Dewa Heras Dan Herjules

Dewa Heras Dan Herjules
Berpisah


__ADS_3

Malam ini bulan bersinar dengan cukup terang. Aku dan Tika berdiri tidak jauh dari tenda.


"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanyaku.


"Aku mau menantangmu berlomba memasak," jawab Tika.


"Berlomba memasak?"


"Ya. Kalau masakanmu lebih enak dari masakanku, kamu boleh mendekati Andika. Tapi, jika sebaliknya, kamu harus menjauhi Andika," jelas Tika.


Sebenarnya aku tidak perlu menerima tantangan Tika karena Tika tidak memiliki hak untuk melarangku mendekati Andika. Apalagi ia bukan siapa-siapanya Andika. Tapi, tidak ada salahnya aku menerima tantangannya meski aku tidak pandai memasak.


Bella terkejut ketika aku memberitahunya bahwa aku akan berlomba memasak dengan Tika.


"Sebaiknya kamu meminta Radit untuk mengajarimu memasak," saran Bella.


"Selama ini aku berusaha menjauhi Radit. Kalau aku meminta bantuannya, itu sama halnya aku memberinya kesempatan untuk mendekatiku," kataku.


"Dalam keadaan mendesak seperti ini, nggak ada pilihan lain selain meminta bantuan Radit."


Dengan terpaksa, aku akhirnya menemui Radit untuk meminta bantuannya.


"Dengan senang hati," kata Radit ketika aku memintanya untuk mengajariku memasak. "Kamu mau belajar memasak apa? Bakso, sate, ayam panggang atau nasi goreng?" tanya Radit.


"Aku mau belajar membuat singkong goreng."


"Oke. Aku akan mengajarimu cara membuat singkong goreng yang sangat enak. Singkong goreng yang berbeda dari singkong goreng biasa. Singkong goreng yang membuat siapapun tidak akan bisa melupakan kelezatannya. Tapi , ada syaratnya."


"Apa?"


"Kamu harus menjadi pacarku."

__ADS_1


"Aku nggak mau."


"Kalau kamu nggak mau, aku nggak akan mengajarimu membuat singkong goreng."


"Aku akan belajar dari orang lain," kataku seraya melangkah pergi.


"Oke. Oke. Aku akan mengajarimu cara membuat singkong goreng," kata Radit yang membuat langkahku berhenti.


Radit memulai mengajariku membuat singkong goreng. Aku mencatat pelajaran yang diberikan Radit. Setelah Radit selesai mengajariku, aku segera kembali ke tenda. Di tenda, Bella sudah menyiapkan singkong. Singkong itu sudah di kupas.


"Siapa yang mencarikan singkong?" tanyaku heran.


"Edo," jawab Bella.


"Dia kok mau mengambilkan singkong malam-malam begini?"


Bella tersenyum.


Aku segera membuat bumbu. Setelah selesai membuat bumbu, aku merebus singkong bersama bumbu yang sudah kubuat. Aku merebus singkong selama dua puluh menit. Setelah direbus, singkong-singkong itu digoreng. Singkong yang sudah digoreng berwarna kuning keemasan. Aku mencicipi singkong itu. Aku terkejut. Singkong ini rasanya enak sekali. Aku belum pernah memakan singkong goreng seenak ini. Bellapun berpendapat yang sama setelah mencicipi singkong gorengku.


"Dengan singkong seenak ini, kamu pasti akan menang," kata Bella.


"Ya. Semoga saja."


Sepuluh orang telah berkumpul di depan tenda. Mereka akan menjadi juri dalam lomba ini. Aku dan Tika segera menghidangkan singkong goreng kami.


"Silahkan dicicipi," kataku mempersilahkan.


Mereka segera mencicipi singkong goreng kami.


"Bagaimana? Singkong siapa yang paling enak?" tanyaku.

__ADS_1


"Singkong Lisa lebih enak daripada singkong goreng Tika," kata Eko. Pendapat Eko disetujui oleh semua yang hadir.


"Ya. Singkong goreng Lisa lebih enak daripada singkong goreng Tika," timpal Edo.


"Bohong! Kalian pasti berbohong!" kata Tika.


"Kenapa tidak kamu mencoba sendiri?" tanya Eko.


Penasaran dengan pendapat mereka, Tika mencicipi singkong gorengku.


"Ini nggak mungkin. Bagaimana mungkin kamu bisa membuat singkong goreng seenak ini? Kamu 'kan nggak bisa masak?" tanya Tika.


"Aku tadi belajar membuat singkong goreng sama Radit," kataku seraya melirik ke arah Radit yang dibalas dengan senyuman.


"Baiklah. Aku mengaku kalah. Sekarang kamu boleh mendekati Andika. Aku nggak akan mengganggumu lagi."


Suasana menjadi hening. Bella mempersilahkan kepada semua orang yang hadir untuk menikmati hidangan singkong goreng.


****


Setiap ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Hari ini aku akan berpisah dengannya. Aku berharap di hari terakhir ini, dia datang menemuiku. Namun, ia tak kunjung menemuiku. Aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Ia tampak sibuk membongkar tenda. Mungkin aku terlalu berharap kepadanya. Beberapa hari terakhir ini ia memang mendekatiku. Tapi, itu bukan berarti ia suka kepadaku.


Setelah mengemasi tenda, kami segera berangkat menuju ke mobil yang akan menjemput kami. Ketika kami sudah tiba di lokasi penjemputan, tiba-tiba Andika datang menemuiku.


"Lis, aku cuma mau ngasih ini," kata Andika seraya memberikan sebuah kotak. Aku mengambil benda itu.


"Itu adalah kenang-kenangan dariku. Aku nggak tau apakah kita bisa bertemu lagi atau nggak."


Aku hanya terdiam tanpa bisa berkata-kata. Entah kenapa ucapan Andika membuatku merasa sedih. Ini bukanlah yang aku harapkan. Yang kuharapkan adalah janji Andika untuk menemuiku lagi.


"Ya udah. Aku berangkat. Semoga kita bisa bertemu lagi," kata Andika lalu beranjak pergi.

__ADS_1


Entah kenapa tiba-tiba aku ingin menangis. Namun, aku berusaha menahan air mataku agar tidak keluar membasahi pipiku.


__ADS_2