Dewa Heras Dan Herjules

Dewa Heras Dan Herjules
Mencontek


__ADS_3

Pagi yang cerah. Dengan langkah gontai, aku memasuki ruang kelas.


"Hai, Lis," sapa Ayu sambil tersenyum.


"Hai." Aku membalas senyuman Ayu.


Aku duduk di bangku ke tiga dari depan. Sebenarnya aku lebih suka duduk di bangku paling depan agar bisa mengikuti pelajaran dengan mudah. Namun, di hari pertama masuk sekolah setelah liburan kenaikan kelas, aku bangun kesiangan. Saat itu aku akan marah kepada mama karena tidak membangunkanku. Namun, aku tidak jadi marah karena mama juga bangun kesiangan. Sialnya lagi, aku lupa menyetel alarm.


Ayu duduk di sampingku.


"Apa kabar, Lisa cantik," sapanya lagi.


"Kalau kamu sudah memujiku seperti itu, pasti ada maunya," tebakku.


"Heee...he...he...," cengirnya.


"Mau minta contekan, 'kan?"


"Iya."


"Kalau kamu nyontek terus, kapan kamu bisa pandai."


"Please, Lis. Kamu 'kan sahabatku yang paling baik. Kalau bukan kamu, siapa lagi yang mau membantuku," rengek Ayu seperti anak kecil yang meminta dibelikan mainan.


"Kamu 'kan bisa meminta bantuan orang tuamu."


"Aduh, Lis. Kamu 'kan tau sendiri kalau orang tuaku itu sibuk banget. Jangankan membantuku mengerjakan PR, sekedar mengobrol denganku aja mereka nggak ada waktu," bantahnya.

__ADS_1


Penjelasan Ayu membuatku merasa kasihan kepadanya. Ayu memang tidak bisa menguasai pelajaran Bahasa Inggris. Ia sering mencontekku ketika ada PR Bahasa Inggris. Namun, ia bukan gadis yang pelit. Ia sering mentraktirku jajan di kantin sekolah.


"Ayo, dong, Lis. Beri aku contekan. Nanti kutraktir makan bakso," bujuknya.


Dengan malas, aku mengambil buku PR Bahasa Inggrisku dari dalam tas, lalu memberikannya kepada Ayu.


"Makasih, Lis. Kamu memang sahabatku yang paling baik," pujinya.


"Kamu bilang seperti itu kalau lagi ada maunya," sangkalku.


"Ya nggak, dong, Lis. Kamu akan selalu menjadi sahabatku yang terbaik."


"Ya udah. Cepat kerjakan. Sebentar lagi bel masuk berbunyi."


"Oke."


Ayu segera mengerjakan PR. Ia tidak ingin dihukum pak Suryo gara-gara tidak mengerjakan PR. Biasanya pak Suryo akan menghukum siswa yang tidak mengerjakan PR dengan berdiri di depan kelas.


"Buruan, Yu," kataku panik.


"Iya. Tinggal satu."


Sejurus kemudian, pak Suryo masuk ke ruangan. Ayu segera menutup bukunya karena ia sudah menyelesaikan PR-nya. Aku menarik nafas lega. Jika sampai ketahuan mencontek, bukan hanya Ayu saja yang mendapatkan hukuman. Aku juga akan mendapatkan hukuman karena memberinya contekan.


Waktu istirahat telah tiba. Aku dan kedua temanku, Bella dan Reny, berjalan ke kantin.


Di kantin masih sepi. Hanya ada beberapa pengunjung. Kami duduk di bangku paling belakang.

__ADS_1


"Lis, di sekolah kita akan ada kegiatan ekstrakurikuler. Kamu ikut nggak?" tanya Reny.


"Enggak."


"Kenapa?"


"Sebentar lagi kita UN. Aku mau fokus belajar."


Beberapa orang laki-laki masuk ke kantin. Mereka adalah Andika, Roni dan Dimas.


"Bel, ada Dimas," bisik Reny.


Pandanganku dan Bella segera mengarah ke Dimas. Jantungku tiba-tiba berdebar-debar.


"Bel, kamu suka Dimas, 'kan?" tanya Reny.


"Iya."


"Kamu berani nggak nembak dia sekarang?"


"Ya jelas nggak berani lah."


"Kenapa nggak berani? katanya suka. Kalau suka harus berani, dong."


"Aku takut ditolak. Apa lagi nembaknya di tengah orang banyak. Aku pasti akan malu banget kalau ditolak."


"Kalau kamu nggak mau nembak, gimana kalau aku aja yang nembak?" tanya Reny.

__ADS_1


"Kamu gila, ya. Kamu nggak malu nembak cowok di tengah orang banyak?"


"Sebenarnya sih aku malu. Tapi, ini adalah caraku untuk membuktikan kalau aku cinta banget sama dia."


__ADS_2