
Malam ini kami akan mengadakan acara makan-makan. Kami akan membuat masakan ayam panggang. Tiga ekor ayam ras sudah disediakan. Ketiga ekor ayam itu masih dalam keadaan hidup.
"Nanti yang menyembelih ayamnya siapa?" tanyaku.
"Anto aja," jawab Bella.
"Wah, aku nggak berani," tolak Anto.
Aku bingung siapa yang akan menyembelih ayamnya karena di dalam kelompokku tidak ada yang bisa menyembelih ayam.
"Kalau nggak ada yang bisa, aku akan meminta bantuan kepada kelompok Elang," kataku, lalau keluar tenda.
Pada saat sedang berjalan, HPku berdenting. Aku segera memeriksa HPku. Tiba-tiba aku menabrak seseorang yang membaut HPku jatuh. Aku segera melihat siapa yang menabrak. Aku terpaku begitu melihat orang yang telah menabrakku. Ia adalah orang yang selama ini kukagumi.
Orang itu segera mengambil HPku dan memeriksanya. Setelah memeriksanya sebentar, ia memberikan HPku kepadaku.
"Maaf, aku nggak sengaja," katanya.
"Kamu nggak perlu minta maaf karena aku yang salah. Aku berjalan sambil melihat HP," kataku.
"Stiker anti goresmu lecet. Aku akan menggantinya."
"Nggak usah. Cuma lecet sedikit."
"Kenalkan, aku Andika," kata Andika seraya mengulurkan tangan.
__ADS_1
"Aku Lisa."
"Kamu mau masak apa untuk acara makan-makan malam ini?"
"Aku mau membuat ayam panggang, tapi tidak ada yang bisa menyembelih ayamnya."
"Aku bisa menyembelihkan ayam untukmu."
"Oh, ya?"
"Ya."
Kami segera menuju ke tendaku. Sesampainya di tenda, aku segera mengambil pisau dan memberikannya kepada Andika. Andika mengusap mata pisau untuk memeriksa ketajamannya.
"Pisau ini kurang tajam. Ada batu asahan?"
Andika mengasah pisau itu hingga tajam.
"Ada yang bisa membantuku menyembelih ayam?"
"Aku bisa," kata Anto.
Andika dan Anto segera menyembelih ayam.
"Tik, kamu yang membuat bumbunya, ya," kataku kepada Tika.
__ADS_1
Tika tidak menyahut.
"Tika," panggilku.
"Apa?" tanya Tika. Ia menatapku degan inten.
"Kamu yang membuat bumbunya, ya," aku mengulangi perkataanku.
"Ya," singkatnya. Nada suaranya terdengar dingin. Sikap Tika yang dingin membuatku bertanya-tanya di dalam hati. Apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya? Apakah aku pernah melakukan kesalahan kepadanya? Aku mencoba mengingat kejadian sebelum ini. Rasanya aku tidak pernah menyinggungnya. Tapi, kenapa sikapnya acuh kepadaku?
"Tik, kamu dari tadi kok diam terus? Kamu ada masalah?" tanya Bella.
"Nggak ada," jawab Tika.
Aku segera menyiangi ayam yang sudah tidak bernyawa. Aku menyiram ayam-ayam itu dengan air panas agar bulu-bulunya mudah dicabuti. Aku tidak sendiri. Aku dibantu oleh Bella dan Ayu.
"Tika kenapa sih dari tadi kok cemberut aja?" tanya Ayu
"Nggak tau. Lagi PMS mungkin," jawab Bella.
"Kira-kira ayam panggang kita nanti enak nggak, ya?" tanya Ayu.
"Pasti enak karena Tika pandai membuat bumbu ayam panggang," jawabku.
"Tapi, kalau dia lagi ngambek, apa masih bisa membuat bumbu yang enak?" tanya Ayu lagi.
__ADS_1
"Mudah-mudahan dia bisa bekerja dengan profesional," jawan Bella.
Setengah jam telah berlalu. Kami sudah selesai menyiangi ayam. Ayam yang sudah kami siangi, kami potong-potong menjadi beberapa bagian. Setelah daging ayam kami cuci, daging ayam itu kami rebus dengan bumbu yang dibuat oleh Tika. Setelah matang, daging ayam kami letakkan ke dalam baskom. Air rebusan ayam berubah menjadi berwarna kuning. Entah bumbu apa yang digunakan Tika untuk merebus ayam yang membuat air rebusan menjadi kuning.