Dewa Heras Dan Herjules

Dewa Heras Dan Herjules
Kau Ternyata Menyukaiku


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama empat jam, akhirnya bus yang kami tumpangi tiba di sekolah. Kulihat mobil sedan berwarna putih sedang diparkir di depan gerbang sekolah. Itu adalah mobil papa. Aku segera menuju mobil papa.


Papa keluar dari mobil dan membuka bagasi. Aku memasukkan tas ranselku ke dalam bagasi. Setelah memasukkan tas ranselku ke dalam bagasi, aku masuk ke dalam mobil.


Papa segera menjalankan mobilnya.


"Gimana kemahnya?" tanya papa.


"Sangat menyenangkan, Pa. Pemandangan di desa sangat bagus," jawabku.


Aku melihat keluar jendela. Berbagai macam jenis dan merk kendaraan tampak memadati jalan. Ini sangat jauh berbeda dengan keadaan di desa yang sepi dan tentram. Tak terasa mobil papa sudah sampai di rumah.


"Assalamualaikum." Aku mengucapkan salam sambil membuka pintu. Kulihat mama sedang duduk di ruang tamu.


"Waalaikum salam. Anak mama sudah pulang," kata mama, lalu beranjak menyambut kedatanganku. Aku mencium tangan mama.


"Makan dulu, gih. Mama sudah masakin masakan kesukaanmu, tumis kacang dan udang goreng."


Kata-kata mama membuat air liurku keluar. Seketika perutku menjadi semakin lapar.


"Masa? Aku sudah kangen sama masakan mama."


"Kangen sama masakan mama aja? Nggak kangen sama mama?" tanya mama sambil tersenyum geli.


"Ya kangen sama mama juga, dong."


"Ya udah. Cepat makan."


Aku segera berganti pakaian, mandi, lalu makan siang. Aku makan dengan lahap karena sangat lapar. Setelah makan, aku pergi ke kamar. Badanku memantul beberapa kali ketika aku menghempaskan badanku ke ranjang yang empuk. Aku menetap langit-langit berwarna biru sambil mengenang kejadian di perkemahan. Itu adalah kejadian yang sangat mengesankan yang tidak akan pernah kulupakan sepanjang hidupku. Aku tersenyum ketika teringat seseorang. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku segera duduk dan meraih ranselku. Aku mengambil sebuah kotak dari dalam ransel.


Aku merobek kertas bermotif bunga yang membungkus kotak itu. Kotak itu berisi sebuah buku diary. Aku membuka buku itu. Di buku itu terdapat tulisan tangan yang rapi.


*Dear, Lisa


Hai, Lisa. Melalui buku ini, aku ingin mengungkapakan perasaanku. Sejak pertama kali melihatmu, aku selalu terbayang wajahmu. Aku tidak menyangka, di perkemahan itu, aku akan melihat gadis secantik dirimu. Bagiku, kau adalah wanita yang paling istimewa.

__ADS_1


Lisa, aku selalu terbayang wajahmu. Jika aku melihat bulan, yang kulihat bukanlah bulan, melainkan wajahmu karena wajahmu seindah bulan.


Sebenarnya, aku ingin segera memilikimu. Namun, untuk saat ini aku tidak bisa menemuimu. Aku beharap pada suatu saat nanti, kita akan bertemu kembali.


Andika*


Aku menarik nafas. Aku sangat bahagia karena orang yang kucintai juga mencintaiku. Namun, aku juga harus menerima kenyataan pahit karena Andika tidak bisa menemuiku. Aku tidak tahu sampai kapan aku harus menunggu kedatangannya karena ia tidak memberi tahu kapan dia akan menemuiku.


Aku kembali merebahkan badanku di atas ranjang. Tidak lama kemdian, aku tertidur.


Aku terbangun ketika hari sudah malam. Setelah melaksanakan sholat maghrib, aku ke ruang makan karena perutku sudah keroncongan. Setelah makan malam, aku ke ruang tamu. Di sini, mama dan papa sedang duduk menonton TV sembari menikmati secangkir kopi dan camilan singkong goreng.


"Sudah bangun, sayang?" tanya papa.


"Iya, Pa," jawabku. Wajahku memerah karena malu.


"Kamu pasti kecapekan, ya?" tanya mama sambil mencomot singkong goreng.


"Iya, Ma," jawabku sambil melihat singkong goreng di atas meja. Singkong goreng itu berwarna kuning keemasan dan terlihat enak. Aku mengambil satu potong. Aku mulai memakan singkong goreng.


"Mama beli singkong goreng ini di mana?" tanyaku setelah menyelesaikan kunyahanku.


"Mama nggak beli, tapi dikasih."


"Siapa yang ngasih?"


"Radit."


Aku menghembuskan nafas.


"Radit itu teman sekelasmu, ya?"


"Iya, Ma," jawabku dengan mimik kesal.


"Oh, ya. Mama hampir lupa. Dia juga menitipkan ini ntukmu," ujar mama seraya memberikan sepucuk surat berwarna merah muda.

__ADS_1


Aku menerima surat itu, lalu membukanya. Aku membaca surat itu


Dear, Lisa


Apa kabar, Lis. Semoga kabarmu baik-baik saja. Aku sengaja memberikan singkong goreng ini untukmu. Singkong goreng ini aku sendiri yang membuat. Semoga kamu suka dengan singkong goreng buatanku. Kamu tidak perlu khawatir dengan singkong goreng pemberianku karena singkong gorengku tidak mengandung mantra pelet. He... he...


Lain kali kalau kamu ingin menikmati singkong goreng, kamu jangan sungkan-sungkan untuk menghubungiku. Aku akan dengan senang hati membuatkan singkong goreng untukmu.


Temanmu


Radit


Aku melipat surat dari Radit dan memasukkan kembali ke dalam amplop.


"Surat cinta, ya?" tanya papa sambil tersenyum.


"Bukan, Pa."


"Kalau bukan surat cinta, kenapa amplopnya berwarna merah muda?"


"Itu bukan surat cinta, Pa."


"Dilihat dari ekspresi wajahmu yang biasa-biasa aja, sepertinya itu memang bukan surat cinta. Tapi, dengan surat itu dan pemberian singkong goreng ini, sepertinya Radit menyukaimu," kata papa menganalisa.


"Dia memang suka sama Lisa. Tapi, Lisa nggak suka sama dia," jawabku.


"Yah, sayang sekali padahal dia ganteng dan sopan. Kamu tahu nggak, dulu mama juga nggak suka sama papa," kata mama.


"Masa?"


"Iya. Dulu mama benci banget sama papa karena papa sering mengganggu mama. Pada suatu hari, papa menyatakan perasaannya kepada mama, tapi mama tolak. Setelah mama menolak papa, papa nggak pernah memgganggu mama lagi. Sejak saat itu, hidup mama merasa ada yang kurang. Tiba-tiba hidup mama terasa hampa dan mama ingin diganggu papamu lagi. Akhirnya mama bilang sama papa kalau mama suka sama papa."


"Nggak ada salahnya kamu kasih kesempatan untuk Radit," saran papa.


Aku terdiam memikirkan ucapan mama dan papa. Saran mama dan papa memang baik. Namun, aku benar- benar tidak bisa menerima Radit. Aku meraih HPku dan mulai melihat Tok Tak. Aku melihat Tok Tak hingga jam delapan malam. Setelah itu, aku tidur.

__ADS_1


__ADS_2