Dewa Heras Dan Herjules

Dewa Heras Dan Herjules
Darcon


__ADS_3

"Aku telah kembali menjadi manusia," kata Revu girang.


"Sekarang, beri tahu aku di mana Darcon," kata Herjules kepada Yofam.


"Dari sini kau berjalan saja ke utara hingga kau menemukan sebuah bukit. Darcon tinggal di bukit itu." kata Yofam.


"Apakah itu satu-satunya bukit di utara?"


"Ada banyak bukit. Bukit tempat tinggal Darcon berjarak tiga minggu perjalanan dengan jalan kaki di siang hari dari sini."


"Revu, ayo kita berangkat," ajak Herjules.


"Ayo."


Mereka berjalan ke utara. Setelah melakukan perjalanan selama tiga minggu, akhirnya mereka sampai pada sebuah bukit.


"Kau yakin ini bukitnya?" tanya Revu.


"Aku tidak yakin. Tapi, kita jelajahi dulu bukit ini. Jika Darcon berada di sini, dia pasti akan muncul karena kedatangan kita."


Mereka mendaki bukit yang berhutan lebat itu. Di puncak bukit, mereka menemukan tanah lapang yang ditumbuhi rerumputan. Mereka beristirahat di tepi tanah lapang itu.


"Perjalanan ini sangat melelahkan," kata Revu.


"Ya. Sampai sejauh ini kita belum menemukan Darcon."


Karena sangat mengantuk, Herjules tertidur di bawah pohon.


Beberapa saat kemudian, seekor ular besar melintasi tanah lapang. Ular itu bergerak mendekati Herjules dan Revu. Ular itu memiliki tujuh buah kepala.


Revu sangat terkejut dan ketakutan melihat ular itu.


"Herjules, bangun," katanya sambil menggoyang-goyang lengan Herjules.


"Ada apa?" tanya Herjules.


"Lihat itu," kata Revu sambil menunujuk ke arah ular itu.


Herjules melihat ke arah yang ditunjuk Revu. Ia terkejut begitu melihat ada sebuah ular sedang mendekati mereka.


"Darcon," katanya, lalu berdiri.

__ADS_1


Ular itu berhenti sekitar sepuluh meter dari hadapan Herjules dan Revu.


Ular itu menatap tajam Herjules. Revu yang bersembunyi di belakang Herjules tampak ketakutan. Meski Revu memiliki ilmu bela diri, namun ia tetap merasa takut melihat ular seperti itu karena ia tahu bahwa ilmu bela dirinya tidak akan bisa mengalahkan ular itu.


"SWOOSSHHH...!" Tiba-tiba ular itu menyemburkan api ke arah Hejules dan Revu. Herjules dan Revu berlari menyelamatkan diri.


Herjules menghentikan larinya. Ia berbalik menghadap Darcon.


Ia mengeluarkan jurus pamungkasnya, jurus Mega Merah tingkat tiga. Tangan Herjules mengeluarkan cahaya merah. Kemudian, ia memukul kepala Darcon menggunakan jurus itu. Sianar merah memancar dari tangan Herjules dan menghantam kepala Darcon.


"DUUUAAAR....!" Kepala Darcon hancur terkena pukulan jurus Mega Merah.


Kepala Darcon yang lainnya segera menyerang Herjules. Herjules kembali menyerang kepala Darcon menggunakan jurus Mega Merah.


"BLAAAMMM....!" Kepala Darcon kembali hancur terkena pukulan jurus Mega Merah. Kepala Darcon yang telah hancur segera tumbuh kembali.


Hercules terus menghancurkan kepala-kepala ular itu. Namun, kepala-kepala Darcon selalu dapat tumbuh kemali setelah dihancurkan.


Herjules yang tidak mampu membunuh Darcon, akhirnya memutuskan untuk melarikan diri. Darcon mengejar Herjules sambil menyemburkan api dari mulutnya.


Herjules berhasil lolos dari kejaran Darcon. Herjules melihat sebuh benda sebesar lapangan bola berbentuk seperti topi koboi.


Herjules masuk ke dalam benda itu. Di dalam benda itu, ia bertemu dengan seseorang berbaju dan bertopi zirah yang membungkus seluruh kepalanya.


"Aku Linos. Aku berasal dari planet Heria," kata orang itu.


"Planet Heria. Aku tidak pernah mendengar negara itu.".


"Itu bukan negara. Itu adalah sebuah planet yang berjarak tiga juta tahun cahaya dari planet bumi."


"Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan."


"Di alam semesta ini, ada banyak planet selain planet bumi, planet yang kau tinggali. Seperti matahari dan bulan, planet-planet itu berada di ruang angkasa, yaitu ruang hampa udara. Ikut aku untuk lebih jelasnya."


Alien itu berjalan menuju sebuah ruangan diikuti oleh Herjules. Di ruangan itu terdapat layar monitor berukuran empat kali papan tulis. Terdapat banyak tombol di bawah layar monitor itu. Alien itu menekan beberapa buah tombol.


Layar monitor menyala dan menampilkan gambar tata surya.


"Itu adalah matahari," kata alien itu sambil menunjuk menggunakan laser merah. "Dan ini adalah planet bumi, planet yang kau tinggali. Selain bumi, ada beberapa planet lainnya. Ini adalah planet Mars, planet yang paling dekat dengan bumi. Kau bisa melihat planet ini dengan jelas ketika fajar yang pendududuk bumi menyebutnya bintang fajar.


Kumpulan planet-planet ini berada dalam satu gugusan planet yang disebut galaksi." Alien itu menekan tombol. Gambar di layar menyusut sehingga tampak gambar galaksi.

__ADS_1


"Ini adalah galaksi tempat planet bumi berada," jelas alien itu lagi. "Tiga juta tahun cahaya dari sini, ada galaksi lain."


Layar menampilkan galaksi lain.


"Ini adalah galaksi lain di mana planetku berada," kata alien mengakhiri pejelasannya.


"Menarik," kata Herjules. "Ternyata alam semesta ini sangat luas. Lalu, apa tujuanmu datang ke sini?"


"Tujuanku adalah menangkap Darcon. Namun, kami tidak bisa menangkap Darcon karena Darcon tiba-tiba berubah menjadi sangat kuat setelah berada di bumi."


"Jadi, Darcon berasal dari planet... planet apa tadi?"


"Planet Heria."


"Ya planet Heria?"


"Benar. Aku ingin meminta bantuanmu untuk menangkap Darcon."


"Apa yang bisa aku lakukan? Aku sudah mencoba membunuhnya, tapi Darcon tidak bisa dibunuh."


"Aku tahu. Aku hanya memintamu untuk memancingnya agar Darcon masuk kedalam pesawat ini."


"Baiklah. Aku akan melakukannya."


Herjules berjalan keluar pesawat. Ia berjalan menyusuri hutan. Beberapa saat kemudian, Darcon muncul di hadapannya. Darcon langsung menyerang Herjules. Herjules berlari masuk kedalam pesawat. Herjules sampai di sebuah ruangan. Herjules tidak bisa melarikan diri dari kejaran Darcon karena ruangan itu hanya memiliki satu pintu.


"Sekarang kau tidak bisa lari dariku," kata Darcon. "Sekarang, aku akan membunuhmu. Apakah ada kata terakhir sebelum kau mati?" tanya Darcon.


"Chiuuu...! Chiuuu...! Chiuuu...!" Tiba-tiba Darcon dihujani tembakan laser dari para alien. Hal itu membuat perhatian Darcon teralihkan dari Herjules. Herjules tidak meyia-nyialan kesempatan itu. Ia segera berlari keluar dari ruangan itu. Begitu ia keluar, pintu ruangan itu menutup.


Darcon mencoba menjebol pintu ruangan itu dengan kepalanya. Tiba-tiba muncul sinar putih dari langit-langit. Sinar itu adalah portal luar angkasa. Badan Darcon teruarai dan terhisap oleh portal itu.


"Graaaa...!" teriak Darcon kesakitan.


Beberapa saat kemudian, Darcon telah lenyap dari ruangan itu.


"Kami telah mengirim Darcon ke planet tak berpenghuni," kata alien yang telah meminta Herjules untuk memancing Darcon masuk ke dalam pesawat. Alien itu adalah komandan pasukan. "Terimakasih atas bantuanmu."


"Bisakah kau membuka topi zirahmu? Aku ingin melihat wajahmu" tanya Herjules.


Alien itu membuka topi zirahnya. Herjules terkejut. Wajah alien itu sangat menyeramkan. Alien itu memiliki mata bulat besar dengan lingkaran merah di dalam bola matanya. Kulitnya tebal berkerut dan mulutnya mirip mulut belalang sembah.

__ADS_1


"Aku sudah melihat wajahmu. Aku lebih suka kau mengenakan topi zirahmu," kata Herjules.


Alien itu kembali mengenakan topi zirahnya.


__ADS_2