Dewa Heras Dan Herjules

Dewa Heras Dan Herjules
Jengkel


__ADS_3

Sinta sebenarnya sudah merasa sangat lelah. Tadi sore, sepulang sekolah, Sinta tidak bisa langsung pulang. Indra memintanya untuk belajar melukis di rumahnya. Dan malam ini, Sinta harus belajar melukis lagi di rumah Dando.


"Hooaammm..." Sinta menguap.


Sinta berusaha menahan kantuk yang mendera. Ia tidak ingin gagal dalam mewujudkan impiannya. Ia harus kuat.


"Kemampuanmu dalam melukis sudah ada kemjuan. Tapi, kamu harus lebih giat belajar karena kita hanya memiliki waktu seminggu untuk belajar. Besok malam, waktu belajarmu akan kutambah satu jam," kata Dando.


"Ditambah satu jam?"


"Iya."


"Berat sekali. Tidak ditambah saja aku sudah lelah sekali."


"Aku hanya memberi saran. Tapi, sebaiknya kamu ikuti saranku. Mumpung ada yang mau mengajari."


Apa yang dikatakan Dando ada benarnya. Selama ini ia telah mendapatkan ilmu melukis secara cuma-cuma. Ia tidak boleh melewatkan kesempatan ini.


Hari perlombaan telah tiba. Sinta segera ke rumah Dando. Ia akan berangkat bareng Dando ke gedung kesenian untuk mengikuti perlombaan.


"Tokk...Tokk... Tokk..!" Sinta mengetuk pintu rumah Dando. Namun, Dando tidak kunjung membuka pintu.


'Tumben,' batin Sinta. Biasanya Dando akan segera membuka pintu ketika Sinta mengetuk pintu. Sinta mencoba mengetuk pintu hingga beberapa kali. Namun, tetap saja Dando tidak membuka pintu.


Sinta mencoba menelpon Dando.


"Halo," jawab Dando di seberang.


"Dan, kamu di mana?" tanya Sinta.


"Aku sudah di gedung kesenian."


"Kamu meninggalkan aku?"


"Iya. Maaf, ya, Kak. Soalnya Dando sudah tidak sabar ingin melihat perlombaannya."


"Ooh.. Ya sudah." Sinta menutup telponnya.


'Tunggu pembalasanku, Dando,' sungut Sinta. Ia merasa jengkel karena Dando telah meninggalkannya.


Sinta telah tiba di halaman gedung kesenian. Ia melihat seorang laki-laki sedang merayu seorang gadis.


"Yulia, kamu adalah wanita idamanku. Aku mencintaimu sejak pandangan pertama," kata laki-laki itu.


"Aku tidak kenal kamu. Dasar gila!" maki gadis itu.


"Aku memang gila. Aku gila karena dirimu, cintaku."


Gadis itu melangkah meninggalkan laki-laki itu. Tiba-tiba laki-laki itu memeluk gadis itu.


"Apa-apaan kamu. Lepaskan!" teriak gadis itu.


"Aku tidak akan melepaskanmu, sayang. Kamu adalah milikku," kata laki-laki itu mempererat pelukannya.


"Tolooong...!" teriak gadis itu sambil meronta-ronta.


'Apa laki-laki itu sudah gila?' batin Sinta.


"Mbaaak...! Tolong aku...!" teriak gadis itu kepada Sinta.


Sinta segera berlari ke arah gadis itu.


"Ada apa, Mbak?" tanya Sinta.


"Tolong aku, Mbak. Dia mau memperkosaku!"

__ADS_1


"Mas, lepaskan dia!" kata Sinta seraya menarik lengan gadis itu.


"Kamu jangan ikut campur!" bentak laki-laki itu.


Sinta tidak peduli. Ia berusaha membantu melepaskan gadis itu dari pelukan laki-laki misterius itu.


Sinta berhasil melepaskan gadis itu dari pelukan laki-laki itu.


"Lari, Mbak!" kata gadis itu begitu ia terlepas dari pelukan laki-laki itu.


Sinta dan Sinta berlari dari laki-laki itu. Setelah dirasa cukup jauh dari laki-laki itu, mereka berhenti.


"Terimakasih, Mbak," kata gadis itu dengan nafas terengah-engah.


"Sama-sama. Siapa laki-laki itu?" tanya Sinta juga dengan nafas yang masih memburu.


"Aku tidak kenal, Mbak. Tiba-tiba dia mengatakan kalau dia mencintaiku. Ketika kutolak, dia malah memelukku," tutur gadis itu.


"Mungkin dia orang gila."


"Iya, mungkin."


"Ya sudah. Aku duluan, ya," kata Sinta.


"Iya, Mbak."


Sinta berjalan menuju pintu masuk.


"Hei nona cantik," kata seorang laki-laki.


Sinta terkejut. Laki-laki itu adalah laki-laki yang tadi memeluk gadis yang ia tolong tadi.


"Mau ke mana?" tanya laki-laki itu.


"Ooo.. Kamu bisa melukis?"


"Iya."


"Wah, selain cantik, kamu juga bisa melukis, ya."


"Maaf, saya sedang terburu-buru. Permisi," kata Sinta, kemudian berjalan.


"Eh, tunggu." Laki-laki itu menghadang Sinta.


Jantung Sinta berdegub kencang. Keringat dingin keluar dari pelipisnya. Ia sangat ketakutan. Laki-laki itu tersenyum. Sinta memperhatikan laki-laki itu. Laki-laki itu masih sangat muda. Usianya mungkin hanya satu atau dua tahun lebih tua dari usianya. Laki-laki itu berkulit putih dan berwajah cukup tampan. Rambutnya lurus menutupi dahi, mirip bintang film korea.


"Kamu mau apa?" tanya Sinta.


"Aku mau berbicara sesuatu."


Sinta diam. Matanya melirik ke sekitar. Aneh. Mengapa tidak orang di sekitar tempat ini? pikirnya.


"Aku mau berbicara kalau aku suka kepadamu," kata laki-laki itu lagi.


"Mengapa kamu suka kepadaku?" tanya Sinta. Sinta mencoba mengulur waktu hingga ada orang yang lewat.


"Karena kamu sangat cantik."


"Jadi, kamu suka kepadaku karena aku cantik?"


"Iya. Maukah kamu menjadi pacarku?"


"Tapi, kita belum saling mengenal. Bagaimana mungkin kita berpacaran tanpa saling mengenal?"


"Betul juga. Kalau begitu. Kenalkan. Aku Romeo," kata Romeo sambil mengulurkan tangan.

__ADS_1


Sinta terdiam. Ia ragu apakah ia harus menjabat tangani pria itu atau tidak. Ia takut Romeo akan menariknya ke dalam pelukannya ketika ia menjabat tangani Romeo.


"Aku Sinta," kata Sinta sambil menjabat tangani Rome.


Ia sudah siap dengan segala kemungkinan. Ia pernah membaca buku bahwa kelemahan laki-laki adalah bagian bawah perutnya. Ia akan menendang bagaian bawah perut Romeo jika ia akan memeluknya.


"Sekarang kita sudah kenal. Apakah kamu mau menerima cintaku?"


"Maafkan aku, Romeo. Aku tidak bisa menerima cintamu?" jawab Sinta.


"Kenapa? Bukankah tadi kamu bilang kalau kamu mau berpacaran denganku kalau kita sudah saling mengenal?" protes Romeo.


"Aku tadi tidak berjanji akan menerima cintamu setelah kita saling kenal."


"Jadi, kamu membohongiku?"


"Tidak."


"Kalu begitu kamu harus menerima cintaku."


"Romeo, cinta tidak bisa dipaksa."


"Kamu benar. Cinta memang tidak bisa dipaksa. Tapi, aku yakin. Kamu pasti mencintaiku."


"Kamu salah. Aku tidak mencintaimu."


"Kamu yang salah, Sinta. Kamu pasti mencintaiku. Tidak ada seorang gadispun yang bisa menolak laki-laki setampan aku," kata laki-laki itu penuh percaya diri.


"Tapi, aku sudah punya pacar," bohong Sinta.


Sinta terpaksa berbohong agar Romeo tidak lagi memaksanya.


"Oh, ya? Siapa pacarmu?"


"Dando."


"Aku tidak peduli. Kamu harus menjadi pacarku," kata Romeo.


Tiba-tiba Romeo memeluk Sinta. Sinta menginjak kaki Romeo.


"Aduh...!" teriak Romeo kesakitan.


Reome melepaskan pelukannya. Sinta berlari masuk ke dalam gedung kesenian.


'Untung aku berhasil meloloskan diri,' batin Sinta.


Sinta bepapasan dengan seorang gadis cantik.


"Selamat pagi, Mbak," sapa gadis itu.


"Selamat pagi," jawab Sinta.


"Mau ke mana?"


"Mau mengikuti lomba."


"Kenalkan. Namaku Dewi kalau memakai pakaian wanita, kalau memakai pakaian pria, namaku Dewa," kata gadis itu.


Sinta terkejut. Suara gadis itu berubah menjadi suara laki-laki ketika menyebutkan nama Dewa. Dia waria, batin Sinta. Tapi, dia terlihat cantik. Siapapun tidak akan menyangka kalau dia waria.


"Aku Sinta."


"Bagaimana penampilanku? Apakah aku terlihat cantik?"


"Ya, kamu cantik sekali."

__ADS_1


__ADS_2