Dewa Heras Dan Herjules

Dewa Heras Dan Herjules
Mengenal Tanaman


__ADS_3

Pagi yang cerah. Daun-daun tampak basah terkena embun. Burung-burung berkicau di atas dahan. Matahari belum terlihat karena terhalang gunung. Semua anggota pramuka tampak sibuk memasak. Di kejauhan, aku melihat Rangga sedang memasak sesuatu. Asap putih mengepul ke udara karena kami memasak menggunakan kayu bakar. Sesekali pandangan kami saling bertemu. Entah kenapa, darahku berdesir setiap kali kami bertemu pandang.


Rangga adalah laki-laki yang sangat tampan. Kulitnya putih. Rambutnya lurus, hidungnya mancung dan bibirnya merah muda.


Aku menyulut kayu bakar di tungku yang sebelumnya sudah kusiram dengan minyak tanah. Setelah api menyala, aku menggantungkan panci di atasnya. Ini adalah cara memasak yang paling mudah di alam bebas.


Kami sarapan dengan lauk mi instan dan ikan sarden. Selesai sarapan, kami berkumpul.


"Kegiatan kita pagi ini adalah mengenal tanaman di sekitar kita," kata Kak Daryo. "Kelompok Kupu-kupu dipimpin oleh Kak Tony. Kelompok Serigala akan dipimpin oleh Kak Azis. Kelompok Kancil dipimpin oleh Kak Bagas."


Anggota dibagi menjadi sembilan kelompok. Kak Daryo mengumumkan nama-nama yang akan memimpin mereka. Kelompokku, kelompok Kelinci, dipimpin oleh Kak Fendi.


Kak Fendi membawa kelompok kami berjalan menyusuri lahan kosong. Sepertinya lahan ini sudah lama tidak digarap karena ladang ini ditumbuhi rumput yang cukup tebal dan semak-semak.


"Aduh!" pekikku.


"Ada apa, Lis?" tanya Susi cemas.


"Kakiku terkena duri."

__ADS_1


"Hati-hati. Di sini banyak tumbuhan putri malu. Putri malu adalah tumbuhan menjalar. Batangnya dipenuhi duri-duri kecil yang tajam," jelas Kak Fendi.


Aku menyentuh daun putri malu. Daun itu langsung menutup seperti daun layu ketika kusentuh.


"Nggak nyangka tumbuhan pemalu seperti ini ternyata bisa melukai orang," kata Bella.


"Ya. Kita bisa belajar dari putri malu. Kita jangan pernah meremehkan orang yang terlihat lemah. Karena boleh jadi, orang itu ternyata lebih hebat daripada kita," kata Kak Fendi.


Kami melanjutkan perjalanan. Kami berhenti di suatu tempat yang dipenuhi tumbuhan berdaun sempit dan panjang.


"Ini adalah tumbuhan ilalang. Tumbuhan ini bisa digunakan untuk atap rumah dan juga bisa digunakan untuk mengikat bibit padi," jelas Kak Fendi lagi.


Seorang laki-laki seusia kami berjalan ke arah sebuah pohon. Dengan menggunakan penjuluk, ia memetik buah pohon itu. Buah pohon itu berbentuk sepiral dan berwarna cokelat.


"Itu pohon apa, Kak?" tanyaku.


"Itu adalah pohon jengkol," jawab Kak Fendi sambil memperhatikan pohon itu.


Pohon itu tumbuh di tepi jurang. Sepertinya pohon itu tumbuh dengan sendirinya. Jika dugaanku benar, berarti pohon jengkol adalah tumbuhan hutan.

__ADS_1


"Aku nggak suka makan jengkol karena bikin air seni menjadi bau," kata Dewi.


"Ya. Jengkol memang bisa membuat air seni menjadi berbau jengkol. Tapi, tetap saja buah jengkol disukai oleh banyak orang termasuk kakak."


"Aku juga suka," sahut Eko.


Kami kembali berjalan menyusuri tempat ini. Kali ini kami menemukan tumbuhan unik. Tumbuhan ini mirip tanaman terung. Namun, batangnya berduri. Buahnya berbentuk bulat sebesar kelereng dan berwarna hijau senada dengan batang dan daunnya.


"Kalian tahu tumbuhan apa ini?" tanya Kak Fendi.


"Enggak," jawab kami.


"Ini adalah terung pokak. Terung ini banyak kita temukan di lahan kosong dan hutan," jelas Kak Fendi.


"Apakah buahnya bisa dimakan?" tanyaku.


"Tentu. Buah pokak sangat enak dibuat sayur tumis karena memiliki cita rasa yang khas. Buah pokak juga bisa dimakan mentah untuk lalap. Nanti kalian bisa mencoba memasak buah pokak untuk makan siang."


Tak terasa, matahari sudah tinggi. Sinarnya yang semula hangat, berubah menjadi terik dan terasa membakar tubuh. Kami kembali ke kemah untuk beristirahat. Aku dan Bella kembali kembali ke tempat yang terdapat pohon pokak tadi untuk memetik buahnya. Kami penasaran dengan rasa buah pokak itu.

__ADS_1


__ADS_2