Dewa Heras Dan Herjules

Dewa Heras Dan Herjules
Penyelamatan


__ADS_3

Aku mengetuk pintu ruangannya bu Linda.


"Masuk," sahut bu Linda.


Aku masuk ke ruangannya bu Linda.


"Silahkan duduk," kata bu Linda sambil menunjuk kursi di depan mejanya. Aku duduk.


"Ibu memanggilmu ke mari karena ada yang akan ibu katakan mengenai kegiatan pramuka," kata bu Linda.


Aku menarik nafas lega. Ternyata aku dipanggil bukan karena aku melakukan kesalahan.


"Pramuka akan di bagi menjadi beberapa regu. Dan setiap regu terdiri dari empat sampai enam orang. Kita masih kekurangan orang. Ibu minta kamu untuk mencari lima orang anggota lagi."


"Ya, Bu."


"Kira-kira siapa orang yang bisa kita ajak menjadi anggota pramuka?"


"Kalau menurut saya, yang bisa kita ajak menjadi anggota itu Anto, Roni, Wati, Rena dan Anis."


"Kalau Wati, dia nggak bisa kita ajak karena orang tuanya tidak mengijinkannya untuk mengikuti pramuka."


"Kenapa, Bu?"

__ADS_1


"Orang tuanya khawatir kalau terjadi apa-apa terhadap anak semata wayangnya. Padahal kegiatan pramuka ini sangat aman karena akan dilaksanakan di dekat perkampungan," jelas bu Linda sambil melipat tangannya di atas meja.


"Ya. Kekhawatiran orang tua Wati memang terlalu berlebihan."


"Ibu minta kamu cari pengganti Wati. Ada yang ingin ditanyakan?"


"Nggak ada, Bu."


"Baik. Kalau begitu kamu bisa meninggalkan ruangan ibu."


"Ya. Terima kasih, Bu."


"Sama-sama."


Aku beranjak dari tempat dudukku. Selanjutnya, aku berjalan menuju kantin. Pada jam istirahat, kantin adalah tempat paling baik untuk menghabiskan waktu istirahat selain perpustakaan.


"Ada apa?" tanyaku pada seorang siswi yang berpapasan denganku.


"Ada siswi ingin bunuh diri?"


"Bunuh diri?!"


"Ya," jawabnya, lalu berlari ke luar sekolah.

__ADS_1


Aku segera berlari menyusul siswi itu. Aku penasaran siapa yang ingin bunuh diri di sekolah.


Di halaman sekolah, sudah banyak murid yang berkumpul. Wajah mereka menghadap ke atas gedung. Gedung sekolahku berlantai empat. Di atas gedung, aku melihat seorang siswi sedang berdiri di tepi atap. Sepertinya ia akan terjun dari atas gedung. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi gadis itu jika ia nekat terjun dari gedung setinggi itu. Sudah bisa dipastikan, kepala gadis itu akan hancur dan beberapa tulangnya akan patah. Aku merasa ngeri jika membayangkan hal itu.


Aku tidak bisa mengenali gadis itu karena wajahnya tidak bisa terlihat dengan jelas dari bawah sini.


"Siapa dia?" tanyaku kepada Widoyo.


Widoyo menoleh, "Laras," jawabnya kemudian. Ia kembali mengarahkan pandangannya ke arah gadis itu.


"Kenapa dia mau bunuh diri?"


"Aku nggak tau," jawabnya. Pandangannya tetap mengarah kepada gadis itu seolah tidak ingin melewatkan kejadian itu sedetik pun.


'Kenapa nggak ada seorang pun yang berusaha menyelamatkannya?' pikirku.


"Yo, sebaiknya kamu mencoba menyelamatkan gadis itu," saranku kepada Widoyo.


"Bagaimana caranya?" kali ini dia menoleh ke arahku.


"Kamu naik ke atap gedung, lalau tarik dia dari belakang," jelasku.


Dia tampak berpikir sejenak.

__ADS_1


"Ya. Aku akan mencoba," jawabnya kemudian.


Widoyo segera naik ke atap gedung melalui tangga di dalam gedung. Dengan harap-harap cemas, aku menunggu Widoyo melakukan penyelamatan. Aku berharap Widoyo tidak terlambat. Beberepa saat kemudian, aku melihat Widoyo berjalan mengendap-endap di atas atap gedung seperti seseorang yang ingin menangkap capung. Aku menahan nafas ketika Widoyo berjalan mendekati gadis itu. Widoyo berhasil mendekati gadis itu dan memegang lengan gadis itu, lalu menariknya dari tepi atap. Aku menghembuskan nafas. Widoyo telah berhasil menyelamatkan gadis itu.


__ADS_2