Dewa Heras Dan Herjules

Dewa Heras Dan Herjules
Tersenyum-senyum Sendiri


__ADS_3

Tidak jauh dari kemah, terdapat batu besar yang permukaannya datar. Pagi ini aku ingin duduk di batu itu sambil menikmati suasana pagi yang indah. Di kota, aku tidak pernah merasakan suasana pagi yang damai seperti ini. Di kejauhan, tampak seorang petani sedang menyemprot tanaman lombok.


Baru beberapa langkah dari tenda, aku berhenti. Tia tampak sedang duduk di batu itu. Tatapan matanya kosong. Ia tampak tersenyum-senyum sendiri.


"Ya, kamu kenapa tersenyum- senyum sendiri?" tanyaku yang membaut Tia terperanjat. Wajahnya memerah seperti tomat matang.


"Kemarin aku bertabrakan sama seorang laki-laki tampan," kata Tia. "Saat itu aku sedang berjalan sambil main HP. Tiba-tiba ia menabrakku. Aku terjatuh dan HPku juga jatuh. Aku bermaksud ingin mengambil HPku. Namun, ketika tanganku sudah menyentuh HPku, aku berhenti karena secara bersamaan, ia juga akan mengambilkan HPku. Tangannya berada di atas tanganku. Kami saling berpandangan selama beberapa detik. Sejak saat itu, aku jatuh cinta kepada laki-laki itu. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama," tutur Tia.


"Kamu sangat beruntung karena kamu bertabrakan dengan dia."


"Ya. Tapi, aku sangat kecewa ketika aku melihat dia dekat dengan cewek lain." Raut Muka Tia berubah menjadi murung.

__ADS_1


"Mungkin dia cuma temannya," tebakku.


"Nggak mungkin. Aku melihat cewek itu berjalan sambil bergandengan tangan dengan cowok itu. Apa seorang teman bisa semesra itu?"


"Mungkin dia bukan jodohmu. Kamu sabar, ya. Cowok nggak cuma satu. Cewek secantik kamu, pasti akan segera mendapatkan ganti yang lebih baik," hiburku.


"Iya."


"Ya udah. Yuk kita ke kemah. Sebentar lagi acara perlombaan akan segera dimulai."


"Adik-adik, perkenalkan nama saya Andika selaku ketua panitia lomba. Lomba melukis ini diadakan untuk melatih kreativitas dan juga untuk mengasah bakat. Ternyata di sekolah kita siswa yang berbakat melukis itu sedikit sekali. Itu bisa dilihat dari jumlah peserta yang hanya terdiri dari tiga orang. Kami akan memberikan apresiasi untuk para peserta lomba. Untuk para pemenang lomba, kami akan memberikan hadiah berupa uang tunai sebesar dua ratus ribu rupiah untuk juara satu, seratus ribu rupiah untuk juara dua dan enam puluh ribu rupiah bagi juara tiga," jelas Andika panjang lebar.

__ADS_1


Setelah acara pembukaan, lomba melukis segera dimulai.


"Lis, kita melihat Radit melukis, yuk," ajak Bella.


"Radit ikut lomba?"


"Iya. Kenapa?"


"Aku nggak nyangka dia bisa melukis."


Kami berjalan ke arah Radit yang sedang sibuk melukis. Radit tampak terampil menggunakan kuas di atas kanvas. Radit melukis seorang perempuan cantik. Perempuan itu mengenakan pakaian jaman kerajaan.

__ADS_1


"Lis, wajah wanita dalam lukisan itu mirip kamu,"


Aku hanya tersenyum. Jika diperhatikan, wajah wanita itu memang mirip aku. Mulai dari matanya, hidungnya dan bibirnya semuanya mirip. Aku menduga Radit memang sengaja menjadikan diriku sebagai objek melukis. Mungkin ia ingin menunjukkan betapa besar rasa cintanya kepadaku. Namun, aku tidak mencintainya. Sebesar apapun rasa cintanya kepadaku, itu tidak akan mengubah perasaanku. Aku tidak akan pernah bisa mencintainya.


__ADS_2