
Sembilan tahun telah berlalu. Rumah mertuaku sudah mengalami banyak perubahan. Lantainya yang dulu terbuat dari ubin, kini sudah diganti dengan keramik berwarna putih. Dinding depan sudah berjendela kaca. Dinding kayunya juga sudah diganti dengan beton bercat hijau muda. Beberapa tanaman hias dalam pot plastik berwarna hitam tampak menghiasi teras samping rumah. Sementara teras depan dibiarkan kosong tanpa tanaman. Teras rumah hanya berlantai ubin sama dengan lantai dapur.
Aku menyempatkan diri berkunjung ke sawah. Sawah mertuaku terletak tepat di bawah bukit. Padi di sawah sudah berbuah. Mungkin satu bulan lagi akan menguning. Melihat sawah ini membuatku teringat masa-masa sulit yang ku alami delapan tahun yang lalau.
Satu tahun setelah aku menikah, aku di-PHK oleh perusahaan tempatku mencari nafkah. Setelah di-PHK, aku dan isteriku yang sedang hamil, pindah ke desa. Di desa, aku belajar bertani. Kupikir, bertani adalah cara terbaik untuk keluar dari masalah. Ternyata dugaanku salah. Ternyata bertani tidak semudah yang terlihat. Bertani memang terlihat sederhana dan praktis karena hanya menanam tanaman dan memanen hasilnya. Namun, pada kenyataannya, banyak kendala yang ku alami, seperti hama dan hujan berkepanjangan. Hujan yang turun setiap hari membuat tanaman Lombokku mati. Akibatnya aku mengalami kerugian.
__ADS_1
Setelah aku gagal menanam lombok, aku menanam padi di sawah mertuaku. Sawah mertuaku tidak cukup luas sehingga hasilnya tidak mencukupi untuk biaya hidup sehari-hari. Untuk menyambung hidup, aku bekerja sebagai kuli bangunan. Bekerja sebagai kuli bangunan sangat berat. Setiap hari aku harus membuat adonan semen menggunakan mesin molen. Meski sangat berat, namun aku berusaha tetap bertahan. Tiga bulan kemudian, isteriku mendapatkan pekerjaan di kota sebagai pelayan toko emas. Kamipun kembali ke kota. Di kota, aku bekerja sebagai tukang kebun di sebuah rumah sakit. Bekerja sebagai tukang kebun juga sangat melelahkan. Pada suatu hari, rumah sakit membuka lowongan pekerjaan sebagai Satpam. Aku mencoba melamar pekerjaan sebagai Satpam.
Di luar dugaan, aku diterima bekerja sebagai Satpam. Ternyata bekerja sebagai Satpam tidak semudah yang kubayangkan. Bekerja sebagai Satpam, aku mendapatkan tekanan yang sangat berat dari atasan dan seorang senior. Seniorku tidak suka dengan keberadaanku. Ia berusaha menekanku agar aku mengundurkan diri. Namun, aku tetap bertahan semampuku.
Setelah dipecat, aku berjualan pentol. Lima bulan kemudian, usahaku bangkrut. Isteriku menyarankanku untuk mengikuti pendidikan Satpam. Aku menolak saran isteriku karena usiaku sudah tiga puluh enam tahun. Untuk menjadi Satpam, maksimal seseorang harus berusia tiga puluh lima tahun.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, kamu ikut pendidikan aja, Mas. Siapa tahu berguna," saran isteriku lagi.
Aku akhirnya mengikuti pendidikan Satpam. Untuk bersekolah Satpam, aku harus membayar uang pendaftaran sebesar empat juta rupiah. Aku berharap masih bisa mendapatkan kesempatan untuk menjadi Satpam setelah lulus sekolah nanti. Karena jika tidak, aku akan mengalami kerugian karena sudah mengeluarkan uang sebanyak itu.
Bersekolah Satpam ternyata lebih berat dari yang kubayangkan. Di hari pertama, kami disuruh berjalan jongkok sejauh dua ratus meter. Di sekolah SMP, aku pernah disuruh guru berjalan jongkok karena aku terlambat masuk kelas. Namun, saat itu aku hanya disuruh berjalan jongkok sejauh dua puluh meter.
__ADS_1