Dewa Heras Dan Herjules

Dewa Heras Dan Herjules
Terpesona


__ADS_3

Jam menunjukkan jam satu siang. Aku segera melaksanakan sholat dhuhur di bawah pohon. Ada lima orang yang akan melaksanakan sholat.


"Dik, kamu yang jadi imamnya," kata Rizal.


Aku maju ke depan untuk menjadi imam.


Selesai sholat, aku dan Rizal berjalan ke sungai. Kami akan mengambil air untuk memasak nanti sore.


"Dik, setelah lulus, kamu mau melanjutkan kemana?" tanya Rizal.


"Aku mau kuliah."


"Kamu mau ngambil jurusan apa?"


"Aku mau ngambil jurusan seni rupa. Kalau kamu?"


"Aku mau ngambil jurusan guru."


Aku melihat seorang gadis cantik sedang berbincang dengan dua orang temannya. Kecantikan gadis itu membuat jantungku berdebar-debar.


"Zal, itu siapa?" tanyaku.


"Yang mana?"


"Itu, yang memakai kaos biru."


"Itu Yasinta."


"Kenapa? Kamu naksir?"


Pertanyaan Reza kujawab dengan senyuman.


"Kalau kamu suka, tembak aja," saran Reza.


Aku hanya tersenyum.


Aku duduk termennung di bawah pohon. Aku teringat cewek yang kulihat kemarin. Wajahnya yang manis membuatku rindu.


"Kamu lagi melamun apa?" pertanyaannya Rizal membuyarkan lamunanku.

__ADS_1


"Nggak lagi ngelamunin apa-apa," jawabku berbohong. "Zal, kita mengontrol regu pramuka, yuk," ajakku. Sudah menjadi tugasku sebagai ketua pramuka untuk mengontrol pramuka.


"Ayo."


Kami berjalan beriringan mengontrol pramuka. Aku melihat apa yang ingin kulihat, seorang gadis manis idamanku.


"Dik, kamu lagi ngelihat apa?" tanya Reza.


"Nggak ngelihat apa-apa," kilahku.


"Kamu lagi ngelihat Riska, kan?"


"Enggak."


"Udah kamu akui aja. Riska memang cantik. Siapa sih yang nggak suka sama cewek secantik dia."


"Kamu benar. Tapi, sayang. Dia sudah punya pacar."


"Tapi, kamu masih punya kesempatan untuk mendapatkan dia."


"Ya. Tapi, kemungkinan berhasilnya sangat kecil. Karena biasanya, cewek yang sudah punya pacar sangat sulit untuk berpaling ke lain hati."


"Itu sama sulitnya. Aku tetap nggak akan bisa mendapatkan dia tanpa restu dari orang tuanya."


"Kalau yang itu siapa namanya?" tanyaku sambil mengarahkan pandanganku ke arah gadis yang sedang bermain ponsel.


"Itu namanya Risma."


"Dia sudah punya pacar belom?"


"Mana aku tau," jawab Reza sambil mengangkat bahunya.


"Dia cukup manis. Aku suka dia."


"Ya. Meski dia nggak secantik Riska, tapi dia manis dan badannya montok."


"Aku memang lebih suka cewek yang badannya montok daripada sama cewek cantik tapi badannya nggak montok."


Aku dan Reza segera berlalu. Sejak melihat Rizma, aku selalu gelisah. Aku ingin segera mengungkapkan perasaanku kepadanya. Tapi, aku takut ditolak.

__ADS_1


Aku sedang berbaring di tenda ketika Reza memanggilku.


"Ada apa?" tanyaku.


"Ada cewek yang mencarimu."


"Siapa? Risma?"


"Bukan. Sinta."


"Siapa Sinta?"


"Dia dari desa."


Aku segera keluar tenda. Begitu aku keluar tenda, aku terpana melihat gadis yang berdiri di depanku. Gadis itu cantik sekali. Rambutnya panjang sepinggang. Kulitnya putih dan bibirnya merah muda.


"Kenalkan aku Sinta," kata Sinta seraya mengulurkan tangannya.


"Aku Andika," jawabku sambil menjabat tangani Sinta.


'Tangannya lembut sekali,' batinku.


"Begini. Ku dengar kamu pandai melukis. Apa kamu mau mengajariku melukis?" tanya Sinta.


"Dengan senang hati."


Aku segera mengambil peralatan melukisku dan membawanya ke belakang tenda. Kemudian, aku mulai mengajari Sinta melukis. Aku melukis pemandangan alam. Sinta tampak serius melihatku melukis. Dia senang sekali ketika kuminta untuk melukis persawahan.


Matahari hampir tenggelam. Sinarnya yang berwarna jingga tampak indah. Sinta mengucapkan terima kasih dan berpamitan pulang.


"Biar aku antar," kataku.


"Nggak usah repot-repot. Aku akan pulang sendiri."


"Kamu berani pulang sendiri?"


"Sebenarnya aku nggak sendiri. Aku bersama orang tuaku. Mereka menungguku di ladang. Itu ladangku," katanya sambil menunjuk ladangnya.


"Ya udah kalau begitu. Hati-hati, ya."

__ADS_1


"Iya," jawabnya, lalau berjalan meninggalkanku. Aku melihat punggungnya sampai ia tiba di ladangnya. Ia pulang dengan membonceng ibunya naik sepeda motor tua dua tak. Suaranya terdengar nyaring memecah kesunyian. Aku memandang mereka hingga mereka menghilang di tikungan.


__ADS_2