Dewa Heras Dan Herjules

Dewa Heras Dan Herjules
Lagu Untukmu


__ADS_3

Setelah acara makan-makan, kami masuk ke dalam tenda. Kami duduk beralaskan karpet saling berhadapan. Semua teman-temanku tampak fokus dengan HP mereka. Entah apa yang mereka kerjakan dengan HP mereka. Mungkin mereka sedang melihat media sosial, browsing di internet, bermain game atau mengerjakan hal lainnya. Entahlah, aku hanya bisa menduga- duga saja. Sedangkan aku sendiri saat ini sedang melihat Face Look. Begitu juga dengan Tika, ia tampak fokus menatap layar HP.


"Ayam panggang nya enak banget. Tik, kamu belajar membuat bumbu ayam panggang dari siapa?" tanyaku kepada Tika.


"Nggak dari siapa-siapa," jawab Tika tanpa melihat ke arahku. Nada suaranya masih terdengar dingin.


"Kamu kenapa sih, Tik? Dari tadi sore cemberut terus?" tanya Bella.


"Iya. Kalau ada masalah bilang aja. Siapa tau kami bisa membantu," timpal Ayu.


"Iya. Jangan diam aja. Sebagai teman satu grup, kami siap membantu kalau kamu lagi ada masalah," ajar Sinta yang duduk di sampingku.


"Aku lagi sakit hati," jawab Tika.


"Sakit hati kenapa?" tanya Bella.


"Cowokku direbut orang."

__ADS_1


"Jadi, kamu sudah punya cowok? Siapa cowokmu?" tanya Sinta.


"Andika."


Aku terkejut mendengar jawaban Tika. Sejak kapan dia berpacaran dengan Andika?


"Jadi, kamu berpacaran dengan Andika?"


Tika tidak menjawab.


"Memangnya siapa yang merebut Andika dari kamu?"


Aku terkejut. Ucapan Tika bagaikan petir di sing hari. Aku tidak menyangka Tika akan menuduhku seperti itu.


"Benar begitu, Lis?" tanya Bella.


"Itu nggak benar. Aku nggak merebut Andika dari Tika," bantahku.

__ADS_1


"Bohong! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kamu lagi berduaan dengan Andika tadi sore."


Sekarang semua mata mengarah kepadaku seolah-olah meminta penjelasan kepadaku. Aku menarik nafas.


"Aku tadi memang bertemu dengan Andika. Tapi, hubungan kami tidak lebih dari teman," jelasku.


"Sekarang memang teman. Tapi, kedepannya kalian pasti akan pacaran," kata Tika.


"Tika, kamu jangan asal tuduh. Lisa nggak mungkin merebut pacar orang," kata Bella membelaku.


Tika diam. Ia kembali menatap layar HP. Ucapan Tika membuatku sedih. Apakah ini yang disebut ujian dalam cinta? Aku belum menjadi pacar Andika. Tapi, sudah disambut dengan ujian semacam ini. Semoga kedepannya, aku bisa melewati semua ujian. Aku melihat jam di layar HP. Jam menunjukkan jam sepuluh malam. Aku segera tidur.


Malam berikutnya, kami berkumpul di lapangan. Kami duduk melingkari api unggun dengan cahayanya yang temaram. Malam ini adalah malam terakhir di acara perkemahan ini.


Kak Anto sebagai ketua panitia berbicara menggunakan mikrofon.


"Tanpa terasa satu minggu telah berlalu. Selama kita berkemah, pasti ada kesan yang mendalam di dalam hati kita yang akan selalu menjadi kenangan manis di dalam hidup kita. Tapi, tidak menutup kemungkinan juga ada peristiwa yang kurang menyenangkan. Jika kalian mengalami peristiwa yang kurang menyenangkan di acara ini, kalian jangan risau karena hal itu akan membuat kalian bisa bersikap lebih dewasa dan akan menjadi pelajaran berharga dalam menghadapi masalah ketika kalian sudah dewasa," kata Kak Anto panjang lebar.

__ADS_1


Ucapan Kak Anto membuat hatiku merasa tenang. Perasaan gelisahku menjadi berkurang.


"Malam ini akan kita isi dengan hiburan. Bagi yang memiliki keahlian, seperti melawak, menari, sulap, menyanyi atau yang lainnya silahkan tampil ke depan," kata Kak Anto yang membuat jantungku berdegup kencang. Aku memiliki keahlian menyanyi. Ini adalah kesempatan yang bagus untuk menunjukkan kebolehanku.


__ADS_2