Dewa Heras Dan Herjules

Dewa Heras Dan Herjules
Ackting


__ADS_3

Indra sedang berjalan ketika ia mendengar teriakan meminta tolong. Indra melihat asap tebal mengepul dari sebuah rumah. Indra mendekati rumah itu.


"Tolooongg...! Selamatkan bayi saya! Bayi saya di dalam!" teriak seorang wanita.


Tanpa pikir panjang, Indra langsung masuk ke dalam rumah itu. Ia menerobos api yang sedang berkobar. Tidak berselang lama, Indra telah keluar dari rumah itu dengan membawa seorang bayi. Ia memberikan bayi itu kepada wanita itu.


"Terimakasih. Kamu telah menyelamatkan bayi saya," kata wanita itu. "Ayo kita ke tempat yang aman, ibu mau berbicara denganmu."


Indra mengikuti wanita itu menjauh dari rumahnya yang sedang terbakar.


"Sebagai ungkapan terimakasih ibu, ibu akan memberimu sejumlah uang," kata wanita itu.


"Tidak perlu, Bu. Saya ikhlas menolong ibu," tolak Indra.


"Kamu tinggal di mana?"


"Saya tidak mempunyai rumah. Saya hidup sebatang kara."


"Kalau begitu, kamu tinggal di rumah ibu saja. Anggap saja ibu dan suami ibu adalah orang tuamu," kata wanita itu.


"Baik, Bu. Terimakasih."


Wanita itu mengajak Indra pergi ke apartemen wanita itu.


****


Sore ini Dando pergi ke rumah Dita untuk mengembalikan buku IPS yang ia pinjam dua hari yang lalu. Dua hari yang lalu, Dando lupa membawa buku IPS ke sekolah. Bu Winda tidak akan mentolelir kepada murida yang tidak membawa buku paket. Ia akan memberikan hukuman kepada murid yang tidak membawa buku paket. Sebenarnya hukuman yang diberikan Bu Winda tidak terlalu berat. Hanya disuruh berdiri di depan kelas selama dua puluh menit. Namun, bagi Dando, hukuman itu sangat memalukan.


Dando harus memutar otak agar terhindar dari hukuman Bu Winda. Setelah beberapa saat berpikir keras, akhirnya Dando menemukan ide brilian. Ia akan meminjam buku IPSnya Dita. Kebetulan kelas Dita memiliki jadwal pelajaran yang sama, hanya berbeda jam. Pelajaran IPS Dando pada jam terakhir, sedangkan mata pelajaran IPS Dita pada jam pertama.


Di rumah Dita, Dando melihat ada seorang gadis sedang duduk di ruang tamu. Gadis itu membuat jantung Dando berdebar-debar. Ada getaran halus di dalam hati Dando. Wajah gadis itu terus membayangi Dando hingga membuatnya tidak bisa tidur dan tidak enak makan. Dando telah jatuh hati kepada gadis itu sejak pandangan pertama.


Keesokan harinya, Dando menemui Dita di depan gerbang sekolah.


"Ada apa, Dit? Mau meminjam buku lagi?" tanya Dita ketika Dando menghampirinya.


"Tidak. Dit, cewek yang ada di rumah kamu kemarin itu siapa?"


"Sinta. Kenapa? Kamu naksir, ya?"


"Ya begitulah...," cengir Dando.


"Tapi, cintamu akan bertepuk sebelah tangan."


"Dia sudah mempunyai pacar?"


"Belum."


"Berarti aku masih mempunyai kesempatan, dong."


"Sepertinya tidak."


"Dari mana kamu bisa tahu kalau dia tidak akan menerima cintaku? Memangnya kamu cenayang?"


"Dia itu sukanya kepada cowok cacat mental seperti di komik yang ia baca, bukan cowok sempurna seperti kamu."


"Komik apa yang dia baca?"


"Dori dan Ania."


Dando manggut-manggut.


"Aku akan menjadi cowok seperti yang ia inginkan."


"Apa maksudmu?" tanya Dita tidak mengerti.


"Aku minta kepadamu untuk merahasiakan sifat asliku."


"Sifat aslimu?" Dita masih tidak mengerti.


"Ya sudah. Aku ke kelas dulu."


"Dan, tunggu! Aku masih belum mengerti apa maksudmu!" teriak Dita.

__ADS_1


"Nanti kamu juga akan tahu!"


Dando tidak mempedulikan kebingungan Dita. Ia percaya Dita bisa menjaga rahasianya karena Dita adalah saudara sepupunya.


Lonceng pulang telah berbunyi. Sinta segera menuju tempat parkir sekolah.


"Kakak, tunggu!" Tiba-tiba seorang laki-laki memanggil Sinta.


'Kakak? Kenapa laki-laki itu memanggilku kakak? Apa aku yang salah dengar?' Sinta bertanya-tanya dalam hati.


"Kakak bisa menolongku?"


"Menolong apa?" tanya Sinta. Ternyata ia tidak salah dengar. Laki-laki itu memang memanggilnya kakak. Terdengar aneh memang. Seorang laki-laki yang usianya tidak jauh berbeda dengan dirinya dan tidak ada hubungan keluarga memanggilnya kakak. Tapi entah mengapa, Sinta senang dipanggil kakak oleh laki-laki itu.



"Kakak bisa mengantarkan Dando pulang? Soalnya hari ini mama tidak bisa menjemput Dando," kata laki-laki itu dengan nada memelas.


'Duh, imutnya!' Batin Sinta. 'Dia menyebut namanya sendiri. Dia juga memanggilku kakak. Dia benar-benar mirip tokoh Dori dalam komik Dori dan Ania. Ya Tuhan, apakah engkau mengirimkan pria imut ini untukku?'


"Tolong Dando, Kak. Dando tidak bisa pulang sendiri. Dando tidak tahu jalan pulang," rengek Dando lagi karena Sinta hanya membisu.


"Iya. Kakak akan tolong kamu. Ayo ikut kakak."


Sinta berjalan menuju parkiran. Namun, baru beberapa langkah ia menghentikan langkahnya.


'Akan terlihat aneh jika aku membawa Dando ke tempat parkir,' Batin Sinta.


"Dan, kamu tunggu di sini. Kakak akan mengambil motor."


"Iya, Kak."


Tidak lama kemudian, Sinta telah kembali dengan naik motor.


"Ayo naik," kata Sinta.


Dando segera duduk di belakang. Dalam hati Sinta berdo'a agar tidak ada razia karena Dando tidak memakai helm.


"Di mana rumahmu?" tanya Sinta.


"Di jalan Mawar, nomor enam," jawab Dando.


Lima belas menit telah berlalu. Mereka telah sampai di rumah Dando.


"Tidak mampir dulu, Kak?" tanya Dando.


"Tidak. Kakak langsung pulang saja."


"Kak, boleh tidak Dando minta tolong sekali lagi?"


"Apa?"


"Temani Dando di rumah sampai mama pulang. Dando takut di rumah sendirian."


"Takut? Kenapa harus takut di rumah sendiri?" tanya Sinta.


"Dando takut kalau ada hantu seperti di film."


"Dando tidak usah takut. Tidak mungkin ada hantu. Apa lagi di siang bolong seperti ini."


"Tapi, Dando tetap takut, Kak."


"Ya sudah. Ayo kakak temani."


Sinta memarkir motornya di halaman rumah Dando.


Mereka masuk ke dalam rumah. Sinta duduk di ruang tamu.


"Kakak mau minum apa?" tanya Dando.


"Air jeruk ada?"


"Ada. Sebentar Dando buatkan."

__ADS_1


Dando pergi ke dapur. Beberapa saat kemudian, ia telah kembali dengan membawa segelas air jeruk dingin.


Sinta meminum air jeruk itu. Sinta melihat sebuah lukisan Dando di dinding.


"Dan, siapa yang melukis dirimu?"


"Dando, Kak."


"Kamu bisa melukis?"


"Bisa, Kak."


"Lukisanmu bagus sekali."


"Terimakasih, Kak."


"Kamu beruntung, bisa menyalurkan bakatmu tanpa ada kendala," Sinta menghela nafas. "Sebenarnya aku juga memiliki bakat sepertimu. Tapi, orang tuaku tidak suka dengan bakatku. Menurut mereka menggambar tidak akan membuatku sukses. Selama ini aku belajar menggambar di belakang sekolah pada jam istirahat agar tidak ketahuan orang tuaku."


"Kalau begitu kakak belajar di rumahku saja. Aku punya ruang belajar khusus untuk melukis. Kakak mau melihat lukisanku yang lain?"


"Iya."


"Ayo."


Mereka naik ke lantai dua. Mereka masuk ke sebuah ruangan. Di ruangan itu, Sinta melihat sebuah lukisan pemandangan alam pegunungan yang indah.


"Lukisanmu indah sekali. Kamu memang berbakat. Berapa lama kamu menyelesaikan lukisan ini?"


"Tiga hari."


"Kak Sinta."


Sinta menoleh. "Ya."


"Sebenarnya Dando juga memiliki pengalaman yang sama dengan kakak. Ayahku sebenarnya tidak suka aku menjadi pelukis. Ia ingin aku menjadi dokter atau pengusaha seperti dirinya. Sejak ayah tidak menyukai bakatku, aku menjadi kehilangan harapan.


Pada suatu hari, ada seorang anak perempuan yang memuji gambarku. Dia adalah orang yang pertama kali memuji gambarku. Pujiannya membuatku kembali bersemangat untuk mengejar impianku."


"Tapi, setidaknya ayahmu masih mengijinkanmu untuk menggambar," kata Sinta.


"Sebenarnya tidak. Ayahku sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Sejak saat itu, aku memiliki kebebasan untuk menggambar."


Suasana menjadi hening sesaat.


"Kamu sangat berbakat dalam melukis. Aku yakin, kamu pasti akan menjadi pelukis terkenal," kata Sinta.


"Ya. Semoga saja. Kak, Dando mau ngomong sesuatu," kata Dando seraya menggenggam tangan Sinta.


Jantung Sinta berdebar. 'Mau ngomong apa dia?' Sinta bertanya di dalam hati. 'Apakah dia mau menembakku? Aku pasti sangat bahagia kalau dia menembakku. Dia adalah laki-laki impaianku. Cacat mental, namun berbakat dan tampan. Tapi, apakah ini tidak terlalu cepat? Dia baru saja mengenalku selama empat puluh lima menit dan sekarang mau menembakku?' Sinta bertanya-tanya di dalam hati.


"Ka.. kamu mau ngomong apa?" tanya Sinta tergagap.


"Dando mau ngomong kalau Dando sudah lapar. Bagaimana kalau kita makan dulu?"


"Tidak, kakak makan di rumah saja. Dan, mamamu pulang jam berapa?" tanya Sinta. Wajah Sinta memerah karena malu. Ia sudah mengira Dando akan menembaknya.


"Mamaku sebentar lagi akan pulang. Kak Sinta kalau mau pulang, pulang saja."


"Ya sudah. Kalau begitu kakak pulang dulu, ya."


"Iya."


Dando mengantar Sinta sampai di ambang pintu.


"Hati-hati di jalan, kak Sinta," kata Dando.


"Iya."


Sinta menjalankan motornya. Dando memandang Sinta hingga menghilang dari pandangan mata.


Di atas bunga di pot, seekor lalat sedang mengawasi mereka.


'Laki-laki penipu itu sedang berusaha mendekati gadisku,' gumamnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2