Dewa Heras Dan Herjules

Dewa Heras Dan Herjules
Menghilang


__ADS_3

Hari tamasya telah tiba. Sinta berjalan menuju bus yang akan membawa rombongan ke Puncak. Meski hari ini adalah hari yang ia nanti-nantikan, namun hatinya terasa hampa.


"Sin, kamun sudah datang?" tanya Indra.


"Iya. Kamu naik bus yang mana?" tanya Sinta. Ia melihat ada dua bus yang akan membawa romobongan.


"Aku naik bus yang itu," kata Indra sambil menunjuk bus berwarna kuning.


"Ooo. Aku juga mau naik bus yang itu."


"Kamu bisa duduk di sampingku nanti."


"Iya. Aku mau membeli air mineral dulu."


Sinta berjalan ke warung di dekat sekolah. Di warung, ia melihat Dando sedang membeli makanan ringan dan minuman kaleng.


"Dando," panggil Sinta.


"Kak Sinta," kata Dando terkejut. Ia tidak menyangka akan bertemu Sinta di sini.


"Kamu ke mana saja selama ini?"


"Aku berlibur di desa."


"Dando, selama kamu tidak ada, aku sudah mencarimu ke mana-mana."


"Masa?" Dando tersenyum


"Iya. Aku mau memberikan jawaban atas pertanyaanmu waktu itu."


"Tidak perlu dijawab. Waktu itu Dando cuma bercanda."


"Apa? Jadi, kamu bercanda."


"Iya. He he.."


Sinta merasa sangat kecewa dengan ucapan Dando. Selama seminggu ia merasa merana. Ternyata Dando hanya bercanda.


"Ya sudah. Kakak duluan," kata Sinta, lalu berjalan meninggalkan Dando.


"Kakak tadi mau membeli apa?" kata Dando.


"Tidak jadi," kata Sinta.


"Kakak tidak mau naik satu bus dengan Dando?"


"Tidak."


Dando merasa sikap Sinta berubah menjadi dingin. 'Apa dia marah kepadaku?' tanya Dando pada dirinya sendiri.


Sinta masuk ke dalam bus. Ia duduk di samping Indra.


"Sin, sudah seminggu Dando tidak masuk sekolah. Kamu tahu kenapa?" tanya Indra.


"Aku tidak tahu."


"Apa dia tidak memberi tahumu?"


"Tidak."


"Sudah kamu telpon?"


"Sudah. Tapi, tidak diangkat."


"Sepertinya dia marah kepadamu," kata Indra.


"Mungkin. In, boleh aku duduk di dekat jendela?"


"Boleh."


Indra dan Sinta bertukar tempat. Sinta duduk di dekat jendela agar ia bisa menikmati pemandangan selama dalam perjalanan. Tiba-tiba Sinta melihat Dando sedang berjalan di samping busnya.


"Sin, itu Dando," kata Indra memberi tahu Sinta.


"Biar saja," acuh Sinta.


Indra senang melihat reaksi Sinta terhadap Dando. Itu artinya ia memiliki kesempatan untuk menjadi pacar Sinta.

__ADS_1


Bus telah berjalan. Sinta berusaha melupakan Dando. Namun, ia selalu terbayang wajah Dando.


Satu jam telah berlalu, bus telah sampai di tempat tujuan. Para rombongan segera keluar dari bus. Mereka menuju sebuah hotel.


"Sin, ayo kita masuk," ajak Indra ketika ia melihat Sinta hanya berdiri di depan hotel.


"Kamu duluan, In. Aku mau menunggu Dando."


"Menunggu Dando? Kenapa kamu mau menunggu orang yang tidak suka kepadamu?"


"Saat ini Dando memang tidak suka kepadaku. Tapi, aku yakin, suatu saat nanti dia pasti suka kepadaku."


"Ya sudah. Aku duluan."


Sinta sudah setengah jam menunggu Dando, namun bus yang ditumpangi Dando tidak kunjung Datang. Sinta masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Hari telah siang ketika Indra datang menemui Sinta dengan wajah tegang.


"Sin, bus Dando mengalami kecelakaan."


"Kecelakaan?"


"Iya. Apa Dando baik-baik aja?"


"Dando terluka. Dia sekarang di rawat di rumah sakit."


"Kalau begitu aku akan menjenguknya."


"Kamu tidak mau bareng aku saja nanti sore?"


"Tidak. Aku mau menjenguk sekarang," tolak Sinta.


"Ya sudah. Kamu hati-hati, ya."


"Iya."


Sinta segera kembali ke kotanya dengan naik bus.


Sinta telah berada di rumah sakit. Ia segera menuju kamar Dando. Di kamar Dando, sudah ada orang tua Dando.


Sinta langsung menemui Dando.


"Aku baik-baik saja. Aku hanya mengalami luka ringan di kepala."


"Syukurlah."


Setelah berada di kamar Dando selama dua jam, Dando meminta Sinta untuk pulang.


"Sin, kalau kamu mau pulang, pulang aja," kata Dando.


"Kamu tidak apa-apa kalau kutinggal?"


"Tidak. Aku akan baik-baik saja. Sebentar lagi mamaku datang."


"Baiklah. Kalau begitu, aku pulang dulu, ya."


"Iya."


Jam telah berganti jam. Hari telah berganti hari. Tanpa terasa, dua minggu telah berlalu. Hari ini Dando mengajak Sinta pergi ke bukit untuk melihat pemandangan. Ia sudah sembuh dari lukanya.


"Pemandangannya bagus sekali," takjub Sinta.


"Iya. Tapi, hari ini pemandangannya jauh lebih indah dari sebelumnya," sahut Dando.


"Oh, ya? Kenapa?"


"Karena hari ini ada Kak Sinta,"


Pipi Sinta bersemu merah.


"Kamu bisa saja," kata Sinta.


"Dan, di sana itu kebun apa?" tanya Sinta sambil menunjuk area perkebunan.


"Itu kebun stroberi."


"Kamu pernah ke sana?"


"Tidak pernah. Kak Sinta mau ke sana?"

__ADS_1


"Boleh."


Mereka berjalan menuju motor mereka, lalu pergi ke kebun stroberi dengan naik motor. Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di kebun stroberi.


Kebun itu cukup luas. Tanaman stroberi sudah berbuah. Buahnya yang berwarna merah segar terlihat menggoda.


"Kita cari pemiliknya," kata Dando.


"Untuk apa?"


"Aku akan membeli buah stroberi."


Mereka berjalan menyusuri kebun. Namun, mereka tidak menemukan pemiliknya.


"Pemiliknya tidak ada. Kita pulang saja," kata Dando.


"Iya."


Mereka bejalan menuruni bukit menuju motor mereka.


"Auuuww..!" jerit Sinta tiba-tiba karena ia tergelincir.


Dando terkejut. Ia segera membantu Sinta berdiri.


"Aduh...! Kakiku sakit," kata Sinta. Ia tidak kuat berdiri.


"Mana yang sakit?" tanya Dando.


"Ini," kata Sinta sambil menyentuh pergelangan kakinya.


"Ayo. Kak Sinta kugendong saja," kata Dando, lalu berjongkok membelakangi Sinta.


Sinta sebenarnya tidak ingin menyusahkan Dando. Namun, Sinta tidak memiliki pilihan. Itu adalah satu-satunya cara agar ia bisa pulang.


Dando menggendong Sinta di punggungnya menuju motornya. Sesampainya di motornya, Dando menurunkan Sinta. Ia membantu Sinta duduk di jok belakang. Kemudian, Dando duduk di jok depan. Dando menyalakan mesin motor, lalu menjalankannya.


Sesampainya di rumah Dando, Sinta berbaring di kamar.


"Kaki Kak Sinta masih sakit?"


"Masih."


"Tunggu sebentar, ya. Dando belikan obat dulu."


"Iya."


Dando segera pergi ke toko obat untuk membeli obat. Tidak beberpa lama kemudian, ia telah kembali.


Dando mengoleskan obat itu ke kaki Sinta.


"Kak Sinta istirahat dulu, ya. Dando mau mandi."


"Iya."


Setelah mandi, Dando merasa lapar. 'Sinta pasti juga lapar,' pikir Dando. 'Aku akan pesan makanan. Tapi, kalau Kak Sinta memakan masakanku sendiri, pasti akan terasa lebih romantis,' pikir Dando lagi.


Ia segera browsing di internet untuk mencari resep makanan selama beberapa saat.


"Nah, ini dia," katanya senang. Ia menemukan resep yang terlihat unik, kolak singkong.


"Tapi, di mana aku bisa mendapatkan singkong?"


Dando ingat. Ia punya teman sekolah yang tahu di mana membeli singkong. Ia segera menelpon Risma.


Risma yang sedang membaca buku terperanjat begitu mendengar Hpnya berdering.


"Ferry," batinya.


Ia kecewa begitu mengetahui siapa yang menelpon.


"Kukira Feri. Ada apa Dando menelpon? Tumben," gumam Risma.


Risma menggeser tombol biru.


"Halo."


"Halo, Ris. Aku mau bertanya, kalau mau membeli singkong di mana, ya?" tanya Dando di seberang.

__ADS_1


__ADS_2