Dewa Heras Dan Herjules

Dewa Heras Dan Herjules
Kehancuran


__ADS_3

Melihat semua anak buahnya terkapar, pemimpin pemburu menjadi sangat geram. Ia mencabut pedangnya dan menyerang Herjules. Pimpinan pemburu menebaskan pedangnya ke tubuh Herjules. Herjules menangkis dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memukul ulu hati lawannya. Pimpinan perampok terdorong ke belakang. Ia meringis menahan rasa sakit yang teramat sangat. Ia terdiam beberapa saat menunggu rasa sakitnya berkurang. Setelah rasa sakitnya berkurang, ia kembali menyerang dengan menyabetkan pedangnya. Namun, sebelum pedang itu mengenai tubuh Herjules, Herjules melesakkan sebuah pukulan berkekuatan besar tepat di kepalanya. Pukukulan itu membuat pimpinan perampok terlempar dan membentur pohon. Pimpinan perampok tewas seketika dengan kepala pecah.


Melihat pimpinan perampok tewas, anak buah perampok langsung berlutut di hadapan Herjules.


"Ampuni kami, anak muda," kata salah satu dari mereka.


"Aku mengampuni kalian," kata Herjules.


"Terimakasih," kata mereka, lalu bergegas pergi.


Herjules segera membawa hewan buruannya pulang ke rumah.


Sepuluh tahun kemudian, Herjules telah menjadi lelaki dewasa. Ia menikah dengan seorang gadis yang cantik jelita. Mereka memiliki seorang anak perempuan bernama Delvina. Usianya baru tiga belas tahun.


Seperti biasa, pagi ini Herjules pergi ke ladang untuk merawat tanaman lombok. Setibanya di ladang, ia terkejut karena sebagian tanaman lomboknya di makan rusa.


Herjules menelusuri jejak rusa. Rusa itu masuk ke dalam hutan. Menjelang sore hari, barulah Herjules menemukan tempat persembunyian rusa. Herjules melihat rusa itu sedang berjalan ke arah sungai. Herjules mengambil busur di punggungnya. Ia membidik rusa itu, lalu melepaskan anak panahnya. Anak panah meluncur dengan cepat dan tepat mengenai perut rusa.


Rusa itu terkejut dan berlari dengan sangat cepat. Meski, tubuh rusa sudah terkena anak panah, namun ia masih mampu melarikan diri.


Herjules mengikuti tetesan darah dari rusa yang teluka. Beberapa saat kemudian, ia berhasil menemukan rusa itu dalam keadaan mati. Herjules membawa rusa itu pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, Herjules sangat terkejut. Rumahnya telah hancur. Tidak hanya rumahnya. Rumah penduduk lainnya juga hancur. Tidak ada seorangpun yang terlihat. Herjules masuk ke dalam rumah untuk memeriksa keadaan isteri dan anaknya. Namun, ia tidak menemukan keduanya. Herjules menduga bahwa desanya telah dihancurkan dan isteri dan anaknya telah dibawa. Namun, ia tidak tahu siapa yang menghancurkan desanya.


"Tidaaakkk....!" Herjules berteriak. Ia duduk bersimpuh sambil menagis tersedu-sedu.


Seseorang datang menemui Herjules. Orang itu bernama Toran. Herjules berdiri dan mendekati Toran.


"Toran, apa yang terjadi?" tanyanya.


"Desa kita dihancurkan. Semua laki-laki dibunuh. Semua wanita dan anak-anak dibawa," tutur Toran.


"Siapa yang menghancurkan desa kita?"


"Aku tidak tahu. Tapi, aku melihat mereka membawa bendera berwarna hijau bergambar kala jengking."


Herjules tidak tahu mengenai bendera itu. Herjules tidak tahu harus berbuat apa. Toran telah pergi.


"Ayah! jadikan aku dewa agar aku bisa menghentikan kebiadaban mereka!" teriak Herjules kepada Dewa Heras, ayahnya.


Sebuah bola cahaya meluncur dari langit mendekati Herjules. Di dalam bola cahaya itu, terlihat dewa Heras.


"Putraku, kau harus kuat menerima kenyataan ini," kata dewa Heras.

__ADS_1


"Ayah, jadikan aku dewa agar aku bisa menghentikan kekejaman mereka," kata Herjules.


"Kau adalah manusia setengah dewa. Untuk mejadi dewa seutuhnya, kau harus melewati sebuah ujian. Jika kau berhasil melewati ujian itu, aku akan menjadikanmu seorang dewa," kata dewa Heras memberikan syarat.


"Sebutkan ujian itu. Aku akan melewatinya."


"Ujiannya adalah kau harus membunuh Darcon."


"Itu mustahil. Darcon adalah mahluk berkepala tujuh yang tidak bisa dibunuh."


"Jika kau ingin menjadi dewa, tidak ada jalan lain selain kau harus melewati ujian itu."


"Tapi, ujian itu terlalu berat. Aku bisa terbunuh oleh Darcon. Atau jangan-jangan ayah sengaja memepersulitku agar aku tidak bisa menjadi dewa?"


"Kau bisa mundur jika kau tidak sanggup. Aku tidak memaksamu untuk menjadi dewa."


"Baiklah. Aku akan membunuh Darcon. Dimana dia berada?"


"Bertanyalah pada Revu. Dia bisa membantumu mencari tahu keberadaan Darcon." kata dewa Heras, lalu menghilang.


Herjules pergi ke rumah Revu. Revu adalah seorang anak muda yang tampan.


Revu sedang berlatih pedang dengan temannya ketika Herjules tiba di rumahnya.


Revu menghentikan latihannya begitu melihat kedatangan Herjules.


"Aku Revu. Ada keperluan apa kau ingin menemuiku?"


"Revu, aku Herjules. Sahabatmu ketika kita masih kecil."


"Jadi, kau Herjules? Sudah lama kita tidak bertemu. Kau sudah menikah?"


"Sudah. Kau?"


"Aku belum menikah. Tidak ada satupun wanita di dunia ini yang mau menikah denganku."


"Kau jangan berkata seperti itu. Kau pasti akan mendapatkan jodoh."


"Aku tidak yakin. Ada apa kau menemuiku?"


"Aku akan membunuh Darcon. Apakah kau tahu di mana dia berada?"


"Aku tidak tahu. Tapi, aku tahu orang yang tahu keberadaan Darcon. Orang itu bernama Yofam. Dia tinggal di hutan siluman. Kenapa kau ingin membunuh Darcon?"

__ADS_1


"Itu adalah uijanku untuk mendapatkan kekuatan baru."


"Herjules, apakah kau sudah tahu bahwa Darcon adalah mahluk yang tidak bisa dibunuh?"


"Aku sudah tahu. Terimakasih sudah memberiku informasi. Sekarang aku akan pergi ke hutan siluman."


"Aku akan ikut denganmu."


"Seabaiknya kau tidak usah ikut karena ini sangat berbahaya."


"Aku tahu. Sejak aku patah hati kerena cinta, aku tidak takut menghadapi bahaya. Aku lebih baik mati daripada hidup merana."


"Patah hati memang sangat menyakitkan. Aku juga sedang mengalami seperti apa yang kau rasakan?"


"Oh, ya? Bukankah kau sudah menikah? Apa kau mencintai wanita selain isterimu?"


"Tidak. Aku tidak akan pernah berpaling dari isteriku. Aku merana karena isteri dan anakku diculik."


"Aku turut berduka atas hal itu."


"Ayo kita berangkat."


Mereka mengendarai kuda menuju hutan siluman. Di perjalanan mereka mendengar teriakan seorang gadis meminta tolong.


"Ada gadis meminta tolong," kata Revu.


"Ya. Ayo kita lihat."


Mereka menuju datangnya suara teriakan itu. Mereka melihat tiga orang laki-laki sedang berusaha memperkosa seorang gadis. Kedua orang laki-laki merebahkan dan memegangi kedua tangan gadis itu. Gadis itu meronta.


"Toloooong....!" teriak gadis itu.


"Ha... ha... ha...! berteriaklah sekencangmu. Tidak akan ada orang yang menolongmu," kata laki-laki yang berada di depan gadis itu.


Laki-laki itu mendekati gadis itu. Ia mulai membuka pakaian gadis itu.


"Jangan...," kata gadis itu.


"Hentikan!" Tiba-tiba terdengar teriakan seseorang laki-laki.


Laki-laki itu berdiri. Ia melihat dua orang laki-laki tidak jauh dari tempatnya berdiri. Mereka adalah Herjules dan Revu.


"Siapa kalian?" tanya laki-laki itu.

__ADS_1


"Kalian tidak perlu tahu siapa kami. Lepaskan gadis itu," kata Herjules.


"Kalian jangan mencampuri urusan kami kalau kalian ingin hidup lebih lama," ancam laki-laki itu.


__ADS_2