
"Sekarang, kita ke ruang pengumuman. Sebentar lagi acara pengumuman pemenang lomba akan segera dimulai," ujar Indra.
Mereka pergi ke ruang pengumuman. Sesampainya di ruang pemgumuman, mereka duduk di kursi. Tidak lama kemudian, seorang MC naik ke panggung.
"Sekarang, saya akan mengumumkan pemenang lomba melukis," kata MC.
Jantung Sinta berdebar-debar. Ia berharap ia menjadi pemenang lomba melukis. Ia merasa bahwa ia layak memenangkan lomba karena ia sudah bekerja keras selama seminggu. Selain itu, ia juga tidak ingin mengecewakan Dando dan Indra.
"Pemenangnya adalah Irfan dari SMA 6!" lanjut MC.
Seketika, badan Sinta menjadi lemas. Ia sangat kecewa dengan hasil lomba.
Setelah pemenang selesai diumumkan, Sinta keluar gedung diikuti oleh Dando dan Indra.
"Kakak yang sabar, ya," hibur Dando.
"Kakak memang tidak berbakat melukis. Kakak tidak akan belajar melukis lagi" kata Sinta.
"Kakak jangan berkata seperti itu. Kakak harus tetap belajar. Dando siap mengajari kakak sampai bisa," kata Dando.
"Kamu tidak boleh putus asa," timpal Indra. "Kamu baru satu kali mengikuti lomba. Jadi, wajar kalau kamu kalah," lanjut Indra.
"Kalau begitu, aku tidak akan menyerah. Aku akan terus belajar," tekad Sinta.
"Nah, begitu, dong," kata Indra.
"Aku ada urusan. Aku tinggal dulu, ya," pamit Indra.
"Iya. Terimakasih atas dukungannya?" ucap Sinta.
"Sama-sama."
"Dan, ayo kita pulang," kata Sinta.
"Ayo."
Mereka berjalan menuju tempat parkir.
Tiba-tiba ada seorang laki-laki separuh baya mendekati mereka.
"Permisi. Perkenalkan. Nama saya Sastro. Saya tadi telah melihat penampilan Mbak di panggung. Saya sangat tertarik untuk menjadikan Mbak sebagai pemeran utama di film saya," kata laki-laki itu kepada Dando. Laki-laki itu tidak menyadari bahwa Dando adalah laki-laki.
"Oh, ya?" tanya Dando.
"Benar. Bagaimana kalau kita bicarakan hal ini lebih lanjut di kantor saya?"
"Boleh. Kapan?"
"Sekarang. Oh, ya. Siapa namamu?"
"Dewi, Om."
Dando terpaksa berbohong. Ia khawatir Sastro akan membatalkan rencananya untuk menjadikannya aktris di filmnya jika ia mengetahui bahw ia adalah laki-laki.
"Maaf, kalau sekarang saya tidak bisa karena saya harus mengantarkan pulang teman saya dulu."
__ADS_1
"Aku bisa pulang sendiri, Dan. Kamu pergi sekarang saja," tolak Sinta. Ia tidak ingin Dando kehilangan peluang emas menjadi aktor.
"Beneran kamu bisa pulang sendiri?"
"Iya, aku bisa pulang sendiri, kok."
Ya sudah. Aku pergi dulu, ya.
"Iya."
"Kamu naik mobil saya saja," kata Sastro kepada Dando.
"Iya."
Mereka berjalan ke tempat parkir. Sastro masuk ke dalam sebuah mobil sedan berwarna hitam diikuti oleh Dando.
"Mbak kelas berapa?" tanya Sastro berbasa-basi.
"Kelas tiga SMA, Om."
"Saya melihat Mbak berbakat bermain film. Saya yakin, film saya akan sukses di pasaran jika Mbak yang membintangi film saya."
"Om akan membuat film apa?"
"Om akan mebuat film action. Kamu akan berperan sebagai superhero yang bernama Superlady."
"Wah, itu pasti seru."
"Ya. Ini adalah film besar yang akan diputar di Hollywood."
Mereka telah berada di ruang kantor.
"Apakah kamu sudah mempunyai pacar?" tanya Sastro.
"Belum, Om."
Tiba-tiba seorang laki-laki masuk ke dalam kantor.
"Ini Kevin, putra om," kata Sastro memperkenalkan Kevin. "Kevin, kamu ajak Dewi pergi jalan-jalan."
"Ya, Pa. Dewi, ayo kita jalan-jalan," ajak Kevin.
Mereka tiba di sebuah taman kota. Mereka duduk di bawah pohon.
"Wi, aku mau berbicara sesuatu," kata Kevin.
Dando terkejut. 'Jangan-jangan dia mau nembak aku,' pikir Dando.
"Mau berbicara apa?" tanya Dando.
"Aku mau berbicara kalau aku suka kepadamu. Aku suka kepadamu pada pandangan pertama. Maukah kamu menjadi pacarku?"
Perkiraan Dando benar. Kevin menembak Dando. Dando harus menjelaskan kepada Kevin bahwa ia adalah laki-laki. Ia tidak ingin berpacaran dengan sesama laki-laki. Ia lebih baik tidak jadi menjadi aktris dari pada harus berpacaran dengan laki-laki.
"Begini, Kev. Sepertinya sudah terjadi kesalah pahaman di antara kita. Sebenarnya aku bukan Dewi. Aku adalah Dando. Dan aku juga bukan wanita aku adalah laki-laki," jelas Dando.
__ADS_1
"Laki-laki?!" tanya Kevin tidak percaya.
"Iya."
"Maaf kukira kamu wanita. Kalau begitu aku batal menajadikan kamu aktris di film ayahku," kata Kevin.
"Iya. Tidak apa-apa."
Mereka akhirnya pulang dengan perasaan kecewa. Kevin kecewa karena Dewi ternyata adalah seorang laki-laki. Dan Dando kecewa karena tidak jadi membintangi film.
Keesokan harinya, Dando melihat Sinta sedang menangis di belakang sekolah.
"Padahal aku sudah berusaha keras. Tapi, kenapa hasilnya tidak seperti yang kuharapkan? Kenapa aku tidak bisa memenangkan lomba?" Sinta bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Aku tidak bisa melawan takdir. Aku akan mengubur impianku. Aku tidak akan belajar menggambar lagi. Lebih baik aku fokus pada pelajaran sekolah saja," kata Sinta.
"Apakah hanya sampai di situ usahamu?" tanya Dando tiba-tiba yang membuat Sinta terkejut.
"Dando...?"
"Kamu baru gagal satu kali dan kamu sudah menyerah. Apakah kamu belajar melukis hanya untuk hobi sesaat?"
Sinta terdiam. Ia merasa sikap Dando sangat aneh. Ini tidak seperti Dando yang biasanya. Tiba-tiba Dando bersikap seperti orang dewasa. Ia tidak bersikap seperti anak kecil lagi.
"Katakan padaku kalau kamu tidak ingin menjadi pelukis. Sebelumnya aku mengira kamu adalah seorang gadis yang pantang menyerah. Tapi, ternyata kamu sudah menyerah hanya karena tidak menang lomba. Mana Kak Sinta yang dulu? Mana Kak Sinta yang selalu optimis dan tidak mengenal lelah untuk belajar?" kata Dando.
"Tidak. Aku ingin menjadi pelukis. Aku akan berusaha lebih keras lagi?" kata Sinta.
"Nah begitu, Dong. Ini baru Kak Sintaku yang cantik dan kuat," puji Dando yang membuat pipi Sinta memerah seperti udang rebus.
"Kamu dan Indra sudah menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk membantuku. Tapi, aku tidak bisa menang lomba. Aku merasa bahwa diriku tidak berguna."
Dando meraih tangan Sinta dan menariknya ke dalam pelukannya. Sinta tak kuasa menolak pelukan itu. Justru ia merasa nyaman dan damai.
"Aku membantumu bukan untuk membuatmu memenangkan lomba. Aku membantumu untuk mewujudkan impianmu. Jadi, kamu tidak perlu menyalahkan diri sendiri," kata Dando.
"Terimakasih Dando. Tanpa bantuanmu, aku mungkin tidak akan bisa mewujudkan impianku," kata Sinta. Sinta sudah melpaskan pelukan Dando.
"Dando akan selalu membantu Kak Sinta. Dando akan selalu berada di sisi Kak Sinta."
"Kamu memang teman kakak yang paling baik. Semoga kita bisa selalu berteman," kata Sinta.
'Sinta, aku tidak ingin selalu menjadi temanmu. Aku ingin lebih dari itu. Aku ingin kamu menjadi isteriku,' kata Dando dalam hati.
"Dando, sikapmu hari ini mengapa tidak seperti biasanya?"
Dando terkejut. Kesedihan Sinta membuatnya lupa berackting.
"Maksud Kakak?" tanya Dando berpura-pura tidak tahu.
"Sekarang, sikapmu seperti orang dewasa."
"Dando, hanya meniru adegan dalam film roman, Kak," kata Dando beralasan. Ia tidak ingin Sinta mengetahui sifat aslinya. Ia khawatir Sinta akan meninggalkannya jika Sinta tahu bahwa selama ini ia hanya beracting.
"Kamu lucu sekali. Kakak sangat bersyukur memiliki teman sepertimu" ucap Sinta.
__ADS_1
"Lebih dari teman juga boleh," sahut Dando.