Dewa Heras Dan Herjules

Dewa Heras Dan Herjules
Menolong Gadis


__ADS_3

"Kami hanya ingin menolong gadis itu," kata Herjules.


"Kalau begitu, kalian akan menyesal. Jedi, Kito, bunuh kedua laki-laki itu," perintah laki-laki itu kepada kedua temannya.


Kedua laki-laki itu menyerang Herjules dan Revu dengan tenaga dalam. Tangan kedua laki-laki itu mengeluarkan cahaya kuning keemasan.


"Pergilah ke neraka!" kata Kito sambil mengarahkan tinju bertenaga dalam ke arah Herjules.


Herjules menangkis serangan Kito dengan tenaga dalam Mega Merah.


"BLAARR....!" Benturan kedua tenaga dalam itu menimbulkan ledakan.


Kito terpental dan membentur pohon. Sementara Herjules masih berdiri dengan tegak tanpa bergeser sejengkalpun.


"Tidak mungkin," kata Kito terkejut.


Sementara Jedi terpental sejauh dua puluh meter setelah beradu tenaga dalam dengan Revu. Begitu juga dengan Revu. Ia terpental sejauh sepuluh meter.


Kito bangkit dan menyerang menggunakan pukulan Sinar Ungu. Herjules menyerang dengan pukulan Mega Merah tingkat dua.


"DUUAAARR...!" Benturan kedua pukulan itu tak terelakkan. Kito terpental dengan sangat kuat hingga badannya menembus beberapa pohon. Kito tewas terkena pukulan jurus Mega Merah tingkat dua.


Jedi mengeluarkan pukulan pamungkasnya, pukulan Bola api. Ia menembakkan bola-bola api ke arah Revu. Revu melompat dari satu pohon ke pohon lainnya untuk menghindari tembakan Jedi. Ketika Jedi lengah, Revu membalas serangan Jedi dengan pukulan Tenaga Biru.


Revu menembakkan cahaya biru ke arah Jedi.


"Daaarrr...!" Sinar itu mengenai Jedi. Jedi terlempar membentur pohon, lalu mati.


Sekarang tinggal laki-laki itu sendiri. Ia sangat geram melihat kedua temannya tewas.


"Apa kau ingin menyusl teman-temanmu?" tanya Herjules.


"Kurang ajar! Kalian belum tahu siapa aku. Aku memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada kalian. Aku akan menghancurlan kalian hingga menjadi abu. Rasakan ini!" Laki-laki itu melompat dan menembakkan sinar putih.


Herjules membalasnya dengan jurus Mega Merah tingkat dua.


"Duaarr...!" Kembali terjadi ledakan. Badan laki-laki itu terpental membentur pohon hingga pohon itu patah. Laki-laki mengalami nasib yang sama dengan kedua temannya. Ia tewas terkena pukulan Herjules.


Gadis itu mendekati Herjules.


"Terimakasih. Kalian telah menyelamatkanku."


"Sama-sama. Di mana rumahmu?"


"Rumahku tidak jauh dari sini."


"Kami akan mengantarkanmu pulang," kata Revu.


"Iya."


Herjules dan Revu mengantarkan gadis itu pulang. Gadis itu naik kuda bersama Revu. Tidak lama kemudian, mereka telah sampai di desa.


Tampaknya penduduk desa ini gemar memelihara kambing karena di setiap pekarangan rumah penduduk terdapat kambing.


"Rumahku yang itu," kata gadis itu sambil menunjuk sebuah rumah sederhana.

__ADS_1


Mereka berhenti di halaman rumah itu.


"Mari masuk dulu," kata gadis itu.


Mereka masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di lantai beralaskan tikar.


Gadis itu manyuguhkan air putih. Herjules menuangkan air putih ke dalam cangkir bambu, lalu meminumnya. Revu juga minum untuk menghilangkan dahaganya.


"Di mana orang tuamu?" tanya Herjules.


"Orang tuaku sedang bekerja di ladang."


"Oh, ya. Siapa namamu?"


"Namaku Virtana."


"Apa yang sedang kau lakukan di tempat tadi?"


"Aku akan ke sungai untuk mandi. Tiba-tiba datang tiga orang laki-laki. Lalu, mereka ingin menodaiku."


"Sepertinya penduduk di sini gemar memelihara kambing," timpal Revu.


"Sebenarnya mereka tidak gemar memelihara kambing."


"Apa maksudmu?" tanya Revu.


"Di hutan di dekat desa ini, terdapat siluman naga. Naga itu selalu meminta makanan berupa kambing sebanyak lima ekor setiap enam bulan sekali."


"Apa tidak ada yang bisa mengalahkan naga itu?" tanya Herjules.


"Revu, apa kau tertarik untuk membunuh naga itu?" tanya Herjules.


"Ya. Aku tertarik."


"Virtana, kami akan pergi ke hutan untuk membunuh naga." pamit Herjules.


"Iya. Hati-hati."


Herjules dan Revu pergi ke hutan. Mereka tiba di tepi hutan pada sore hari.


"Hari telah sore. Sebaiknya kita beristirahat dulu."


"Ya."


Mereka bermalam di tepi hutan.


Malam telah berganti dengan pagi. Herjules dan Revu masuk ke dalam hutan.


"Di mana naga itu?" tanya Revu.


"Seharusnya dia tahu kedatangan kita," kata Herjules.


"Kita jalan terus. Mungkin naga itu berada di tengah hutan."


Mereka terus berjalan menyusuri hutan. Mereka akhirnya menemukan sebuah gua.

__ADS_1


"Ada gua," kata Revu.


"Ayo kita masuk."


Mereka masuk ke dalam gua. Herjules dan Revu melihat seekor naga sedang tidur.


"Mungkin itu naga yang dimaksud Virtana," kata Revu.


"Tidak salah lagi. Itu pasti naga yang memeras warga desa," kata Herjules.


"Apa kita akan mengganggu tidur siangnya?"


"Kita tidak hanya akan menggangu tidur siangnya, kita juga akan membunuhnya." kata Herjules. "Hai, naga. Bangunlah!" teriak Herjules.


Naga itu tidak mendengar teriakan Herjules. Herjules mengambil batu dan melemparkannya ke kepala naga. Naga itu membuka matanya. Mata naga itu berwarna merah mengerikan. Naga itu mengangkat kepalanya.


"Siapa yang berani mengganggu tidurku?" tanyanya.


Naga itu menatap tajam Herjules dan Revu. Tiba-tiba naga itu menyerang mereka. Herjules dan Revu melompat ke samping untuk menghindari serangan ular naga itu.


"Revu, kita keluar!" teriak Herjules, lalu berlari keluar. Revu berlari mengikuti Herjules. Naga mengejar mereka sambil menyemburkan api.


Herjules dan Revu berhasil keluar gua. Sesampainya di luar gua, mereka berhenti. Naga itu telah berada di hadapan mereka.


"Revu, sebaiknya kita berpencar," kata Herjules.


"Baik," jawab Revu, lalu berlari menjauhi Herjules.


Naga itu siap menyerang Herjules.


"Manusia, nyalimu besar juga," kata naga itu. "Apakah kau datang ke sini untuk menyerahkan nyawa?" tanya naga itu.


"Kau telah memeras warga desa. Aku ke sini untuk memintamu untuk tidak memeras warga desa lagi," kata Herjules.


"Memangnya siapa kau berani meyuruhku?"


"Aku adalah orang yang layak kau perhitungkan."


"Kebetulan sekali. Aku sudah lama tidak memakan manusia. Aku akan menelanmu hidup-hidup."


Naga itu menyerang Herjules. Herjules melompat ke atas untuk menghindari serangan naga itu. Herjules mendarat di tubuh naga itu. Naga itu kembali menyerang Herjulas. Tangan Herjules mengeluarkan cahaya merah. Ia menembakkan sinar merah di tangannya ke kepala naga. Naga itu menangkis serangan Herjules dengan semburan api. Namaun, semburan api naga itu tidak mampu menahan sinar Mega Merah Herjules. Sinar itu menembus semburan api naga dan menghantam kepala naga.


"DUUAAARRR....!" Terjadi ledakan ketika sinar itu menghantam kepala naga. Kepala naga itu terdorong ke belakang, lalu jatuh ke tanah. Kepalanya mengeluarkan asap putih. Naga itu telah menemui ajalnya.


Revu berlari mendekati Herjules.


"Herjules, kau berhasil membunuhnya!" kata Revu girang.


"Jika saja ia bisa diajak bekerjasama, ia tidak akan mati dengan cara seperti itu. Sebenarnya aku tidak tega membunuhnya. Tapi, aku tidak memiliki pilihan. Dalam pertarungan seperti ini, jika kita tidak membunuh, maka kita yang dibunuh."


"Kau benar."


"Ayo kita beri tahu Virtana bahwa kita telah berhasil membunuh naga," kata Herjules.


"Ayo."

__ADS_1


__ADS_2