Dewa Heras Dan Herjules

Dewa Heras Dan Herjules
Macho


__ADS_3

Tak terasa sudah tiga tahun berlalu sejak perkemahan itu. Sejak saat itu, aku tidak pernah bertemu dengan Andika lagi. Kabarnya pun aku sudah tidak pernah mendengar lagi. Sekarang aku telah bertunangan dengan Harlo. Harlo adalah laki-laki berumur empat puluh delapan tahun. Dia seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta.


Aku bersedia bertunangan dengan Harlo karena aku dipaksa oleh orang tuaku. Orang tuaku menjodohkanku dengannya karena mereka berhutang budi kepada Harlo. Dulu papa pernah dicegat oleh kawanan begal. Pada saat itu papa membawa uang perusahaan sebanyak tuju ratus juta rupiah. Kebetulan Harlo melihat kejadian itu. Meski hanya seorang diri, Harlo mampu menghadapi kawanan perampok itu. Para perampok itu menyerang Harlo dengan menggunakan senjata tajam.


Harlo yang memiliki kepandaian bela diri karate, bisa dengan mudah mengalahkan kawanan perampok itu yang berjumlah lima orang. Bahkan dua diantarnya berhasil ditangkap oleh Harlo. Untuk membalas kebaikan Harlo, papa menjodohkanku denganya. Aku tidak bisa menolak keinginan papa karena aku tidak ingin penyakit jantung papa kambuh.


Hari ini aku sedang berlatih menari untuk syuting film. Aku adalah pemeran utama dalam film itu. Dalam film itu, aku berpasangan dengan seorang aktor tampan. Sama halnya denganku, aktor itu juga baru pertama bermain film. Aktor itu betnama Firky Darlan. Penampilannya sangat macho. Ia mengenakan celana jean ketat dan kaos ketat. Rambutnya disisir keatas. Hidungnya mancung dan senyumnya sangat manis.


Jantungku selalu berdebar-debar setiap kali bertemu dengannya.


Jam telah menunjukkan jam empat sore. Kami telah selesai latihan menari.


"Wah, penampilanmu sangat bagus," puji Jono, instruktur tari.


"Terima kasih," jawabku tersanjung.


"Lis, kamu sangat serasi berpasangan dengan Firky. Aku yakin, film kita akan berhasil."


"Ya. Semoga begitu."

__ADS_1


Jono bukan satu-satunya yang mengatakan kalau aku sangat serasi berpasangan dengan Firky. Teman-teman pemain filmku juga banyak yang mengatakan begitu.


"Lis, nanti pulangnya kuantar, ya," kata Firky.


"Boleh," jawabku salah tingkah.


Sekarang kami sedang dalam perjalanan naik mobil Firky.


"Lis, kamu sudah punya pacar?" tanya Firky.


"Sudah."


"Dia bekerja di sebuah perusahaan. Tapi, aku tidak bahagia berpacaran dengannya."


"Kenapa?"


"Karena dia sudah tua."


"Kenapa kamu mau menjadi pacarnya?"

__ADS_1


Aku menceritakan alasanku mau berpacaran denagnnya.


Tak terasa kami sudah sampai di depan rumahku. Setelah mengucapkan terima kasih, aku keluar dari mobil. Aku berdiri di depan pargar hingga mobil Firky berlalu.


Aku merebahkan diri di ranjang. Tidak lama kemudian, handphoneku berdering. Sebuah panggilan dari Harlo. Dia mengajakku untuk nonton bioskop besok malam. Aku menolak ajakan Harlo karena aku akan syuting. Suara Harlo terdengar kecewa.


Beberapa hari kemudian, penyakit jantung papa kambuh. Ia segera dilarikan ke rumah sakit. Namun, nyawanya tidak bisa diselamatkan. Papa meninggal begitu tiba di rumah sakit. Dokter berusaha menyelamatkan papa dengan menggunakan alat kejut jantung. Namun, papa tidak tertolong. Papa akhirnya meninggal.


Satu bulan telah berlalu, aku sudah tidak tahan lagi berpacaran dengan Harlo. Semua kesediahanku, kuceritakan kepada Firky. Akhir-akhir ini aku sering jalan bersama Firky sehingga aku tidak merasa canggung untuk mengadu dan berkeluh kesah.


"Lis, kalau kamu tidak bahagia bersamanya, sebaiknya kamu putus saja dengannya," kata Firky seraya mengusap air mata di pipiku.


Aku langsung memeluk Firky. Aku berharap Firky bersedia menjadi teman hidupku. Aku sudah lelah dengan drama percintaan yang kualami. Aku sudah lelah menunggu Andika. Dan aku juga sudah lelah dengan perjodohan ini.


"Lis, aku mencintaimu," kata Firky ketika aku melepas pelukanku.


"Aku juga mencintaimu."


Kami kembali berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2