Dewa Heras Dan Herjules

Dewa Heras Dan Herjules
Sarapan


__ADS_3

Bunyi alarm membangunkanku dari mimpi indahku. Aku melemparkan selimutku ke sembarang arah. Aku segera mandi, berpakaian seragam sekolah dan sarapan. Aku sarapan bersama orang tua dan adikku. Pagi ini, kami sarapan nasi goreng.


"Cuma nasi goreng, Ma?" tanyaku sambil menatap wakul berisi nasi goreng. Seketika nafsu makanku menjadi hilang. Bukannya aku tidak suka nasi goreng. Namun, aku tahu kalau mama kurang pandai membuat nasi goreng. Nasi goreng buatan mama tidak seenak nasi goreng yang biasanya kubeli di warungnya pak Suroso.


"Iya. Mama bangun agak kesiangan. Jadi, mama nggak sempat memasak sayur dan lauk," kata mama seraya mengambil nasi. Kulihat papa dan Putri, adikku, sudah mulai makan.


"Bi Anah ke mana?" tanyaku. Bi Anah adalah pembantu di rumahku. Ia sudah bekerja di rumahku sejak aku masih bayi. Ia sudah kami anggap seperti saudara kami sendiri.


"Bi Anah lagi sakit," jawab Mama setelah menelan nasi terlebih dahulu karena ia tidak mungkin berbicara sambil mengunyah makanan.


"Ayo cepat makan nanti kamu telat masuk sekolah," kali ini papa yang bersuara karena aku tak kunjung sarapan.


"Nggak selera makan, Pa."


"Kenapa? Masakan mama nggak enak, ya?" tanya papa sambil meraih gelas berisi air putih di depannya.


Aku diam. Aku tidak enak kepada mama jika aku menjawab "ya".

__ADS_1


"Dicoba dulu. Kamu jangan mengira makanan mama nggak enak sebelum kamu coba," kata mama.


"Iya, kak. Coba dulu sedikit. Kalau nggak enak, nggak usah dimakan," saran Putri. Nasi di piringnya tinggal setengah.


Papa mengambil nasi lagi karena nasi di piringnya sudah habis.


"Syukuri yang ada, Lis. Dulu papa pernah makan hanya dengan garam dan bawang mentah," kata papa memberi nasihat.


"Dengan bawang mentah? Gimana rasanya?" tanyaku terkejut.


"Rasanya enak karena perut papa sangat lapar."


Aku mulai menyuap nasi. Aku terkejut. Nasi goreng ini rasanya enak sekali.


"Nasi goreng ini beneran mama yang masak?" tanyaku.


"Kalau bukan mama, siapa lagi?" mama balik bertanya.

__ADS_1


"Kenapa, Kak?" tanya Putri, lalu menyuap nasi. Itu adalah suapan yang terakhir.


"Rasanya enak sekali kayak nasi goreng buatan pak Suroso," jawabku.


"Ya. Mama sekarang sudah bisa membuat nasi goreng yang enak," ujar papa sambil mengelap bibirnya dengan tisu. Papa sudah selesai makan.


"Nasi goreng seperti ini kalau dijual pasti laku. Mama belajar dari mana?" tanyaku lagi.


"Mama belajar dari Lu Tube," jawab mama sambil menumpuk piring kotor miliknya, adikku dan papa.


"Wah, mama hebat!" pujiku.


"Iya, siapa dulu, dong. Mama...!" jawab mama bangga.


Selesai sarapan, aku meminta ijin kepada orang tuaku untuk mengikuti Pramuka. Saat sarapan adalah saat yang tepat untuk meminta ijin karena orang tuaku sangat sibuk. Sebagai karyawan kantor, orang tuaku sering bekerja hingga malam hari.


"Pa, Ma, Lisa mau mengikuti kegiatan pramuka," kataku.

__ADS_1


"Kapan?" tanya papa.


"Bulan depan."


__ADS_2