"Iya.
Sepulang sekolah, Sinta kembali mengetuk pintu rumah Dando. Namun, tidak ada jawaban. Keesokan harinya, Dando tetap tidak masuk sekolah. Tidak ada yang tahu kenapa Dando tidak masuk sekolah. Sinta tidak tahu harus mencari Dando ke mana. Dando tiba-tiba menghilang bagaikan di telan bumi.
__ADS_1