
"Sin, aku mau kita putus," kata Dando.
"Apa? Putus? Kamu pasti bercanda 'kan?" tanya Sinta tidak percaya.
"Aku serius."
"Kenapa?"
"Aku menyukai cewek lain."
Sinta tidak percaya Dando tega menghianati cintanya. Selama ini ia yakin Dando tidak akan pernah meninggalkannya.
Dando berjalan meninggalkan Sinta. Tiba-tiba perasaan Sinta menjadi pilu. Air mata mengalir dengan deras membasahi kedua pipinya yang mulus.
Sinta segera pulang. Sesampainya di rumah, Sinta langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia kembali menangis. Perasaannya benar-benar telah hancur.
Tiba-tiba ada sinar putih menembus jendela kamarnya. Sinar itu sangat menyilaukan mata. Sinta menghalangi sinar itu dengan lengan kanannya. Ia merasakan tububnya terhisap oleh sinar itu.
"Ada apa ini?" tanya Sinta ketakutan.
Hisapan sinar itu terasa semakin menguat. Sinta tidak bisa menahan tubuhnya. Tubuhnya telah terhisap hingga ke mulut jendela. Sinta berpegangan pada kusen jendela agar tidak terhisap oleh sinar itu.
"Toloong....!" teriak Sinta. Namun, tidak ada seorangpun yang mendengar teriakan Sinta.
Sinta sudah tidak kuat lagi menahan hisapan sianar itu. Ia melepaskan pegangan tangannya. Sinta terhisap ke dalam lorong cahaya.
"Aaaaa.....!" Sinta berteriak ketakutan.
Badan Sinta meluncur ke dalam lorong cahaya selama beberap detik. Kemudian, tubuhnya terhempas di suatu tempat yang sangat asing baginya. Sebuah tempat di tepi hutan.
"Di mana aku?" tanya Sinta.
Keadaannya menjadi siang hari. Padahal, waktu sebelum ia terhisap, keadaannya adalah malam hari.
Sinta melihat ke sekeliling. Di sekitarnya hanya terlihat semak-semak dan perbukitan.
Tiba-tiba ada bola cahaya putih dari langit. Bola cahaya itu berhenti di depan Sinta. Cahaya itu berubah menjadi seorang pria tampan.
"Perkenalkan. Aku Heras, pimpinan para dewa," kata laki-laki itu memperkenalkan diri.
Sinta terdiam. Ia masih bingung dengan kejadian yang menimpanya.
"Kamu pasti bingung dengan kejadian yang baru saja kamu alami. Sekarang kamu berada di tahun 1000 sebelum Masehi."
__ADS_1
"Kenapa aku bisa sampai ke tahun ini?"
"Aku yang membawamu ke sini."
"Kenapa?"
"Aku sedang mencari seorang isteri. Dan kamu adalah satu-satunya wanita yang kucintai. Namun, jika kamu tidak berkenan, aku akan mengembalikanmu ke tempat asalmu," kata Heras.
'Kembali ke tempat asal? Hatiku saat ini sedang hancur. Rasanya tidak ada gunanya lagi aku kembali ke tempat asalku,' kata Sinta dalam hati. 'Lalu, bagaimana dengan kedua orang tuaku? Mereka pasti sedih karena kehilanganku. Tapi, mereka tidak mengerti perasaanku. Selama ini mereka tidak merestui hubunganku dengan Dando. Malah mereka akan menjodohkanku dengan seorang laki-laki yang tidak aku cintai. Mereka tidak pernah peduli dengan perasaanku. Maka, akupun tidak akan peduli dengan mereka.'
"Aku tahu. Kau pasti teringat kedua orang tuamu," kata Heras. "Tapi, ada fakta yang selama ini mereka rahasiakan tentang dirimu," lanjutnya.
"Fakta?"
"Ya. Sebenarnya kamu bukan anak kandunnya."
"Bagaimana mungkin," kata Sinta tidak percaya.
"Dia mengadopsimu dari panti asuhan ketika kamu masih bayi. Mereka mengadopsimu karena mereka tidak memiliki keturunan. Aku tahu mereka juga akan menjodohkanmu dengan seorang laki-laki. Aku bisa melihat masa depan. Di masa depan, kamu akan menikah dengan laki-laki pilihan orang tuamu. Laki-laki itu akan membuat hidupmu sengsara karena dia suka bermain perempuan dan berjudi. Aku datang untuk menyelamatkanmu."
Sinta terdiam merenungi ucapan Heras. Hatinya bertambah sakit ketika mengetahui bahwa ia bukan anak kandung orang tuanya.
"Apa kau juga tahu, kenapa orang tuaku menitipkan aku di panti asuhan?" tanya Sinta.
"Ibumu bercerai dengan ayahmu. Karena ibumu tidak mampu menghidupimu, maka ibumu menitipkanmu di panti asuhan."
"Mereka masih hidup."
"Di mana mereka?"
"Ayahmu tinggal di sebuah desa. Sedangkan ibumu tinggal di sebuah kota kecil."
"Aku ingin betemu dengan mereka."
"Kau bisa bertemu dengan mereka kapanpun kau mau. Sekarang aku akan membawamu ke rumah kita."
Heras menunjuk ke udara dengan jarinya telunjuknya. Jari telunjuknya mengeluarkan sinar putih. Tiba-tiba muncul seekor kuda putih.
"Ayo. Aku akan mengantarkanmu ke rumah kita," kata Heras, lalu berjalan menuju kuda itu.
Heras membantu Sinta naik ke punggung kuda. Lalu, ia juga naik ke atas kuda. Heras memacu kudanya menuju sebuah perkampungan.
Mereka telah tiba di sebuah desa. Heras membawa Sinta ke sebuah rumah di ujung desa. Rumah itu berada di dekat perbukitan.
__ADS_1
Heras turun dari kuda dan membantu Sinta turun dari kuda.
"Ini rumah kita. Apa kau suka?" tanya Heras.
"Rumah ini bagus sekali. Aku juga suka dengan pemandangan di sekitar sini," jawab Sinta.
"Aku sudah menyiapkan koin emas untuk keperluan hidupmu sehari-hari. Kita akan menikah secepatnya. Sekarang, aku pergi dulu."
Tubuh Heras mengeluarkan cahaya. Lalu, terbang ke angkasa dan menghilang.
Sinta masuk ke dalam rumah. Ia melihat sebuah karung di sudut ruang tamu. Ia membuka karung itu. Karung itu berisi koin emas.
Waktu berlalu begitu cepat. Sinta telah memiliki seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu bernama Herjules. Saat ini Herjules baru menginjak usia remaja.
Herjules pandai berburu rusa. Ia baru saja mendapatkan seekor rusa. Herjules berburu menggunakan panah.
Ketika Herjules hendak membawa hewan buruannya pulang, tiba-tiba datang beberapa orang.
"Anak kecil, serahkan rusa itu kepada kami!" kata salah satu dari mereka. Sepertinya dia adalah pemimpin kelompok.
"Kenapa aku harus menyerahkan rusa ini kepada kalian?" tanya Herjules.
"Karena itu adalah hewan buruan kami."
"Tapi aku yang membunuh rusa ini," sanggah Herjules.
"Memang kau yang membunuh rusa itu. Tapi, kami sudah mengejar rusa itu hingga lari ke mari."
"Di hutan ini ada banyak rusa. Belum tentu ini adalah rusa yang kalian buru."
"Jangan banyak bicara. Serahkan saja rusa itu atau kami akan menghabisimu."
"Coba saja kalau kalian bisa," kata Herjules tanpa rasa takut.
"Rupanya kau sudah bosan hidup. Gonma, bunuh anak itu!" perintahnya kepada salah satu anak buahnya. Anak buahnya yang bernama Gonma segera mencabut pedangnya dan menyerang Herjules.
Gonma mengayunkan pedangnya ke arah kepala Herjules. Herjules menundukkan badannya untuk menghindari tebasan pedang Gonma.
Gonma kembali menyerang dengan menusukkan pedangnya ke perut Herjules. Herjules egos ke samping, lalu memukul kepala Gonda. Gonma tersungkur dan tidak bergerak lagi.
Para pemburu terkejut melihat temannya bisa dikalahkan oleh Herjules dengan mudah.
"Serang!" teriak pemimpin kelompok.
__ADS_1
Para pemburu itu segera menyerang Gonma menggunakan pedang.
"Buuukkk....! Buuukkk...! Buuukkk...!" Herjules menyambut serangan mereka dengan tendangan dan pukulan. Para pemburu itu terpental. Mereka merasakan sakit yang luar biasa di bagaian tubuh yang terkena pukulan Herjules. Bahakan beberapa di antaranya ada yang pingsan.