
"Teng...! Teengg...! Teengg...!" terdengar lonceng istirahat berbunyi.
Sinta segera memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
"Sin, akhir-akhir ini kamu tidak pernah ke kantin. Kamu ke mana pada saat jam istirahat?" tanya Dita.
"Aku ke kelasnya Indra," jawab Sinta.
"Ke kelasnya Indra? Apa yang kamu lakukan di sana?"
"Belajar melukis."
"Belajar melukis? Siapa yang mengajarimu?"
"Indra."
"Indra?! Indra mengajarimu melukis?!" tanya Dita terkejut.
"Iya."
"Kok bisa? Bagaimana ceritanya?"
"Aku akan ceritakan lain kali. Sekarang aku harus segera ke kelasnya Indra," kata Sinta, lalu beranjak ke luar kelas.
"Kak, Sinta. Mau ke mana?!" teriak Dando ketika Sinta sedang berjalan di koridor.
"Mau ke kelasnya Indra."
"Mau belajar melukis, ya?"
"Iya."
"Dando boleh ikut?"
"Boleh,"
"Asyiiik.."
Merka berjalan menuju kelas pribadi Indra.
Sinta mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke kelas Indra.
"Sinta, kamu lanjutkan lukisanmu yang kemarin," perintah Indra.
"Iya. Tinggal sedikit lagi. Mungkin hari ini selesai," kata Sinta.
"Tumben adikmu ikut," sinis Indra.
"Aku bukan adiknya!" sangkal Dando ketus.
"Kamu selalu memanggil Sinta kakak, bukan?"
"Tapi, aku bukan adiknya. Aku sahabatnya," bantah Dando lagi.
"Sinta, apa benar dia sahabatmu?" tanya Indra memastikan.
"Iya, benar."
"Tapi, sepertinya hubungan kalian lebih dari sahabat. Kalian terlihat selalu bersama. Padahal, kalian berlainan jenis," kata Indra.
"Itu karena hubungan kami sudah seperti kakak adik," jawab Sinta.
'A.. adik? Aku hanya dianggap adik?' tanya Dando dalam hati. Mendengar pengakuan Sinta, hati Dando serasa hancur.
Sinta sudah memulai melukis. Namun, ia tidak bisa berkonsentrasi di bawah pengawasa Indra dan Dando.
"Maaf, apa kalian bisa tinggalkan aku sendirian? Aku menjadi grogi kalau dilihat kalian," kata Sinta.
"Tentu," jawab Indra.
Indra dan Dando keluar kelas.
"Dando, kita bisa berbicara sebentar?" tanya Indra.
"Kebetulan sekali. Aku juga mau berbicara denganmu."
"Kamu mau berbicara apa?" tanya Indra.
__ADS_1
"Kamu duluan," perintah Dando.
"Aku tahu kamu hanya berpura-pura menjadi seperti anak kecil. Apa kamu punya rencana di balik sandiwaramu?"
"Itu bukan urusanmu?"
"Sinta adalah muridku. Aku juga ikut bertanggung jawab atas dirinya."
"Kalu aku tidak mau berterus terang, kamu mau apa?"
"He...he...he... Aku bisa memberi tahu Sinta kalau kamu hanya berackting," ancam Indra.
"Kamu mengancamku?"
"Ini demi masa depan Sinta. Aku tidak mau masa depan Sinta terganggu karena berdekatan dengan penipu sepertimu."
"Aku bukan penipu!" geram Dando.
Perkataan Indra membuatnya ingin memukulinya hingga babak belur.
"Kalau bukan penipu, lalu apa?"
"Terserah apa katamu. Aku tidak ada waktu untuk berdebat denganmu."
"Itu artinya kamu siap menerima resikonya?"
"Kamu mau memberi tahu Sinta tentang actingku?" tebak Dando. "Silahkan. Tapi, kamu juga harus ingat. Perusahaan ayahmu sangat bergantung kepada perusahaan ayahku. Jika kamu berani memberitahu Sinta, aku akan meminta ayahku untuk memutus kerja sama dengan perusahaan ayahmu," lanjut Dando.
Perkataan Dando membuat Indra tidak bisa membuka mulutnya.
"Baiklah. Kalau begitu, kita bersaing secara sportif. Kita lihat, siapa di antara kita yang berhasil memikat Sinta," kata Indra.
"Aku tidak akan membiarkan Sinta menjadi milik playboy sepertimu,"
"Kamu jangan asal bicara!" Perkataan Dando membuat Indra naik pitam.
"Aku tidak asal bicara. Aku tahu kamu sering gonta-ganti pasangan."
"Dari mana kamu tahu?"
Tangan Indra mengepal. Ingin rasanya ia merontokkan gigi Dando dengan tinjunya. Namun, Indra berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri. Sangat fatal akibatnya jika ia berurusan dengan anak pengusaha satu itu.
"Sekarang giliranmu. Kamu mau berbicara apa tadi?"
"Aku tadi mau berbicara seperti yang kamu sudah bicarakan," kata Dando, lalu melangkah pergi.
"Tunggu!" teriak Indra.
Dando menghentikan langkahnya. Ia memutar badannya ke arah Indra.
"Ada apa lagi?"
"Urusan kita belum selesai."
"Bukankah kita tadi sudah sepakat untuk mendapatkan cinta Sinta secara sportif?"
"Bukan itu. Aku tidak terima kamu sebut playboy."
"Lantas apa maumu?"
"Kita duel," tantang Indra.
"Baiklah kalau itu maumu."
'Dia belum tahu siapa aku,' batin Dando. 'Aku memiliki kemampuan bela diri. Dia tidak akan bisa mengalahkanku.'
Dando memasang kuda-kuda. Indra mengambil ancang-ancang untuk menyerang. Ia tidak peduli dengan resikonya jika ia melukai Dando. Itu urusan nanti. Ia sudah tidak tahan dengan kejengkelan di dalam dadanya karena disebut playboy.
Indra meninju wajah Dando. Dando mundur ke belakang satu langkah. Pukulan Indra tidak berhasil mengenai sasaran. Indra kembali menyerang secara membabi buta menggunakan pukulan dan tendangan yang dapat dengan mudah ditangkis dan dihindari oleh Dando.
"Sedang apa kalian?!" teriak Sinta.
Indra menghentikan serangannya. Nafasnya tersengal.
"Kami sedang latihan bela diri," bohong Indra.
Indra tidak ingin Sinta mengetahui bahwa Ia sedang berkelahi dengan Dando. Itu akan menimbulkan kesan tidak baik terhadap dirinya sebagi guru melukis privat Sinta.
__ADS_1
"Mengapa kalian latihan di sini?"
"Hanya untuk mengisi waktu istirahat dari pada bengong. Kamu sudah selesai melukisnya?"
"Sudah dari tadi. Makanya aku mencari kalian."
"Ayo kita ke kelas," ajak Indra.
Mereka kembali ke kelas. Indra mengamati lukisan Sinta.
"Bagaimana, In? Apakah sudah mirip dengan lukisanmu?"
"Sudah hampir mirip. Kamu sudah bisa menggunakan warna."
"Terimakasih. Ini semua berkat bantuanmu," kata Sinta.
"Sin, nanti akan ada lomba melukis tingkat kabupaten. Kamu bisa ikut lomba itu."
"Oh, ya?"
"Iya. Jadi, mulai besok, kamu harus giat belajar."
"Aku siap mengajari kak Sinta," timpal Dando.
"Tolong bantu aku, ya, Dan," kata Sinta.
"Kak Sinta jangan khawatir. Kak Sinta pasti bisa memenangkan lomba itu," kata Dando memberi semangat.
"Aku juga akan membantu mengajarimu melukis," sahut Indra.
"Iya. Aku senang sekali kalian masih mau membantuku."
"Dando akan selalu membantu kak Sinta sampai kapanpun," kata Dando sambil memeluk Sinta dari belakang.
"Dando, jangan main peluk-peluk gitu, dong," kata Sinta.
"Kak Sinta tidak suka Dando peluk?"
"Bukan begitu. Kak Sinta cuma malu kalau ada yang melihat."
"Dando, kamu jangan menggangu Sinta," kata Indra.
"Siapa yang mengganggu? Dando hanya mau memberikan semangat."
"Iya. Tapi, tidak usah pakai pelukan segala."
"Huh, kamu pasti hanya iri melihat kedekatan kami."
"Heh," Indra menyeringai. "Untuk apa iri melihat kedekatan antara kakak beradik?"
"Kalau kamu tidak iri, mengapa sinis?"
"Sudah-sudah. Mau sampai kapan kalian bertengkar terus?" lerai Sinta. "Kelakuan kalian seperti anak kecil, tau tidak?"
Suasana menjadi beku.
"Oh, ya. Apakah lomba melukis ada hadiahnya?" tanya Sinta membuat suasana mencair kembali.
"Ada. Pemenang lomba akan mendapatkan uang tunai sebesar dua puluh lima juta rupiah. Selain itu, pemenang lomba akan berkesempatan untuk mengikuti lomba tingkat provinsi," jelas Indra.
"Wah, lomba tingkat provinsi pasti hadiahnya lebih besar lagi," kata Sinta.
"Pasti. Sebaiknya kamu segera mendaftar."
"Di mana tempat pendaftarannya?"
"Di ruang tata usaha."
"Dando, ayo temani aku mendaftar," ajak Sinta.
"Ayo."
"In, aku daftar lomba dulu, ya," pamit Sinta.
"Iya."
Sinta dan Dando bergegas menuju ruang tata usaha untuk mendaftar lomba.
__ADS_1