
"Oh, ya. Besok kakak main ke sini lagi, ya. Dando mau mengajari kakak melukis," kata Dando.
"Besok kakak ada acara. Jadi, kakak tidak bisa main ke sini."
"Acara apa, Kak?"
"Kakak mau melihat pameran lukisan bersama Indra."
'Indra? Dia lagi. Dia pasti mau mendekati Sinta. Akau tidak boleh membiarkan hal itu terjadi,' batin Dando.
"Dando boleh ikut?"
"Boleh. Besok kita berangkat jam delapan pagi."
Keesokan harinya, Dando pergi ke rumah Sinta.
"Sebentar, aku mau sarapan dulu. Kamu sudah sarapan?" tanya Sinta.
"Belum," Dando menggeleng.
"Yuk, kita sarapan bareng."
"Iya."
Dando beranjak menuju ruang makan.
Di ruang makan, sudah ada mama dan papa Sinta.
"Eh, Dando. Ayo sarapan dulu," kata Arni, mama Sinta.
Mereka mengambil nasi secara bergantian.
"Silahkan, Dando. Maaf, ya. Lauknya seadanya," kata Arni.
"Ini sudah enak, Tante," kata Dando.
Dando makan dengan lahap. Ia menyukai masakan Arni. Meski menunya sederhana, hanya terdiri dari tempe goreng, ikan asin dan sayur tumis kangkung, namun makanan itu terasa sangat nikmat.
"Dan, tambah lagi nasinya," kata Dedi, papa Sinta, ketika dilihatnya nasi di piring Dando hampir habis.
"Iya, Om."
Dando kembali mengambil nasi dan lauk.
Selesai makan, Dando dan Sinta beranjak meninggalkan ruang makan.
"Kita tunggu Indra di teras saja," kata Sinta.
Mereka duduk di teras. Sinta melihat jam di layar Hp. Sudah jam delapan tepat. Namun, Indra belum datang juga. Tiba-tiba ada notifikasi pesan dari Indra.
Indra: Sin, sori aku agak telat. Aku terjebak macet. Aku mengalami kecelakaan kecil di jalan.
Sinta: Iya, tidaj apa-apa. Kamu hati-hati, ya...
Tidak lama kemudian, Sebuah mobil sedan berwarna putih berhenti di depan rumah Sinta. Indra keluar dari dalam mobil. Ia terlihat tampan mengenakan jaket berwarna biru dan celana jean hitam.
"In, Dando boleh ikut?" tanya Sinta.
"Boleh. Ayo kita berangkat," kata Indra sambil menarik tangan Sinta.
"Kak Sinta duduk di belakang saja," kata Dando seraya menarik tangan sinta yang satunya.
"Sinta duduk di depan saja. Aku tidak ingin menjadi sopir kalian," Indra bersikeras.
"Tidak bisa," tolak Dando.
"In, aku duduk di belakang saja," kata Sinta.
Indra melepaskan pegangan tangannya.
Mereka masuk ke dalam mobil. Indra sedikit kecewa karena Sinta tidak duduk di sampingnya, melainkan duduk di belakang bersama Dando. 'Mengapa Sinta mengajak dia?' tanya Indra dalam hati. 'Ada hubungan apa sebenarnya Sinta dengan cowok penipu itu? Merusak suasana saja,' sungutnya.
Indra telah menjalankan mobilnya.
"Kalian terlihat sangat dekat. Apa kalian pacaran?" tanya Indra.
"Tidak. Kami hanya berteman," jawab Sinta.
__ADS_1
"Tapi, kalian sangat akrab. Sudah berapa lama kalian saling mengenal."
"Kami baru kenal dua minggu," jawab Sinta.
"Ooo.."
Tanpa terasa, mereka telah sampai di gedung pameran. Mereka segera keluar dari mobil.
"Ini tempatnya?" tanya Sinta.
"Iya. Aku menyewa tempat ini untuk pameran lukisanku," jawab Indra.
"Jadi, ini pameran lukisanmu?"
"Iya."
"Kukira ini pameran lukisan orang lain."
"Ayo kita masuk," ajak Indra sambil menarik tangan Sinta.
Hati Dando menjadi panas melihat Indra menggandeng tangan gadis pujaannya. 'Aku harus melakukan sesuatu,' batin Dando.
"Kak Sinta, Dando mau es krim," kata Dando dengan suara manja sabil menarik tangan Sinta. Dando sebenarnya tidak ingin makan es krim. Ia ingin makan es krim hanya sebagai alasan agar ia bisa menjauhkan Sinta dari Indra.
"Dando mau es krim?" tanya Sinta.
"Iya, Kak."
"Ayo kita beli di sana," kata Sinta seraya menunjuk penjual es krim tidak jauh dari mereka berdiri.
"Paman, es krimnya dua," kata Sinta kepada penjual es krim.
"Kok memanggil saya paman? Memang tampang saya sudah seperti paman-paman, ya?" senyum penjual es krim.
"Eh, memangnya mau dipanggil apa?" tanya Sinta.
"Panggil mas, dong. Saya 'kan masih muda."
"Oh, ya, maaf. Paman, eh, Om, eh Mas, es krimnya dua," ulang Sinta.
"Ada rasa apa?"
"Ada rasa vanila, coklat dan strowberi."
"Dando mau rasa apa?" tanya Sinta kepada Dando.
"Dando mau rasa vanila, Kak," jawab Dando.
"Mas, rasa vanila dua," pesan Sinta.
'Sinta memesan es krim yang sama denganku,' batin Dando. 'Itu tandanya ia suka kepadaku.'
"Ini esnya," kata penjual es krim sambil memberikan dua buah es krim kepada Sinta.
Sinta segera membayar es krim.
'Ternyata laki-laki itu adiknya. Ku kira pacarnya,' batin penjual es krim.
"Dan, ayo kita ke pameran," ajak Sinta.
"Kak, lihat. Ada penjual kue. Kelihatannya enak," kata Dando sambil menunjuk penjual kue.
"Dando mau?"
"Iya, Kak."
"Ayo kita beli. Setelah itu kita ke pameran, ya."
"Iya."
Setelah memakan kue, mereka menemui Indra.
"In, ayo masuk," ajak Sinta.
"Ayo."
Mereka masuk ke dalam gedung pameran untuk melihat-lihat lukisan Indra.
__ADS_1
"Sin, aku mau menunjukkan sesuatu kepadamu. Ayo ikut aku."
Sinta dan Dando mengikuti Indra berjalan menuju sebuah lukisan wanita. Sinta terkejut karena lukisan itu adalah lukisan dirinya.
"Ini lukisan diriku?" tanya Sinta.
"Aku sengaja melukismu sebagai kejutan di hari ulang tahunmu."
"Ini hari ulang tahunku, ya? Aku lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunku."
"Selamat ulang tahun, Sinta."
"Terimakasih, In."
"Sama-sama. Dando, kamu sebagai sahabatnya seharusnya tahu bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Sinta," kata Indra menyudutkan Dando.
"Siapa bilang aku tidak tahu. Aku hanya belum sempat memberinya hadiah. Aku akan memberinya hadiah setelah pulang dari pameran," kilah Dando.
'Dasar kampret!' umpat Dando dalam hati. 'Dia berusaha menyudutkanku untuk menarik perhatian Sinta.'
"Tring...!" Hp Indra berdenting.
Indra segera memeriksa kotak pesan di Hpnya. Sebuah notifikasi pesan dari Rani, petugas kasir.
Rani: In, seseorang mau membeli lukisan Gadis Idaman.
Indra: Oke. Aku akan membawa lukisannya ke sana.
"Sin, ada seseorang yang mau membeli lukisan dirimu seharga tiga puluh juta," kata Indra.
"Apa? Tiga puluh juta?!" Mata Sinta membelalak. Ia tidak percaya lukisan dirinya bisa laku semahal itu.
"Iya. Kenapa?"
"Aku tidak percaya lukisan diriku bisa laku semahal itu."
"Ayo kita bawa lukisannya ke meja kasir," ajak Indra.
Indra melepaskan lukisan Sinta dari dinding dan membawanya ke meja kasir. Di meja kasir, seroang pria sedang duduk di ruang tunggu. Pria itu mengenakan jas berwarna hitam dan dasi berwarna biru.
Rani segera membungkus lukisan itu, lalu memberikannya kepada orang itu.
"Sin, uangnya akan kutransfer ke rekeningmu,"
"Jangan, In. Itu adalah hasil karyamu."
"Iya. Tapi, kamu adalah modelnya. Jadi, kamu juga berhak menerimanya."
"Berapa yang akan kamu transfer?"
"Semuanya."
"Semuanya?"
"Ya."
"Jangan, In. Melukis juga memerlukan modal. Sebaiknya hasil penjualannya kamu kurangi modal dulu. Lalu, keuntungan bersihnya kita bagi," saran Sinta.
"Baiklah. Modalnya tiga juta. Jadi, keuntungan bersihnya adalah dua puluh tujuh juta rupiah. Keuntungannya untukmu semua,"
"Tidak. Kamu beri aku tiga puluh persen saja."
"Sin, tolong jangan tolak pemberianku. Aku sudah bilang kalau lukisan itu adalah sebagai hadiah ulang tahunmu. Jadi, kumohan jangan menolak pemberianku."
"Baiklah kalau begitu. Aku akan menerima pemberianmu."
"Terimakasih, Sin."
"Seharusnya aku yang berterimakasih."
"Berapa nomor rekeningmu?"
Sinta melihat nomor rekeningnya di layar Hp, lalu menyebutkannya. sementara Indra mencatatnya di Hp.
"Uangnya akan segera kutransfer. Sekarang kita berkeliling untuk melihat-lihat lukisanku yang lain," ajak Indra.
Mereka melihat-lihat lukisan Indra. Sinta sangat kagum dengan lukisan Indra. Tapi, tidak demikian dengan Dando. Ia sangat membenci semu lukisan indah itu.
__ADS_1