
Herjules dan Revu telah berada di hutan siluman. Di dalam hutan, Herjueles melihat buah seperti buah apel. Ia memetik buah itu.
"Jangan makan buah itu," kata Revu.
"Kenapa?" tanya Herjules.
"Buah itu beracun."
Revu memetik buah berwarna kuning.
"Yang ini tidak beracun," kata Revu sambil memeberikan buah itu kepada Herjules.
Herjules memakan buah itu.
"Rasanya manis," katanya.
Tiba-tiba terdengar suara kresek-kresek di semak-semak. Suara itu terdengar semakin mendekat.
"Kau mendengar suara itu?" tanya Herjules.
"Ya. Suara itu mendekati kita."
Mereka melihat semak-semak bergoyang.
"Sepertinya sesuatu yang besar sedang mendekati kita," kata Revu.
Sebuah kala jengking raksasa sedang berjalan mendekati mereka.
Kala jengking itu berhenti di hadapan Herjules dan Revu.
"Aku tahu, manusia yang berani masuk ke hutan ini pasti bukan manusia sembarangan. Tapi, sampai saat ini belum ada manusia yang berhasil keluar dari hutan ini hidup-hidup," kata kala jengking itu.
"SWOOSSHH....!" Tiba-tiba ekor kala jengking itu menembakkan sebuah sinar kuning ke arah Herjules. Herjules menangkis serangan kala jengking dengan pukulan Mega Merah tingkat dua.
"DUUAAAR....!" Benturan antara sinar kuning kala jengking dan jurus Mega Merah tingkat dua menimbulkan ledakan yang cukup besar.
Meliha lawanya cukup tangguh, Kala jengking itu kembali menyerang menggunakan jurus Badai Maut. Kala jengking itu menembakkan puluhan sinar hijau berbentuk anak panah ke arah Herjules. Herjules melindungi dirinya dengan perisai Perak Kristal.
"Duaar...! Duaaar...!" Setiap anak panah Badai Maut yang mengenai perisai Perak Kristal menimbulkan ledakan. Jurus Badai Mauti tidak bisa menembus Perisai Perak Herjules.
"Kau berhasil melindungi diri dengan perisai itu. Sekarang kau pasti tidak akan bisa selamat dari jurusku yang satu ini," kata kala jengking.
Tubuh kala jengking tiba-tiba mengeluarkan cahaya biru.
"Herjules. Kau harus berhati-hati. Itu adalah jurus Racun Setan. Jurus itu sangat kuat," kata Revu memperingatkan.
"Ya. Semoga aku bisa mengalahkan jurus itu," jawab Herjules.
"Rasakan ini!" teriak kala jengking, kemudian kala jengking itu menembakkan sinar di tubuhnya ke arah Herjules.
Herjules menyilangkan tangannya di dada untuk menahan serangan kala jengking itu.
"BLAAARRRR....!" Pukulan jurus itu menimbukan ledakan yang sangat dahsyat.
__ADS_1
"Haaa.... Haaa... Haaa...! Tubuhmu pasti sudah hancur terkena jurus Racun Setanku," kata kala jengking.
Ketika asap ledakan itu telah menghilang, tampak Herjules masih berdiri tegak.
"Tidak mungkin!" pekik kala jengking. "Kenapa dia tidak hancur?!"
Herjules mendekatkan kedua telapak tangannya di depan dadanya dengan posisi telapak tangan kanan di atas telapak tangan kiri. Kedua telapak tangan Herjules membentuk sebuah bola cahaya berwarna putih. Herjules melemparkan bola cahaya itu ke arah kala jengking. Kala jengking itu menangkis pukulan jurus Herjules dengan jurus Racun Setan. Namun, jurus Racun Setan tidak mampu menahan jurus bola cahaya Herjules. Jurus bola cahaya Herjules mampu menembus jurus Racun Setan dan menghantam kepala kala jengking.
"BLEEDAAARRR...!" Benturan itu menimbulkan ledakan dahsyat. Kepala kala jengking hancur berkeping-keping terkena pukulan jurus bola cahaya Herjules.
Revu terpana melihat kejadian di hadapannya. Ia tidak menyangka Herjules memiliki kekuatan sebesar itu.
"Kau benar-benar Hebat, Herjules," puji Revu. "Dengan kekuatan seperti itu, kau pasti bisa mengalahkan Darcon."
"Untuk saat ini, sebaiknya kau simpan dulu pujianmu. Aku memang memiliki beberapa jurus hebat. Namun, Darcon juga sangat kuat. Konon, ia bahkan tidak bisa dibunuh," kata Herjules.
Herjules dan Revu melanjutkan perjalanan untuk mencari Yofam. Di tengah hutan, mereka melihat sebuah rumah.
"Aneh, di tengah hutan ada rumah," kata Yofam.
"Ya. Ayo kita lihat. Siapa pemilik rumah itu."
Herjules mengetuk pintu rumah itu. Tidak ada yang membuka pintu. Herjules kembali mengetuk pintu hingga beberapa kali.
"Hai, siapa kalian?!"
Herjules dan Revu terkejut. Mereka mengedarkan pandangannya ke sekitar mencari sumber suara. Namun, mereka tidak menemukan pemilik suara tersebut.
Seseorang melompat turun dari atas pohon. Orang itu berpakaian serba hitam. Orang itu memiliki wajah yang menyeramkan. Dagunya runcing dan hidungnya panjang. Rambutnya berwarna merah mengarah ke belakang. Matanya hitam pekat. Tangan kanannya memegang tongkat berkepala naga.
"Aku Herjules dan ini temanku, Revu," kata Herjules memperkenalkan diri.
"Apa keperluanmu datang ke sini?"
"Kami hanya ingin bertanya. Apakah kau mengenal Yofam?"
"Akulah Yofam."
"Kau Yoram?"
"Ya. Sekarang cepat sebutkan apa tujuanmu mencariku."
"Aku hanya ingin bertanya di mana Darcon berada?"
"Darcon? Aku tahu tempat tinggalnya."
"Bisakah kau memberi tahu kami?"
"Bisa. Tapi, ada syaratnya."
"Apa?"
"Beri aku darah manusia."
__ADS_1
"Syarat itu tidak masuk akal. Aku bisa membayarmu dengan tiga ribu koin emas jika kau bersedia memberi tahu kami."
"Aku tidak butuh koin emas. Koin emas tidak akan bermanfaat di tengah hutan seperti ini" tolak Yofam.
"Dengan koin itu, kau bisa pindah ke kota dan membangun bisnis di sana," timpal Revu.
"Siapa kau berani menasihatiku? Terima ini sebagai ganjaranmu," kata Yofam sambil mengarahkan tongkatnya ke arah Revu. Tongkat itu menembakkan sinar ungu ke arah Revu. Tiab-tiba Revu berubah menjadi seekor katak. Yofam telah menyihir Revu menjadi seekor katak.
"Kau tidak seharusnya menyihir temanku."
"Aku juga akan menyihirmu jika kau tidak memberiku darah manusia," ancam Yofam.
"Aku tidak bisa memberimu darah manusia. Kembalikan temanku ke wujud asalnya," pinta Herjules.
"Haa... haa... haa... Memangnya apa yang akan kau lakukan jika aku tidak mengembalikan temanmu?"
"Aku akan menyihirmu menjadi siput."
"Haa... haa... ha... Jangan bermimpi. Justru aku yang akan menjadikanmu siput. Bim sala bim. Aba kadabra! Jadilah kau seekor siput!" kata Yofam sambil menembakkan sinar ungu dari tongkatnya ke arah Herjules.
"Swooshh...!" Sinar itu mengenai tubuh Herjules. Namun, sianar itu tidak menimbulakn reaksi terhadap Herjules.
"Hah? Di tidak berubah menjadi siput?" tanya Yofam terkejut.
Ia kembali menyihir Herjules. Namun, Usahanya tetap tidak membuahkan hasil.
"Kau masih ingin mencoba lagi?" tanya Herjules.
"Kau jangan senang dulu. Kalau aku tidak bisa menyihirmu, maka aku akan menghancurkanmu," kata Yofam penuh kemarahan.
Yofam mengeluarkan tenaga dalamnya. Matanya berubah menjadi merah.
"Graaaa...!" Yofam berteriak. Badannya berubah menjadi serigala sebesar sapi.
Mata serigala itu merah menyala. Taringnya yaang panjang siap mencabik-cabik Herjules.
Serigala itu melompat dan menerkam Herjules.
Herjules melompat dan menendang serigala yang melompat ke arahnya.
"DUAAAKK...!" Tendangan Herjules mendarat tepat di kepala serigala itu.
Serigala itu terpental membentur pohon sebesar drum. Pohon itu patah karena tidak kuat menahan benturan badan serigala yang sekeras baja.
Serigala itu merasa kepalanya sangat pusing. Ia berubah menjadi manusia kembali.
"Aku menyerah," kata Yofam.
Sekarang, kembalikan temanku," perintah Herjules.
"Baik."
"Aba kadabra. Kembalilah ke wujud asalmu!" kat Yofam sambil mengarahkan tongkatnya ke arah Revu.
__ADS_1
Revu telah kembali menjadi manusia.